Pencabulan Masih Mendominasi Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Pekanbaru

Sampai Oktober 2019 tercatat sudah ada 113 kasus terhadap perempuan dan anak. Dari jumlah itu, kasus pencabulan mendominasi.

Pencabulan Masih Mendominasi Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Pekanbaru
tribun pekanbaru
Seorang anak menjajakan tisu di pertigaan Jalan Tuanku Tambusai dan Jalan Sudirman beberapa waktu lalu. Anak-anak di jalanan berpotensi jadi korban kekerasan dan pelecehan seksual. 

tribunpekanbaru.com - Sejumlah anak masih saja terlihat di jalanan. Para anak ini rentan menjadi korban kekerasan di jalanan. Tidak hanya terancam jadi korban kekerasan fisik, mereka juga terancam menjadi korban kekerasan seksual.

Unit Layanan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) mencatat, ada ratusan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di Kota Pekanbaru. Mereka mencatatnya dari rentang Januari hingga Oktober 2019.

Jumlah kasus yang tercatat pada rentang waktu tersebut mencapai 113 kasus. Dan kasus pencabulan mendominasi pada kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Kasus pencabulan di Kota Pekanbaru ini tercatat mencapai 35 kasus. Pelaku pencabulan terhadap anak di Kota Pekanbaru ini, didominasi oleh orang dekat korban. Pihak yang seharusnya menjadi pelindung anak, malah berpotensi menjadi pelaku kekerasan terhadap anak.

"Makanya kami mengajak keluarga agar menjaga anak-anaknya dari para predator anak," ujar Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Pekanbaru, Sarkawi, kepada Tribun, Minggu (17/11).

Kasus lainnya yang mendominasi adalah kasus pengabaian hak anak yang tercatat sebanyak 23 kasus. Ada juga kasus kekerasan dalam rumah tangga, dan kasus anak yang berhadapan dengan hukum.

Kasus kekerasan dalam rumah tangga tercatat sebanyak 17 kasus. Sedangkan kasus anak berhadapan dengan hukum sebanyak 18 kasus.

Selain itu, ada juga kasus penelantaran anak dan kasus kekerasan terhadap anak. Di luar itu, DP3A juga menangani kasus kekerasan berbasis gender, hak asuh anak, dan kenakalan anak.

Kasus lainnya yang dialami oleh anak di Kota Pekanbaru di antaranya anak yang tidak mendapat haknya, anak yang berhadapan dengan hukum, KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), kasus kekerasan terhadap anak bukan di lingkup rumah, hingga kasus penelantaran anak.

"Para anak yang menjadi korban ini didampingi oleh konselor. Sedangkan untuk pendampingan hukum dilakukan oleh advokat," katanya.

Halaman
12
Penulis: Fernando
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved