Kumpulkan Pedagang Kosmetik, BPOM Dumai Beberkan Dampak Buruk Bahan Berbahaya pada Kosmetik

BPOM Dumai mengundang puluhan pedagang kosmetik untuk membahas efek yang ditimbulkan oleh bahan berbahaya yang terdapat pada kosmetik ilegal.

Kumpulkan Pedagang Kosmetik, BPOM Dumai Beberkan Dampak Buruk Bahan Berbahaya pada Kosmetik
tribun pekanbaru
BPOM Dumai mengundang puluhan pedagang kosmetik pada acara Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) terkait penggunaan bahan berbahaya pada kosmetik, Selasa (10/12). 

tribunpekanbaru.com - Kantor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), mengajak puluhan pedagang kosmetik di Kota Dumai mengikuti kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), terkait penggunaan bahan berbahaya pada kosmetik dan pengawasan kosmetik di Kota Dumai. Kegiatan ini digelar Selasa (10/12).

Kegiatan KIE yang berlangsung di Hotel The Zuri Dumai ini, menghadirkan narasumber dari Badan POM yakni Emi Amalia dan Ully Mandasari, serta diikuti puluhan pedagang kosmetik di Kota Dumai.

Kepala Kantor BPOM Kota Dumai, Emi Amalia, menjelaskan bahwa Kota Dumai merupakan wilayah ekonomi yang strategis dan berkembang dengan cepat. Produk kosmetik yang awalnya diperjualbelikan secara konvensial, kemudian dijual langsung melalui multi level marketing (MLM). Saat ini, kosmetik bahkan sudah banyak yang dipasarkan secara daring (online).

"Produk kosmetik, menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, menduduki peringkat kedua sebagai produk yang paling sering dikonsumsi dari belanja online setelah produk busana," katanya.

Disebutkan, berdasarkan data BPOM, jumlah produk kosmetik ternotifikasi mengalami peningkatan dari 35.203 produk pada tahun 2015, menjadi 51.025 produk pada tahun 2017.

"Ini salah satunya merupakan efek kemudahan proses notifikasi melalui sistem notifikasi online BPOM, yang memungkinkan nomor notifikasi kosmetik diterbitkan dalam 14 hari kerja," sebutnya.

Menurutnya, perubahan pola perdagangan dan perkembangan industri kosmetik menjadi salah satu perhatian BPOM. Bahkan, menjadi tanggung jawab BPOM untuk meningkatkan efektivitas pengawasan, guna memastikan kosmetik yang beredar telah memenuhi persyaratan keamanan, manfaat, mutu, dan penandaan produk.

Berdasarkan pengawasan Kantor BPOM Dumai pada tahun 2018 sampai 2019, ditemukan kosmetik Tanpa Izin Edar (TIE) dan dicurigai mengandung bahan berbahaya dengan nilai ekonomi sekitar Rp698,009,815.

Berdasarkan data-data tersebut, kata Emi, diperlukan upaya intensifikasi pemberian informasi yang benar tentang bahaya kosmetik yang mengandung bahan berbahaya, dan dampak bahan berbahaya bahan-bahan itu terhadap kesehatan.

"Didasarkan hal tersebut, BPOM selaku instansi pemerintah yang bertanggung jawab untuk pengawasan Kosmetik berkewajiban melakukan penyebaran informasi tentang kosmetik yang mengandung bahan berbahaya. Kegiatan ini merupakan salah satu tupoksi BPOM untuk melindungi masyarakat," ujarnya. (dkp)

Penulis: Donny Kusuma Putra
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved