Breaking News:

Riau Guide

WISATA Alam di Riau, Bandar Bakau Mengungkap KISAH Darwis M Saleh, 20 Tahun Hidup Bersama Bakau

Wisata alam di Riau sangat banyak, satu di antranya Bandar Bakau yang berhasil mengungkap kisah Darwis M Saleh yang sudah 20 tahun hidup bersama bakau

Penulis: Syahrul | Editor: Nolpitos Hendri
TribunPekanbaru/Fernando
WISATA Alam di Riau, Bandar Bakau Mengungkap KISAH Darwis M Saleh, 20 Tahun Hidup Bersama Bakau. Pemandangan di Bandar Bakau, Kota Dumai. 

Dia tengah bersantai di atas hamok yang diikatkan di antara dua batang bakau dekat dengan pondok tempat dia menghabiskan waktu sehari-hari.

"Awak lagi santai, apo cito? Marilah," katanya menyapa.

Dia pun mengajak duduk sambil minum kopi di pinggiran pantai.

Sambil menyusuri jalur jalan yang ia buat menuju pinggir pantai berbahan kayu dan semen dibeberapa bagian.

Bandar Bakau nampak sepi dari pengunjung.

Silahkan baca juga berita Riau hari ini >>>

Baca: PEMUTIHAN Denda Pajak Ranmor di Riau, Rp 10.17 Miliar Pajak Diterima, Rp 3.5 Miliar Denda Dihapuskan

Baca: POLEMIK Pembentukan AKD di DPRD Riau Berakhir, Tiga Partai Pendukung PRABOWO Akhirnya Masuk Komisi

Baca: Dua Pegawai Bank di Riau Diperiksa Jaksa Kejati Terkait Dugaan Korupsi Kredit Fiktif Rp 7.2 Miliar

Maklum saja, bukan hari libur.

Biasanya warga menghabiskan waktu di sana pada akhir pekan atau pada kegiatan-kegiatan tertentu saja.

Pak Wis nampak sehat dengan rambut yang hampir memutih semua karena dimakan usia, ayah tiga anak ini tetap semangat menceritakan Bandar Bakau, lahan yang ia perjuangkan eksistensinya 20 tahun belakangan.

"Saya masuk ke Bandar Bakau itu tahun 1999. Dulu belum Bandar Bakau namanya, masih disebut orang museum bakau atau hutan saja," kata Pak Wis.

Dia mengaku, pilihannya untuk menempati kawasan itu bermula ketika PT Pelindo I Dumai hendak melebarkan areal pelabuhan kearah Bandar Bakau dari Delta Sungai Dumai.

Pak Wis muda memutuskan untuk melakukan protes dengan cara melakukan okupasi atau pendudukan terhadap lahan di dekat Delta Sungai Dumai tersebut.

"Banyak sekali cerita pada saat itu. Mulai dari diusir, disogok untuk pindah. Tapi saya tak mau pindah hingga akhirnya saya kalah dan bergeser ke Bandar Bakau ini," paparnya.

"Di Bandar Bakau inilah saya mulai kembali memperjuangkan kawasan ini supaya tidak digusur oleh pelebaran pelabuhan Fase IV dan Alhamdulillah, sampai saat ini Bandar Bakau masih bertahan," cerita Pak Wis panjang.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved