ARTIKEL ILMIAH

ARTIKEL ILMIAH - Tingkatkan Pengetahuan Warga Soal Akibat Nikah Dini di Riau dari Aspek Kesehatan

ARTIKEL ILMIAH - Peningkatkan Pengetahuan Warga tentang Akibat Pernikahan Dini dari Aspek Kesehatan, Hukum dan Pendidikan di Desa Pulau Jambu

ARTIKEL ILMIAH - Tingkatkan Pengetahuan Warga Soal Akibat Nikah Dini di Riau dari Aspek Kesehatan
Tribun Pekanbaru/Istimewa/Wan Nishfa Dewi
ARTIKEL ILMIAH - Tingkatkan Pengetahuan Warga Soal Akibat Nikah Dini di Riau dari Aspek Kesehatan 

ARTIKEL ILMIAH - Tingkatkan Pengetahuan Warga Soal Akibat Nikah Dini di Riau dari Aspek Kesehatan

TRIBUNPEKANBARU.COM, CITIZENJOURNALISM - ARTIKEL ILMIAH - Peningkatkan Pengetahuan Warga tentang Akibat Pernikahan Dini dari Aspek Kesehatan, Hukum dan  Pendidikan di Desa Pulau Jambu Kecamatan Kuok Kabupaten Kampar Riau.

ABSTRAK - Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan ada tahun 2017, diketahui bahwa masyarakat desa Pulau Jambu memiliki kecenderungan untuk melakukan pernikahan dini atau pernikahan di bawah umur. Ilmu kesehatan memandang baik secara kesempurnaan dan psikologi, umur yang ideal untuk menikah, bagi laki-laki 25 tahun dan perempuan 20 tahun.

Tujuan pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini secara khusus adalah meliputi: Menyiapkan sarana dan prasarana dalam memberdayakan masyarakat dalam menindaklanjuti dampak hukum, kesehatan dan pendidikan bagi pasangan perkawinan dibawah umur, Meningkatkan kompetensi masyarakat (pengetahuan, keterampilan, motivasi dan peran dengan pembentukan tim bina desa keluarga sejahtera, Melakukan pendampingan dan pembinaan kepada masyarakat dalam mengantisipasi terjadinya perkawinan dibawah umur bagi remaja-remaja potensial untuk melangsungkan perkawinan. 

Hasil pengabdian ini menunjukkan bahwa masyarakat telah  memiliki pemahaman yang memadai dalam memaknai pernikahan dini.  Peserta sosialisasi sangat antusias untuk mengikuti acara ini karena mereka menyadari bahwa bekal pengetahuan yang meraka dapatkan nantinya akan bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan mereka di bidang hukum, kesehatan dan pendidikan. Hal ini terlihat pada sesi diskusi yang mana masyarakat sangat banyak memberikan pertanyaan.

Pendahuluan

Perkawinan merupakan jenjang awal pembentukan masyarakat, dari suatu parkawinan akan terbentuk masyarakat kecil yang bernama rumah tangga. Di dalamnya akan lahir seorang anak atau lebih. Dalam kelompok individu tersebut lahir organisasi sosial yang bernama keluarga dan membentuk relasi-relasi seperti hubungan suami istri, anak dan orang tua, anak dengan saudara-saudaranya, anak dengan kakek-neneknya, anak dengan paman dan tantenya, ayah-ibu dengan saudara dan ipar-iparnya, suami istri dengan orang tua dan mertuanya, dan seterusnya. Remaja sebagai anak yang ada pada masa peralihan dari masa anak-anak menuju usia dewasa pada masa peralihan ini biasanya terjadi percepatan pertumbuhan dari segi fisik maupun psikis. Baik ditinjau dari bentuk badan, sikap, cara berpikir dan bertindak mereka bukan lagi anak-anak.

Mereka juga belum dikatakan manusia dewasa yang memiliki kematangan pikiran. Sifat-sifat keremajaan ini (seperti emosi yang tidak stabil, belum mempunyai kemampuan yang matang untuk menyelesaikan konflik-konflik yang dihadapi, serta belum memepunyai pemikiran yang matang tentang masa depan yang baik), akan sangat mempengaruhi perkembangan psikososial anak dalam hal ini kemampuan konflik pun, usia itu berpengaruh. Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa kedewasaan ibu baik secara fisik maupun mental sangat penting, karena hal itu akan berpengaruh terhadap perkembangan anak kelak dikemudian hari. Oleh itulah maka sangat penting untuk memperhatikan umur pada anak yang akan menikah.

Pada kenyataannya didalam masyarakat perkawinan usia muda ada dilaksanakan, terutama didalam masyarakat pedesaan atau masyarakat berpendidikan rendah. Perkawinan ini dilakukan dengan alasan kesulitan ekonomi, serta kebiasaan adat yang terjadi pada keluarga yang malu mempunyai anak gadis hamil diluar nikah atau terlalu intim dengan pasangan yang belum sah secara agama dan tidak sesuai dengan norma-norma di suatu daerah.

Pernikahan usia muda juga membawa pengaruh yang tidak baik bagi anak-anak mereka. Biasanya anak-anak kurang kecerdasannya. Anak-anak yang dilahirkan oleh ibu-ibu remaja mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan anak yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang lebih dewasa. Mengenai pembatasan umur untuk melaksanakan perkawinan ini dimaksudkan sebagai pencegahan terhadap perkawinan yang masih di bawah umur.  Akan tetapi pada kenyataannya perkawinan yang masih di bawah umur itu masih sering terjadi ditengah-tengah masyarakat kita, khususnya  yang terjadi  Propinsi Riau.[1]

Halaman
1234
Editor: Nolpitos Hendri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved