Pompong Tak Bisa Lagi Lewat, Petani Kelapa di Inhil Kesulitan Pasarkan Hasil Panen

Warga berharap Pemkab Inhil melakukan normalisasi parit agar ada airnya, sehingga kapal pompong pengangkut kelapa bisa lewat.

Pompong Tak Bisa Lagi Lewat, Petani Kelapa di Inhil Kesulitan Pasarkan Hasil Panen
tribun pekanbaru
Petani kelapa di Dusun 3 Desa Makmur Jaya, Kecamatan Kateman, Inhil, menunjukkan hasil panen kelapa yang sudah mulai rusak karena tidak bisa dipasarkan. 

tribunpekanbaru.com - Petani kelapa di Dusun 3 Desa Makmur Jaya Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), hanya bisa pasrah dengan kondisi yang menerpa mereka saat ini. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan terkait sulitnya akses untuk mengangkut hasil pertanian ke luar dari desa.

Sulitnya akses tersebut bahkan membuat buah kelapa yang seharusnya dipasarkan, kini telah tumbuh tunas karena terlalu lama disimpan. Warga kesulitan membawa hasil kelapa itu ke luar dari desa dalam jumlah besar karena keterbatasan transportasi.

Kondisi ini bukan terjadi begitu saja. Musim kemarau dan rendahnya intensitas hujan saat ini, membuat parit–parit yang ada di kawasan perkebunan menjadi kering dan buntu, sehingga tidak bisa dilalui kapal pompong.

Padahal parit–parit tersebut selama ini menjadi sarana petani untuk mengangkut buah kelapa dan lainnya dari dalam desa, menuju ke lokasi tujuan pemasaran dengan menggunakan pompong.

Kondisi saat ini membuat para petani setempat merasa sangat resah, karena mata pencarian mereka tersendat akibat terkendala transportasi. Mereka menjadi kesulitan memasarkan hasil kelapa yang merupakan rata–rata mata pencarian masyarakat di Kabupaten Inhil.

Menurut Kepala Dusun (Kadus) 3 Desa Makmur Jaya, Zainuri, kondisi buntu dan keringnya aliran parit alam di wilayahnya, sudah terjadi sejak sekitar tiga tahun terakhir. Sejak itu pula para petani kelapa kesulitan membawa ke luar buah kelapa hasil panen untuk dijual.

“Dasar sungai sudah ditumbuhi rerumputan liar, apalagi hujan lebat tidak kunjung datang. Kondisi ini tentu menjadi kendala bagi masyarakat setempat yang secara umum petani kelapa. Petani tidak bisa mengeluarkan buah kelapa dari kebun serta memasarkannya,” ungkap Zainuri melalui keterangan tertulis yang diterima Rabu (16/10).

Kondisi ini tentu saja berimbas kepada kehidupan ekonomi masyarakat petani kelapa dan masyarakat lainnya. “Mulai menyulitkan ekonomi, bahkan anak–anak desa terancam putus sekolah. Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin ekonomi masyarakat makin lemah,” katanya.

Zainuri khawatir, jika kondisi ini terus terjadi dalam satu atau dua bulan ke depan tanpa ada penanggulangan, masyarakat dipastikan gagal memasarkan hasil panennya.

“Kalau tidak segera dilakukan penggalian parit, masyarakat akan semakin sulit bahkan kemungkinan 100 persen gagal total untuk menjual buah kelapanya,” terangnya lagi.

Hal senada dikatakan Pjs Kepala Desa Makmur Jaya, Rozali Kurnia, yang mendukung bila dilakukan normalisasi pada parit yang jadi sarana transportasi warga. Rozali sangat berharap bantuan pemerintah untuk menormalisasi aliran parit di daerah tersebut dengan bantuan alat berat, agar parit yang buntu dapat difungsikan kembali.

“Memang sudah sangat buntu dan perlu pengerukan sesegera mungkin. Kami berharap anggota DPRD Inhil dan Riau dapat memperjuangkan harapan masyarakat. Pemkab Inhil atau Dinas terkait agar kiranya dapat memberi tanggapan dan membantu keluhan masyarakat ini," ujar Rozali. (odi)

Penulis: T. Muhammad Fadhli
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved