ARTIKEL ILMIAH

ARTIKEL ILMIAH tentang Berdayakan dan Tingkatkan Ekonomi Warga Kampung Ulau Riau melalui Gula Aren

Artikel ilmiah tentang Pemberdayaan dan Peningkatan Ekonomi Warga Kampung Ulau melalui peningkatan kualitas produksi gula aren di Kabupaten Rokan Hulu

ARTIKEL ILMIAH tentang Berdayakan dan Tingkatkan Ekonomi Warga Kampung Ulau Riau melalui Gula Aren
Tribun Pekanbaru/Istimewa/Zuratul Aini
ARTIKEL ILMIAH tentang Berdayakan dan Tingkatkan Ekonomi Warga Kampung Ulau Riau melalui Gula Aren 

(3) Penyampaian materi dan diskusi untuk memotivasi masyarakat tentang prospek usaha gula aren dan variasi produk yang dapat dikembangkan dari nira, teknik penyadapan nira aren, perlakuan pasca panen dan proses pengolahan nira menjadi gula aren cetak yang berkualitas.

PEMBAHASAN

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di salah satu rumah warga Kampung Ulau. Kegiatan pelatihan dihadiri oleh 30 orang peserta termasuk sekretaris desa dan mahasiswa Kukerta Universitas Riau.

Materi kegiatan meliputi topik sebagai berikut: (1) prospek bisnis produk aren dan variasi olahan dari nira aren (2) teknik penyadapan nira aren yang tepat; (3) perlakuan pasca panen nira segar dan (4) proses pengolahan nira menjadi gula cetak. Penyajian materi disampaikan dengan pemaparan slide dengan illustrasi foto sehingga menarik minat peserta. Penyajian slide dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab dan peserta terlibat aktif dalam diskusi. Tampilan slide dapat dilihat pada Ganbar 1.

ARTIKEL ILMIAH tentang Berdayakan dan Tingkatkan Ekonomi Warga Kampung Ulau Riau melalui Gula Aren
ARTIKEL ILMIAH tentang Berdayakan dan Tingkatkan Ekonomi Warga Kampung Ulau Riau melalui Gula Aren (Tribun Pekanbaru/Istimewa/Zuratul Aini)

Kekhasan gula merah (aren) dari segi kimianya dibandingkan dengan gula lainnya adalah bahwa gula aren mengandung sukrosa lebih tinggi (84%) dibanding dengan gula tebu (20%) dan gula bit (17%). Dari segi kandungan gizinya, gula aren mengandung protein, lemak, kalium dan fosfor yang lebih tinggi dibanding dengan tebu dan gula bit. Demikian pula jika dibandingkan dengan nira dari pohon kelapa, nira aren lebih manis dan aromanya lebih menyengat. Banyak keunggulan gula aren dibandingkan dengan gula kelapa, diantaranya adalah kadar gula pereduksinya lebih rendah sehingga hasil gulanya menjadi lebih keras dan kering dan kadar sukrosa gula aren juga lebih tinggi (Rachman, 2009).

Selanjutnya Rachman (2009) memaparkan proses pengolahan gula aren cetak sebagai berikut: (1) penyaringan nira dari kotoran sebanyak dua kali penyaringan; (2) pemasakan, biasanya pemasakan dilakukan dengan wajan di atas tungku api dengan bahan bakar kayu selama 3-4 jam. Untuk mengetahui kesiapan nira untuk dicetak, umumnya dilakukan dengan cara meneteskan nira tersebut ke dalam air dingin. Bila tetesan itu meluncur dengan panjang 2 cm berarti nira sudah masak; (3) pencetakan, dalam pencetakan biasanya alat cetak direndam dulu dalam air untuk memudahkan pelepasan gula, kemudian pekatan nira diaduk dan selanjutnya dituangkan ke dalam cetakan.

Faktor utama penentu mutu gula aren cetak adalah kualitas nira segar. Menurut Lempang (2012), nira aren segar memiliki rasa manis, berbau khas nira dan tidak berwarna. Dalam setahun dapat disadap sampai 4 tandan bunga per pohon, dan setiap tandan bunga dapat disadap selama 3-5 bulan.

Nira aren mengandung beberapa zat gizi antara lain karbohidrat, protein, lemak dan mineral. Rasa manis pada nira disebabkan kandungan karbohidratnya mencapai 11,28%. Nira yang baru menetes dari tandan bunga mempunyai pH sekitar 7 (pH netral), akan tetapi pengaruh keadaan sekitarnya menyebabkan nira aren mudah terkontaminasi dan mengalami fermentasi sehingga rasa manis pada nira aren cepat berubah menjadi asam (pH menurun).

Untuk memperoleh gula aren yang berkualitas tinggi tentunya sangat tergantung pada kualitas nira yang diproses. Menurut Joseph et al. (1994) di dalam Rachman (2009), nira yang disadap pada pagi hari memiliki pH lebih rendah dari nira yang ditampung pada sore hari. Nira yang disadap pada pagi hari kadar sukrosanya lebih rendah dari nira yang disadap sore hari.

Hal ini karena pada siang hari penguapan lebih besar dibanding pada malam hari. Perlakuan terhadap penampungan berpengaruh nyata terhadap kadar sukrosa nira yang disadap pada sore hari, tetapi tidak berpengaruh nyata pada sukrosa yang disadap pada pagi hari. Nira yang digunakan sebagai bahan baku gula sebaiknya berkadar sukrosa di atas 12 persen.

Selain pelatihan tentang prospek produk olahan nira, pelatihan juga menjelaskan tentang penyadapan dan pengolahan gula aren yang dilakukan di lokasi tumbuh tanaman aren dan lokasi produksi gula aren. Dokumentasi kegiatan pelatihan disajikan pada Gambar 2 dan Gambar 3.

ARTIKEL ILMIAH tentang Berdayakan dan Tingkatkan Ekonomi Warga Kampung Ulau Riau melalui Gula Aren
ARTIKEL ILMIAH tentang Berdayakan dan Tingkatkan Ekonomi Warga Kampung Ulau Riau melalui Gula Aren (Tribun Pekanbaru/Istimewa/Zuratul Aini)

Evaluasi dilaksanakan melalui pengamatan langsung pada saat peserta mengikuti penyampaian materi dan diskusi. Sebagian besar peserta antusias disebabkan materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan terkait pengolahan nira aren dan gula aren yang berkualitas dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dalam jangka panjang. Melihat keragaman produk yang dijelaskan, masyarakat Kampung Ulau tertarik untuk mengembangkan agroindustri tanaman aren karena selama ini mereka hanya mengetahui satu jenis produk yaitu gula aren cetak tradisional.

Indikator tercapainya target pelatihan terlihat dari pernyataan peserta yang termotivasi untuk lebih serius mengelola pembuatan gula aren yang saat ini telah dilakukan. Ragam produk aren yang disajikan membuka wawasan peserta tentang prospek agroindustri aren ke depan. Secara umum, pelaksanaan kegiatan pelatihan pengolahan nira aren di Kampung Ulau dapat dikatakan berhasil.

Hal ini dapat dilihat dari permintaan peserta agar kegiatan ini dapat dilanjutkan. Secara spesifik, aparat dan masyarakat Kampung Ulau berharap untuk kegiatan selanjutnya diberikan pelatihan lanjutan terkait dengan budidaya tanamana aren, karena produksi nira di Kampung Ulau masih minim karena mengandalkan tanaman aren yang tumbuh liar di sekitar pemukiman penduduk.

Setelah kegiatan pelatihan diharapkan dukungan dari Dinas terkait untuk menginisiasi budidaya tanaman aren sehingga produksi gula aren ke depan dapat ditingkatkan. Sejalan dengan hal ini Saputra et al (2012) menekankan bahwa dari aspek kelembagaan, peran pemerintah dalam membimbing serta mengarahkan pengrajin sangat diperlukan demi meningkatkan pengetahuan, kemampuan dalam manajemen serta motivasi para pengrajin gula aren.

KESIMPULAN

Pemberdayaan masyarakat desa dapat dilakukan dengan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan warga masyarakat. Potensi sumber daya alam lokal yang melimpah di suatu wilayah seringkali kurang termanfaatkan karena kendala minimnya pengetahuan masyarakat. Selain ketrampilan, faktor kurangnya motivasi berwirausaha juga menjadi kendala. Pelatihan pengolahan nira aren di Kampung Ulau ini dilakukan dengan memberikan ketrampilan sekaligus motivasi untuk mengolah nira aren diantaranya dengan menjelaskan variasi produk olahan agroindustri aren yang potensial untuk dikembangkan.

Metode penyadapan nira segar dan penanganan nira sangat menentukan kualitas gula aren cetak yang dihasilkan. Masyarakat Kampung Ulau tertarik untuk mengembangkan produk nira aren, tetapi berbeda dengan daerah lain di Kabupaten Rokan Hulu seperti di Kecamatan Rambah dimana tanaman aren sudah banyak dikembangkan, di Kampung Ulau dibutuhkan pelatihan lanjutan untuk membudidayakan tanaman aren karena produksi nira masih sangat terbatas yang dikelola oleh beberapa pengrajin saja.

DAFTAR PUSTAKA

Evalia, N.A. 2015. Strategi Pengembangan Agroindustri Gula Semut Aren. Jurnal Manajemen & Agribisnis, Vol. 12 No. 1: 57-67

Lempang, M. 2012. Pohon Aren dan Manfaat Produksinya. Info Teknis EBONI Vol.9 No.1, Oktober 2012 : 37-54

Rachman, B. 2009. Karakteristik Petani dan Pemasaran Gula Aren di Banten. FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI. Volume 27 No. 1, Juli 2009 : 53 - 60

Saputra, E., Fitriana, L dan Bahar, E. 2012. Strategi pengembangan usaha gula aren di desa rambah tengah barat Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu. JURNAL PENELITIAN SUNGKAI VOL. 1, NO.1, OKTOBER 2012: 9 hal.

Tarmizi, M. 2017. ANALISIS AGROINDUSTRI GULA AREN DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN HULU. SEPA : Vol. 13 No.2 Februari 2017 : 195 – 199

Tribunpekanbaru.com/Citizen Journalism/Hayatul Ismi, Firdaus, Ulfia Hasanah, Feblil Huda , Fenny Trisnawati, dan Yeni Kusumawaty - ARTIKEL ILMIAH tentang Berdayakan dan Tingkatkan Ekonomi Warga Kampung Ulau Riau melalui Gula Aren

Editor: Nolpitos Hendri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved