Breaking News:

Kisah Santri Penuhi Pangan dengan Berjualan Kerupuk Lele

Menempuh jarak hampir 45 kilometer dari kota Bandung dengan waktu tempuh sekitar 120 menit, tim Aksi Cepat Tanggap Jawa Barat

FOTO/ISTIMEWA
Tim Aksi Cepat Tanggap Jawa Barat berkunjung ke Pesantren Ash Shalahuddin yang bertempat di Desa Sindang Kerta, Cililin, Kabupaten Bandung Barat. 

“Kalau enggak laku ya sedih, tapi gak apa-apa juga, sambil belajar,” ungkap Adi yang merupakan santri yatim di Pesantren Ash Shalahuddin ini.

Pesantren Ash Shalahuddin dihuni oleh santri dari kalangan keluarga perekonomian prasejahtera dan yatim.

Mereka belajar di pesantren secara gratis. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk pangan, para santri berjualan produk olahan lele.

Cara ini juga menjadi salah satu materi belajar, apalagi pesantren melebeli diri sebagai pesantren enterpreuner.
 

“Tiap Senin sampai Jumat ada jadwal berjualan dari jam 2 siang sampai jam 5 sore, santri menjajakan olahan dari lele dengan cara berkeliling permikiman sekitar pesantren,” ungkap Asep.

Di dalam kompleks pesantren terdapat kolam-kolam tempat lele hidup. Bersama 57 santri dan 9 tenaga pengajar, mereka terlibat dalam produksi olahan lele bahkan sejak pemeliharaan di kolam.

Nantinya semua pendapatan dari usaha lele ini digunakan untuk keperluan pesantren dan para santrinya.

Di hari Kamis itu juga, ACT memberikan satu ton beras untuk Pesantren Ash Shalahuddin.

Beras ini merupakan kelanjutan dari program Beras untuk Santri Indonesia (BERISI) yang ACT luncurkan pada 22 Oktober 2019 lalu yang bertepatan dengan Hari Santri Nasional.

Harapannya dengan adanya beras ini dapat membantu kebutuhan pangan santri.  “Semangat belajar para santri ini perlu dijaga, salah satu cara yang ACT lakukan dengan program BERISI,” ungkap Kepala Cabang ACT Jabar Renno Mahmoeddin.(rls)

Editor: Ilham Yafiz
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved