Berita Riau

Riset 1,5 Tahun di Bengkalis, Cifor Kembangkan Model Bisnis Pertanian untuk Indonesia Bebas Asap

Riset aksi partisipatif untuk pencegahan kebakaran dan restorasi gambut itu sengaja dilakukan di Desa Dompas Kabupaten Bengkalis.

Tribun Pekanbaru/Theo Rizky
Cifor menggelar lokakarya nasional dengan tema "Model Pencegahan Kebakaran dan Restorasi Gambut Berbasis Masyarakat Menuju Indonesia Bebas Asap” di Novotel Pekanbaru, Kamis (24/10/2019). TRIBUN PEKANBARU/THEO RIZKY 

Riset Selama 1,5 Tahun di Bengkalis, Cifor Kembangkan Model Bisnis Pertanian untuk Indonesia Bebas Asap

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Provinsi Riau seakan menjadi masalah tahunan yang tak kunjung tuntas, untuk memahami dinamika ekonomi, sosial, dan politik penyebab Kebakaran hutan dan lahan, Cifor (Center for Intemational Forestry Research) telah melakukan serangkaian riset selama satu setengah tahun terakhir di Provinsi Riau, sehingga dapat menemukan komoditas rekomendasi untuk mendukung penghidupan berkelanjutan bebas asap.

Disampaikan Ketua Tim Riset Cifor, Profesor Herry Purnomo saat lokakarya nasional dengan tema "Model Pencegahan Kebakaran dan Restorasi Gambut Berbasis Masyarakat Menuju Indonesia Bebas Asap” di Novotel Pekanbaru, Kamis (24/10/2019).

Riset aksi partisipatif untuk pencegahan kebakaran dan restorasi gambut itu sengaja dilakukan di Desa Dompas Kabupaten Bengkalis karena kabupaten itu merupakan salah satu daerah dengan tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan yang tinggi. Sebanyak 4 dari 8 kecamatan yang ada di Kabupaten Bengkalis tergolong rawan kebakaran dengan 33 desa rawan.

 Waspada Penipuan Penerimaan CPNS! Kanreg XII BKN Pekanbaru: Jika Ada yang Minta Uang Itu Bohong

"Riset aksi partisipatif ini unik karena kita menggabungkan science dan teknologi serta aksi di lapangan. Kita memberikan contoh bagaimana melakukan penanaman, pertanian dan upaya perkebunan tanpa membakar, jadi masyarakat mempunyai contoh. Selama inikan masyarakat hanya dilarang membakar tapi tidak ada contoh dilapangan," kata Herry.

Dijelaskannya, masyarakat disana mulai memahami bahwa dengan membuka lahan dengan cara tidak membakar itu memungkinkan.

"Mungkin ongkosnya lebih tinggi, kenapa orang membakar? karena membakar itu ongkosnya lebih murah, kita contohkan dengan tidak membakar itu begini, nah begini nya itu kota contohkan bareng-bareng. Memang lebih mahal, 1 hektare itu membutuhkan Rp 5.5 juta untuk menyiapkan lahan, tapi dengan kita melakukan penanaman dengan baik hasilnya akan terbayar," tambah Herry.

Dilanjutkanya, begitu juga dengan pembuatan embung, bisa menjadi usaha perikanan dan juga persediaan air saat musim kering, buat ikan dan juga persediaan air saat musim kering.

"Ini yang kita perlihatkan dan harus kita kerjakan, jadi ketika kita membuat embung, kita bersama masyarakat mendesain, membuat, mencari traktor bareng, jadi dikreasi secara bersama-sama, dengan pengalaman seperti itu kita harapkan orang bisa berubah, karena saya tidak percaya orang berubah karena dikasi tau apalagi dilarang, tapi dengan mengalaminya," kata Herry.

 Mengenal Sat-81 Pasukan Siluman Kopassus yang Misterius, Duet Maut Prabowo Subianto dan Luhut Binsar

Dalam kegiatan yang memakan waktu 1,5 tahun itu Cifor dan Pusat Studi Bencana (PSB) Universitas Riau melalui pendanaan dari Temasek Foundation International dan Singapore Cooperation Enterprise telah mengembangkan model-model berbasis masyarakat dengan fokus pencegahan kebakaran, restorasi gambut, dan pengembangan mata pencaharian, Cifor dan PSB Unri memfasilitasi masyarakat lokal untuk
mengembangkan model bisnis berkelanjutan pada 7 arena aksi dengan total luasan 11,1 hektare.

Arena-arena aksi ini berada pada tiga jenis lahan dan dikelola oleh kelompok-kelompok masyarakat. Beberapa diantaranya adalah kelompok tani wanita, kelompok keluarga petani, dan Masyarakat Peduli Api.

Kelompok-kelompok masyarakat ini mengembangkan dan mengimplementasikan model bisnis pertanian maupun ekowisata pada arena-arena yang dikelolanya. (Tribun Pekanbaru.com/Theo Rizky).

Penulis: Theo Rizky
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved