Berita Riau

STORY - Cleo Menuju Vietnam, Perkuat Indonesia pada Ajang IMSO 2019

Cleorisya Ranggi Tsabita (12), murid kelas 6 SD Sains Tahfiz Islamic Center Siak mencuri perhatian dunia pendidikan Riau.

STORY - Cleo Menuju Vietnam, Perkuat Indonesia pada Ajang IMSO 2019
istimewa
Cleorisya Ranggi Tsabita 
Cleo Menuju Vietnam, Perkuat Indonesia pada Ajang IMSO 2019
TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK  - Cleorisya Ranggi Tsabita (12), murid kelas 6 SD Sains Tahfiz Islamic Center Siak mencuri perhatian dunia pendidikan Riau.
Ia satu-satunya dan pertama kali murid SD asal Siak berhasil masuk rombongan Indonesia menghadapi ajang International Math & Science Olympiade (IMSO) 2019 di Vietnam.
Pencapaian itu menjadi prestasi terbesar bagi Cleo, panggilan akrab anak pertama pasangan dr Benny Chairuddin,Sp.An,M.Kes dan Khamelia Destri Anggraini,ST, MT itu. Cleo memang menonjol di sekolahnya. Ia termasuk anak multi talenta. Tidak hanya pintar di bidang sains, bidang bahasa asing dan seni juga sangat menonjol. 
"Alhamdulillah, saya bersyukur bisa lulus seleksi pada ajang IMSO ini tahun ini. Semoga dapat memberikan yang terbaik dalam kompetisi itu nanti dan mohon doa restunya," ujar Cleo, Jumat (1/10/2019).
Cleo akan berangkat ke Vietnam bersama rombongan pada 25 November 2019. Kompetisi dunia itu dimulai pada 26 November -1 Desember 2019. Ia tergabung bersama  Tim Klinik Pendidikan MIPA (KPM).
"Dari KPM kami ada 12 orang, kemudian bergabung dengan tim Kementrian Pendidikan. Dari Indonesia semuanya kami 40 orang," kata dia.
Menjelang keberangkatan Cleo juga bakal mengikuti karantina di Jakarta bersama peserta lain. Dari 40 orang itu ada 2 anak Riau, yakni Cleo dan temannya dari SD Dharma Yudha Pekanbaru. 
"Mempersiapkan diri belajar aja di rumah. Belajar sendiri tentang soal-soal sains," kata anak berkaca mata itu. 
Cleo sudah berjuang untuk bisa ikut tim Indonesia pada IMSO 2018 di Beijing. Waktu itu ia baru kelas 5 SD dan gagal pada seleksi tahap akhir. 
 
"Kecewa sedikit waktu itu, tapi berniat lagi untuk tahun ini. Alhamdulillah bisa lulus," kata Cleo.
Pada ajang IMSO ini, Cleo bakal mengikuti kompetisi sains pada kategori individual contest. Ia akan berhadapan dengan ratusan peserta lain asal negar-negara di dunia, termasuk Ingris, Belanda, Perancis, Amerika Serikat, Jepang, India dan negara-negara maju lainnya. 
Kegagalan Cleo tahun lalu karena persiapannya sangat sempit.  Waktu itu ia juga tidak ada target. Bahkan dia tidak termasuk yang diperhitungkan karena dianggap pemula  yang ikut seleksi. Awalnya ia sempat kecewa tapi ia kembali membangun motivasi.
Menurut Cleo, pencapaiannya sejauh itu karena ketekunan dan giat dalam belajar. Bahkan terkadang ia belajar hingga larut malam. Membaca buku, melaksanakan pelatihan soal sains sendiri di rumahnya seperti orang yang menjalani kesenangan semata. Seperti menjalani hobi.
"Terimakasih kepada orang tua saya yang selalu mendukung saya dalam berbagai kegiatan," ucap Cleo.
Dalam bidang seni, Cleo ini juga piawai bermain piano. Cleo pernah membawa pulang piala dari kompetisi piano yang ia ikuti. 
"Ayo teman-teman, kita bisa bersaing dengan anak-anak dari daerah maupun dari negara lain asal kan kita mau berusaha dan belajar keras dan terus berdoa untuk mendapatkan yang terbaik" ajak Cleo.
Kedua orangtua Cleo dan adiknya Keyneta Mayza Nareswari sangat bangga dengan kegigihan Cleo. Bahkan kedua orangtua Cleo tidak pernah menekan agar Cleo belajar setiap malam.
"Kami hanya menyediakan fasilitas saja. Apa keinginannya, ya dari dia sendiri, tanpa paksaan atau tekanan dari kami sebagai orangtua," kata orangtua Cleo,  Benny Chairuddin.
Menurut Benny, Cleo memang mempunyai bakat untuk Sains dan Seni. Namun, yang membuatnya sering dapat prestasi hingga melangkah ke ajang IMSO adalah karena proses yang dilalui. Cleo terbilang anak yang gigih, usaha maksimal atas apa yang diinginkannya.
"Di rumah ya seperti anak kebanyakan saja,  tidak harus menyendiri untuk belajar terus menerus. Kalau ia ingin bermain ia bermain, kalau ingin nonton ia nonton, tapi kalau ingin belajar kadang dia bisa belajar sampai tengah malam," kata Benny.
Benny sendiri tidak pernah menyangka Cleo akan mendapatkan kesempatan ikut memperkuat negara pada ajang IMSO sebelumnya. Karena ia merasa semuanya mengalir saja.
"Ketika dia gagal tahun lalu bahkan sempat dilupakan ajang ini. Tapi muncul kembali semangatnya untuk ikut, ya sudah kita restui, akhirnya ia bisa berhasil masuk," kata dia.
Pada ajang IMSO 2019 di Vietnam, Benny hanya ingin yang terbaik untuk Cleo. Ia tidak ingin membebani Cleo harus mencapai target tertentu. Sebab,  ia meyakini kemampuan putri pertamanya tersebut. 
Jika ditelusuri jejaknya,  meski baru kelas 6 SD, Cleo banyak mendapat tawaran agar memilih SMP top di Jakarta dan Pekanbaru bila tamat SD. Namun, ia belum memutuskan nanti memilih SMP yang mana setamat SD.
"Keinginan kami sebagai orangtua tentu dekat dengan kami, di Siak ini juga. Tapi kalau dia punya pilihan, kita akan ikuti pilihan itu," kata Benny.
Menurut Benny, ia percaya bakat hanyalah sebagian kecil dari suatu hasil usaha yang telah dilakukan. 
"Semua butuh proses, perjuangan dan kerja keras dari anaknya sendiri," kata Benny. 
Sebagai orangtua lanjut dia, ia tidak pernah memaksa tapi memberikan kesempatan untuk Cleo mengikuti semua kegiatan tersebut. Mulai dari belajar sendiri, kursus dan pendidikan formal, selama Cleorisya dapat menikmatinya dan tidak merasa terbebani dan tertekan. 
"Satu yang kami tekankan kepadanya untuk mengutamakan pendidikan agama dan karakter. Karena itu dasar dan bekal untuk sukses di masa yang akan datang. Tetap menjadi manusia yang sederhana, rendah hati, suka menolong orang, jujur, menghormati semua serta dapat menerima kekurangan," tutur Benny. 
Kedua orang tua Cleo itu juga selalu berpesan agar membiasakan diri menerima kegagalan dan tidak cepat puas terhadap keberhasilan.
 "Kita mesti  menghargai semua usaha apapun hasilnya," kata dia.
Selain itu, Cleo juga punya sederet prestasi yang membanggakan. Baru-baru ini ia mendapat Gold Award kategori individual contest pada International Science Competition (ISC) 2019 yang ditaja oleh Klinik Pendidikan MIPA (KPM) di Bogor.
Kegiatan itu berlangsung di Darmawan Park Sentul, Kabupaten Bogor pada 24-27 Oktober 2019. Ada 163 peserta dari empat negara yang mengikuti kompetisi ISC, di antaranya, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Indonesia. Cleo juga  pernah membawa pulang piala dari kompetisi piano yang ia ikuti.  Ia juga pernah juara melukis, mendongeng, vocal, Juara Olimpiade Sains Nasional, juara Olimpiade Bahasa Inggris, kemudian Finalis nasional lomba mendongeng FL2N, Finalis nasional Olimpiade Sains kuark. Nah, saat ini masuk dalam Tim KPM mewakili negara Indonesia mengikuti International Math & Science Olympiad ( IMSO ) di Vietnam. (Tribunsiak.com/mayonal putra)
Penulis: Mayonal Putra
Editor: M Iqbal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved