Sudah Dilarang Beredar oleh BPOM, Obat Lambung Ranitidin Masih Beredar Bebas di Riau

Obat lambung ranitidin khususnya untuk penggunaan injeksi, diketahui tercemar bahan berbahaya yang bisa memicu kanker.

Sudah Dilarang Beredar oleh BPOM, Obat Lambung Ranitidin Masih Beredar Bebas di Riau
internet
BPOM Pusat menginstruksikan agar obat ranitidine injeksi ditarik dari peredaran di seluruh Indonesia. 

tribunpekanbaru.com - Meski sudah dilarang beredar di tengah masyarakat oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI, namun obat sakit lambung merek Ranitidin ternyata masih beredar bebas di Riau.

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir, Rabu (9/10), tidak menampik jika obat lambung yang dilarang beredar oleh BPOM tersebut, masih dijual bebas di apotek-apotek yang ada di wilayah Riau.

Meski demikian, pihaknya sudah mengetahui adanya informasi soal Ranitidin tersebut dilarang untuk diedarkan di Indonesia.

"Di Riau (Ranitidin) masih (beredar), itu nanti Balai POM yang akan turun melakukan penarikan ke sarana pelayanan kesehatan," kata Mimi Yuliani, soal larangan peredaran obat lambung tersebut di tengah masyarakat.

"Untuk penarikan, ada yang Balai POM langsung yang melakukan penarikan, tapi ada juga apotek itu sendiri yang akan mengumpulkan dan mengembalikannya ke tempat mereka membeli," tambahnya.

Mimi menyebutkan, untuk penarikan obat itu memang menjadi ranah BPOM. Pihak apotek sendiri setelah melakukan pengumpulan obat merek ranitidine, nantinya akan dibuktikan dengan berita acara penarikan yang diserahkan ke BPOM.

"Kami akan sampaikan imbauan juga nanti ke apotek-apotek supaya tidak lagi menjual obat yang sudah dilarang oleh BPOM itu," katanya.

Selain itu, pihaknya juga sudah meminta kepada apotek untuk melakukan penarikan obat lambung merek ranitidin agar tidak dijual lagi.

Obat ini dilarang beredar di tengah masyarakat setelah BPOM menarik peredaran obat tersebut dengan alasan obat ini tercemar bahan berbahaya pemicu kanker.

"Kami mengimbau kepada apotek untuk menarik obatnya dan dikembalikan ke pihak penyuplai. Kemudian kepada masyarakat, kami juga mengimbau agar lebih berhati-hati untuk tidak lagi mengkonsumsi obat lambung jenis ini," kata Mimi.

Halaman
12
Penulis: Syaiful Misgio
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved