Berita Riau

Sukses Panen Padi 2,5 Ton, Dulu Petani Teluk Lanus Siak Riau Selalu Gagal Panen karena Banjir

Kampung Teluk Lanus memiliki populasi lebih kurang 1.000 orang. Jalan penghubung pusat kecamatan ke kampung itu belum ada sama sekali.

Sukses Panen Padi 2,5 Ton, Dulu Petani Teluk Lanus Siak Riau Selalu Gagal Panen karena Banjir
istimewa
Pembangunan irigasi di Teluk Lanus tampak berhasil menghambat banjir di areal pesawahan di kampung itu, Kamis (14/11/2019). 

TRIBUNSIAK.COM, SIAK - Warga Teluk Lanus, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Provinsi Riau was-was bila musim hujan tiba.

Karena buaya naik ke areal pertanian mereka yang direndam banjir. Anak-anak dikurung di dalam rumah untuk menghindari risiko didigit buaya.

Sebab, beberapa kasus konflik manusia dan buaya terjadi di kampung itu. Lahan pertanian mereka pun kerap gagal panen akibat tingginya debit air.

"Baru 2 tahun ini areal pertanian kami tidak digenangi banjir. Karena masuk pembangunan saluran irigasi ke kampung kami, kalau tidak entahlah, tak terbayang masa depan kami lagi," kata Jamal, Ketua Kelompok Tani Permata Hati, Kampung Teluk Lanus, Kamis (14/11/2019).

Kampung Teluk Lanus memiliki populasi lebih kurang 1.000 orang. Jalan penghubung pusat kecamatan ke kampung itu belum ada sama sekali.

Menuju kampung itu haruslah menumpang perahu kayu dari pelabuhan Buton, meski kampung itu satu daratan dengan Sungai Apit. Sama-sama pesisir pantai Sumatera Timur. Dari Pelabuhan Buton, perjalanan laut ditempuh 5 jam lamanya.

Penduduk di kampung itu terdiri dari Orang Asli Melayu (OAM) dan Jawa transmigrasi. Mereka hidup sebagai petani kecil dan menjelajahi hutan- rimba. Sebagian kampung itu merupakan hutan belantara dan Hutan Tanaman Industri (HTI) milik April Group.

"Kami mencoba segala hal untuk mencari nafkah. Kami punya sawah, selama ini hasil panen hanya 20 kg 1 Ha, karena banjir. Sejak 2 tahun ini, Alhamdulillah sudah 2,5 ton 1 Ha," ungkap Jamal.

Kepala Dinas Pertanian Siak Budiman Safari mengatakan, Dinas PU Tarukim Siak membangun proyek pengairan di sana sejak 2018 hingga 2019. Banjir yang biasanya menggenangi lahan mereka sudah disalurkan melalui saluran air tersebut.

"Petani sekarang sudah panen 2,5 ton per hektare, sejak adanya irigasi dan pintu air. Kami sedang mencari varietas padi yang cocok untuk dikembangkan di sana," kata dia.

Halaman
123
Penulis: Mayonal Putra
Editor: Nurul Qomariah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved