Perdagangan Kulit Harimau

Simpan 4 Janin Harimau Dalam Toples Plastik, Pelaku Sindikat Perdagangan Harimau Ditangkap di Riau

Tim gabungan membekuk 5 orang pelaku Perdagangan Kulit Harimau dan janin Harimau Sumatra, Sabtu (7/12/2019) pagi.

Simpan 4 Janin Harimau Dalam Toples Plastik, Pelaku Sindikat Perdagangan Harimau Ditangkap di Riau
tribunpekanbaru.com
Simpan 4 Janin Harimau Dalam Toples Plastik, Pelaku Sindikat Perdagangan Harimau Ditangkap di Riau 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Tim gabungan yang terdiri dari Intel Polhut Pasopati, Siber Patrol Ditjen Gakkum KLHK serta Badan Intelijen dan Keamanan Polri, membekuk 5 orang pelaku Perdagangan Kulit Harimau dan janin Harimau Sumatra, Sabtu (7/12/2019) pagi.

Penangkapan 5 pelaku sindikat Perdagangan Kulit Harimau tersebut dibenarkan oleh Alfian Hardiman selaku Kepala Seksi Wilayah II Balai Gakkum Sumatera Kementerian LHK.

"Ya, sindikat Perdagangan Kulit Harimau ditangkap oleh tim gabungan setelah mendapatkan informasi dari masyarakat.," sebutnya.

Dari tangan pelaku, tambah Alfian, aparat mengamankan kulit harimau dan 4 janin harimau.

Barang bukti tersebut disimpan pelaku di rumah mereka di Desa Teluk Binjai, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan dan di Kelurahan Pangkalan Lesung, Kecamatan Pangkalan Lesung, Kabupaten Pelalawan.

Para pelaku tersebut berinisial MY, SS,  E (istri pelaku MY) serta SS dan TS.

BREAKING NEWS : Tim Gabungan Tangkap Sindikat Perdagangan Kulit dan Janin Harimau Sumatera

Alfian menyebutkan, saat ini seluruh pelaku sudah diamankan oleh pihak kepolisian.

Selanjutnya, pihaknya  akan menerapkan proses penegakan hukum sebagaimana mestinya.

Selain itu, upaya pemantauan aktivitas perdagangan baik secara langsung maupun melalui siber patrol (perdagangan onliine) yang terkait dengan aktifitas para pelaku, juga akan ditingkatkan.

"Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh PPNS KLHK, terhadap pelaku diterapkan Pasal 40 Ayat 2 Jo. Pasal 21 Ayat 2 Huruf d Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp 100 juta," pungkasnya.

Halaman
12
Penulis: Rizky Armanda
Editor: rinalsagita
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved