Rabu, 3 Juni 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Deteksi Dini Gangguan Pendengaran dan Ikuti Tips Penggunaan Earphone yang Aman

Ada beberapa hal yang dapat memicu terjadinya gangguan pendengaran, ini 7 di antaranya:

Tayang:
Editor: Ariestia

Deteksi Dini Gangguan Pendengaran dan Ikuti Tips Penggunaan Earphone yang Aman

TRIBUNPEKANBARU.COM - Telinga merupakan organ untuk pendengaran dan keseimbangan, yang terdiri dari telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.

Telinga luar menangkap gelombang suara yang dirubah menjadi energi mekanis oleh telinga tengah.

Telinga tengah merubah energi mekanis menjadi gelombang saraf, yang kemudian dihantarkan ke otak.

Telinga dalam juga membantu menjaga keseimbangan tubuh.

Telinga dapat mendengar jika ada gelombang suara, gelombang suara akan dikumpulkan oleh daun telinga, kemudian disalurkan ke saluran telinga luar.

Gelombang suara akan menggetarkan membran timpani dan diteruskan ke dalam telinga tengah melalui tulang-tulang pendengaran.

Selanjutnya getaran diteruskan ke telinga dalam melalui tingkap oval dan menggetarkan cairan perilimfe yang terdapat di dalam skala vestibuli.

Getaran cairan itu akan menggetarkan membran Reissner dan cairan endolimfe dalam skala media, membran basilaris.

Saat membran basilaris bergetar akan menggerakkan sel-sel rambut dan ketika sel-sel rambut menyentuh membran tektorial maka terjadi impuls yang akan dikirim ke saraf otak VIII lalu ke korteks otak bagian pendengaran untuk diinterpretasikan.

Dokter Spesialis THT Rumah Sakit Awal Bros Panam dr Ariel Anugrahani SpTHT-KL menjelaskan banyak faktor yang bisa menyebabkan gangguan pendengaran.

Oleh karena itu deteksi dini gangguan pendengaran sangat diperlukan.

Ada beberapa hal yang dapat memicu terjadinya gangguan pendengaran, di antaranya:

1. Faktor usia. Kebanyakan orang akan mulai terganggu pendengarannya akibat bertambahnya usia. Gangguan pendengaran akibat usia dikenal dengan nama presbikusis.

2. Suara yang keras. Mendengar suara yang keras, baik mendengar suara yang sangat keras dan tiba-tiba, seperti suara ledakan, atau mendengar suara keras (tidak sekeras ledakan), seperti suara pesawat terbang, yang terjadi menahun, bisa membuat gangguan pendengaran.

3. Infeksi atau kotoran. Kondisi ini dapat menyumbat rongga telinga.

4. Trauma, terutama retaknya tulang telinga atau pecahnya gendang telinga.

5. Obat-obatan. Beberapa obat tercatat dapat menimbulkan gangguan baik sementara atau permanen, di antaranya aspirin, antibiotik streptomycin, dan obat-obat kemoterapi, misalnya cisplatin dan cyclophosphamide.

6. Penyakit. Penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes dapat mengganggu suplai darah ke telinga.

7. Keturunan.

‘’Sebaiknya lakukan pemeriksaan sejak dini, sejak bayi baru lahir melalui skrining. skrining hanya menunjukkan ada atau tidaknya respon terhadap rangsangan dengan intensitas tertentu pada pendengaran seseorang dan tidak mengukur derajat gangguan pendengara,’’ ujar dr Ariel..

Skrining pendengaran pada bayi baru lahir ini untuk mendeteksi adanya ketulian agar dapat ditangani segera jika memang terbukti ada gangguan. Sehingga dampak cacat pendengaran pun dapat diminimalisir.

Nantinya, hasil skrining pendengaran bisa dijadikan pemeriksaan lanjutan untuk diagnosis gangguan pendengaran pada bayi umur tiga bulan. Gangguan pendengaran pada bayi dan anak ini bisa menyebabkan gangguan bicara, berbahasa, kognitif, masalah sosial, dan emosional.

Selain melalui skrining, pemeriksaan audiometri juga merupakan pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui tingkat/ambang batas pendengaran seseorang dan jenis gangguannya bila ada. Pemeriksaan dilakukan dengan memakai alat audiogram nada murni di dalam ruang kedap suara.

Kegunaan audiometri ini untuk mengetahui derajat ketulian ringan, sedang atau berat untuk mengetahui jenis tuli konduktif, tuli syaraf (sensorineural) atau tuli campuran. Baik pemeriksaan OAE maupun audiometri sedianya bukan hanya ditujukan pada bayi saja namun juga pekerja yang terpapar kebisingan setiap harinya.

Saat ini banyak usia muda yang mengalami gangguan pendengaran. Hal ini dikarenakan penggunaan headset. Bahaya headset dari mendengarkan portable music player (PMP), seperti MP3 player, bisa membuat telinga cedera. Itu terjadi jika kita terlalu sering memakai earphone atau headphone bervolume tinggi.

Pada kesempatan itu, dr Ariel memaparkan bahaya headset bagi pendengaran

1. Kerusakan permanen pada telinga

Bahaya menggunakan headset yang pertama. Hal ini terjadi bila telinga sudah tidak kuat lagi menanggung beban suara keras dari earphone yang langsung terhubung dengan lubang telinga, biasanya, hal ini terjadi pada mereka yang masih berusia muda atau remaja.

2. Kehilangan pendengaran di usia 20-an

Berdasarkan penelitian, efek penggunaan earphone atau headset yang berlebih ini memang tidak akan langsung terasa. Kerusakan akibat memakai headset atau earphone yang berlebihan ini akan muncul secara perlahan, biasanya efek akan mulai terasa di usia 20-an. Di usia itu, si penderita akan mulai kehilangan pendengarannya.

3. Kerusakan otak

Gelombang elektromagnetik akibat memakai headset atau earphone ini diduga berpengaruh terhadap listrik otak. Terbukti gelombang elektromagnetig ini berpengaruh pada listrik otak pada tikus. Namun, hingga saat ini belum diketahui seberapa besar efek dari gelombang elektromagnetik itu pada otak manusia. Tapi yang jelas kamu harus tetap waspada.

4. Ambang pendengaran

Paparan musik dengan earphone atau headset dapat mempengaruhi ambang pendengaran manusia, terutama bila dilakukan dengan volume keras dan dalam jangka waktu lama.

Secara perlahan efek ini akan mengarah pada gangguan pendengaran secara permanen. Karenanya kamu harus menggunakan earphone atau headset ini sesuai kebutuhan saja, jangan berlebih.

Agar tidak berbahaya untuk kesehatan, berikut ada beberapa tips penggunaan earphone yang aman:

1. Pilihlah earphone yang paling cocok dengan telingamu

Sebelum membeli earphone, kamu bisa memilihnya terlebih dahulu. Apakah earphone itu nyaman atau tidak saat digunakan sehingga tidak membuat daun telinga kamu sakit dan lecet. Gak keren asal nyaman itu justru lebih baik.

2. Jangan pasang volume pada maksimal

Jangan sekali-kali mendengarkan musik dengan earphone di volume suara yang tinggi atau keras. Karena hal itu hanya akan merusak fungsi pendengaran kamu. Dimana frekuansi lazim di dengar manusia sebenarnya berkisar 20 Hz sampai 20 KHz, meski ada beberapa yang berfrekuensi di atas itu.

3. Gunakan earphone sesuai kebutuhan

Gunakanlah earphone dengan waktu yang wajar. Kamu bisa mengistirahatkan telinga kamu antara setengah sampai 1 jam. Apabila kamu menggunakan earphone secara terus menerus, tidak menutup kemungkinan telinga kamu akan mengalami rusak permanen.

4. Jangan gunakan di tempat bising (ribut/ramai)

Dianjurkan untuk tidak mendengarkan musik menggunakan earphone di tengah keramaian. Karena ada kemungkinan kamu akan meningkatkan volume agar tidak terganggu oleh kebisingan itu. Padahal hal itu akan membuat pendengaran mengalami kerusakan.

5. Jangan dipasang terlalu rapat

Untuk mengurangi tegangan pada gendang telinga, sebaiknya kamu tidak menutup telinga terlalu rapat saat menggunakan earphone. Jika terlalu rapat itu akan menambah beban pada gendang telinga dan bisa saja telinga akan menjadi sakit dan kepala menjadi pusing. Karena saat kamu menutup telinga dengan earphone terlalu rapat, maka lubang telinga akan hampa udara dan dapat mengganggu pendengaran kamu.

6. Pilih earphone yang mempunyai banyak fasilitas untuk melindungi telinga

Kita bisa memilih earphone dengan berbagai keunggulan. Misalnya earphone yang ada lapisan seperti lensa pada ujung earbundnya. Lapisan itu juga berguna untuk meredam gelombang tekanan pada gendang telinga. (Rilis)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved