ARTIKEL ILMIAH

ARTIKEL ILMIAH tentang Berdayakan dan Tingkatkan Ekonomi Warga Kampung Ulau Riau melalui Gula Aren

Artikel ilmiah tentang Pemberdayaan dan Peningkatan Ekonomi Warga Kampung Ulau melalui peningkatan kualitas produksi gula aren di Kabupaten Rokan Hulu

ARTIKEL ILMIAH tentang Berdayakan dan Tingkatkan Ekonomi Warga Kampung Ulau Riau melalui Gula Aren
Tribun Pekanbaru/Istimewa/Zuratul Aini
ARTIKEL ILMIAH tentang Berdayakan dan Tingkatkan Ekonomi Warga Kampung Ulau Riau melalui Gula Aren 

PENDAHULUAN

Agroindustri sebagai salah satu subsistem penting dalam sistem agribisnis yang memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi karena pangsa pasar dan nilai tambah yang relatif besar dalam produk nasional. Sebagai penggerak pembangunan pertanian, agroindustri diharapkan dapat memainkan peranan penting kegiatan pembangunan daerah dalam sasaran pemerataan pembangunan ekonomi. Keberadaaan agroindustri di pedesaan diharapkan dapat meningkatkan permintaan terhadap komoditas pertanian, karena sektor agroindustri berperan dalam mengubah produk pertanian menjadi barang yang lebih berguna bagi kebutuhan masyarakat dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Salah satu agroindustri yang berpotensi untuk dikembangkan adalah agroindustri gula aren. Di Kabupaten Rokan Hulu, sentra produksi gula aren terdapat di Kecamatan Rambah Samo (Tarmizi, 2017).

Tanaman aren siap disadap pada umur 5-12 tahun. Tandan bunga yang disadap dan diambil niranya adalah tandan bunga jantan, sementara tandan bunga betina akan menghasilkan aren yang dapat diolah menjadi kolang kaling. Dalam setahun, setiap pohon aren dapat memproduksi 3-4 tandan bunga, dimana setiap tandan bunga mampu menghasilkan nira 300-400 liter permusim bunga (3-4 bulan), sehingga untuk satu pohon aren mampu menghasilkan nira 900-1.600 liter per tahun. Untuk setiap 1 liter nira dapat diolah menjadi gula merah sekitar 135-272 kg per tahun (Rachman, 2009).

Gula aren yang berasal dari nira tanaman aren lebih dikenal di Provinsi Riau sebagai tanaman enau. Gula aren banyak digunakan untuk berbagai macam makanan yang kita komsumsi  mulai dari kolak, onde-onde, kuah lupis dan masih banyak makanan lainnya yang menggunakan gula aren atau gula enau ini. Gula aren merupakan salah satu produk gula yang dibutuhkan dalam pengolahan makanan-makanan apalagi dibulan ramadhan kecenderungan permintaan meningkat.

Komoditas gula aren merupakan salah satu komoditas penting di berbagai daerah yaitu : (1) sebagai input produksi dan lapangan kerja, (2) sumber pandapatan bagi masyarakat, (3) meningkatkan produktivitas lahan marjinal, (4) sebagai komoditas komersial yang dapat menggerakkan perekonomian wilayah, dan (5) mengurangi kesenjangan ekonomi masyarakat (Dishutbun Lebak, 2005 di dalam Rachman 2009).

Kampung Ulau merupakan salah satu kampung terpencil di Desa tanjung Belit, berlokasi di Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Kampung Ulau yang luasnya sekitar 45 hektar ini hanya dihuni oleh 36 KK (kepala keluarga) dengan jumlah warga sekitar 80 orang.

Berdasarkan wawancara dengan pengrajin gula aren di Kampung Ulau di kampung tersebut hanya ada sekitar 5 orang yang mengusahakan pembuatan gula aren. Kehidupan masyarakat di desa ini sangat tradisional dan masih terbelakang, baik dari sisi pengetahuan maupun dari sisi pendapatan.

MASALAH

Cara-cara pembuatan gula aren ini pun masih sangat tradisional, dengan cara mengumpulkan air dari batang aren yang berada di sekitar pemukiman dengan wadah yang dibuat khusus dari bambu, pagi harinya setelah nira segar terkumpul di wadah tersebut barulah dipanaskan dalam wajan di atas tungku kayu api.

Sebagaimana yang disampaikan oleh salah seorang pembuat gula aren ini mengatakan bahwa mereka hanya dapat membuat 6 kg dalam satu hari sekitar 13 tukah gula dimana satu tukah setengah kilo, sementara seringkali permintaan melebihi yang biasa mereka produksi seharinya, sehingga permintaan sering tidak dapat terpenuhi.bahkan terkadang adakalanya gula gagal terbuat karena ketika proses pembuatan karena berada ditempat yang terbuka seringkali hewan-hewan masuk ke lokasi pembuatan gula aren sehingga kurang higienis. Selain itu terkadang air nira yang mereka tampung tidak mencukupi karena produksi nira mulai berkurang.

Halaman
1234
Editor: Nolpitos Hendri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved