Berita Riau

Mak Siti Bisa Telepon 24 Jam, Warga Kampung di Kawasan HGU Siak Tak Segan Minta Bantuan Perusahaan

Warga Dusun Sungai Padang, Kampung Pangkalan Pisang, Kecamatan Koto Gasib, Siak dapat memanfaatkan perusahaan untuk menunjang kebutuhan hidup mereka.

Mak Siti Bisa Telepon 24 Jam, Warga Kampung di Kawasan HGU Siak Tak Segan Minta Bantuan Perusahaan
TRIBUNPEKANBARU/MAYONAL PUTRA
Mak Siti Aini (60) dan suaminya Abdul Thalib (62) didampingi Ormas foto bersama di rumahnya yang berada di Dusun Sungai Padang, Koto Gasib, Selasa (5/11/2019). 

"Dulu tidak ada sekolah di sini, sekarang sudah ada dibantu oleh perusahaan. Jika ada warga sakit tengah malam kami tinggal telepon ambulans perusahaan. Semuanya itu gratis," kata dia.

Dusun Sungai Padang dikenal juga dengan nama Rimba Polon. Mak Siti yang tinggal di rumahnya yang sederhana selalu menerima kunjungan karyawan perusahaan. Warga dan karyawan perusahaan diperlakukannya sebagai anak sendiri, karena itu pula semua orang memanggilnya Mak.

"Anak-anak saya banyak, sudah ada di seluruh Indonesia. Karyawan perusahaan itu kan sering pindah tugas ada yang di Aceh, Jawa, Kalimantan, Bali, dan Sulawesi, sampai sekarang mereka masih akrab dengan kami," kata dia.

Siti juga kerap memasak makanan khas Melayu untuk menjamu karyawan perusahaan. Sambal balacan (terasi) khas Melayu kampung paling disenangi karyawan dan warga sekitar.

Mak Siti juga membentuk Koperasi Tandan Bertuah, untuk menaungi masyarakat. Baik kampung maupun koperasi itu berada di bawah binaan PT KTU. Warga yang semula tidak mempunyai teknis menanam, memupuk, memelihara dan memanen sawit diajari oleh pihak PT KTU.

Dusun Sungai Padang dihuni oleh lebih kurang 100 KK yang hidup rukun dan damai. Fasilitas SD, MDA dan masjid dan listrik PLN sudah ada di sana. Warganya juga hidup sejahtera. Untuk mencapai dusun itu, harus melewati akses utama PT KTU.

Warga di KM 4 Pangkalan Pisang Martuane Lumbanraja (41) dan Herbert Napitulu (56) juga memuji perusahaan tersebut. Selain pembinaan terhadap dusun Sungai Padang sangat baik, ia juga merasakan dampaknya.

"Saya jadi gampang pergi ke ladang memanfaatkan jalan perusahaan. Kalau tidak ada jalan perusahaan saya harus melansir buah sawit saja pakai motor ke jalan umum sejauh 1,5 km," kata Martuane.

Karena diberikan kebebasan masuk ke kawasan PT KTU, mobil bisa langsung masuk ke kebunnya. Sebab, warga di Pangkalan Pisang rata-rata mempunyai kebun berbatasan dengan perusahaan itu.

"Kami di sini kompak, termasuk dengan perusahaan. Pihak perusahaan hanya meminta jangan mencuri sawitnya, kalau fasilitas ambulan, jalan dan lain-lain mereka bantu. Ya, kalau begitu kamipun mematuhinya, tidak pernah mencuri," kata dia.

Halaman
123
Penulis: Mayonal Putra
Editor: Nurul Qomariah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved