Berita Riau

Pengakuan Korban Penganiayaan oleh 3 Saudara Kandung di Riau, Berawal dari Perpisahan Orangtua

Sat Reskrim Polres Pelalawan Riau berhasil menangkap tiga kakak beradik pelaku penganiayaan dan pengeroyokan terdahap saudara kandung mereka.

Ist
Pendeta Iwan Sarjono Siahaan saat dirawat di RSUD Selasih Pangkalan Kerinci usai dikeroyok tiga orang saudara kandung dan ayahnya pasa 5 Desember lalu. 

PANGKALAN KERINCI - Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Pelalawan Riau berhasil menangkap tiga kakak beradik pelaku penganiayaan dan pengeroyokan terdahap saudara kandung mereka.

Peristiwa penganiayaan ini terjadi tanggal 5 Desember lalu.

Korban pemukulan dan pengeroyokan bernama Iwan Sarjono Siahaan yang berprofesi sebagai pendeta Gereja Tuhan di Indonesia (GTDI) Bukit Kesuma bersama dua orang jemaatnya bernam Cerlin Mendrova dan Darwin Mendrova.

Sedangka pelakunya bernama YS alias Yusuf, JFS alias Jhon, dan DS alias Daniel.

Ketiga pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka dan dilakukan penahanan.

Menurut penuturan korban Iwan Sarjono Siahaan, kasus pemukulan yang dialaminya bukanlah kali pertama selama ini.

Lebih mirisnya pelaku pemukulan merupakan saudara kandungnya dan dimotori oleh ayahnya sendiri.

Padahal selama ini ia merasa tidak ada masalah dengan kakak, adik serta ayah kandungnya itu

"Kalau dipukuli dan dikeroyok, sudah ada tiga kali saya alami semuanya sudah saya laporkan ke polsek, Polres, dan sampai ke Polda," terang Iwan Siahaan kepada tribunpekanbaru.com, Selasa (17/12/2019).

Penganiayan yang dialami pendeta Gereja Tuhan Di Indonesia (GTDI) Sorak Haleluya Desa Bukit Kesuma ini berimbas kepada dua orang jemaatnya Cerlin dan Daniel.

Ia memastikan persoalan yan timbul bukan karena agama atau gereja, namun murni masalah keluarga yang berlarut-larut hingga berujung tindak pidana.

Terakhir pemukulan terjadi pada 5 Desember lalu di komplek gereja yang dipimpinnya.

Pagi itu Iwan bersama para jemaatnya sedang bergotong royong dan memasak makan untuk konsumsi perayan natal yang digelar sore harinya.

Saat sibuk mempersiapkan perayaan hari besar umat nasrani itu, tiba-tiba tiga saudara kandungnya beserta ayah mereka datang mengunakan mobil.

Mereka langsung mencari keberadaan korban Iwan yang saat itu sedang membantu para jemaatnya berkemas.

Cekcok mulutpun tak terelakan antara anggota keluarga itu.

Para pelaku yang datang berupaya menjangkau Iwan yang dibela oleh ibu kandungnya.

Lantaran kekuatan tak seimbang, para pelaku memukul korban bertubi-tubi hingga terluka parah.

"Bahkan sempat saya mau ditikam, saya tangkis dengan kaki jadi celana saya kena. Padahal mereka semua saudara saya, bapak saya yang masih sedarah dengan saya," tandasnya.

Ia bisa selamat setelah dilerai warga dan anggota polisi serta langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.

Korban menjalani rawat inap selama tiga hari dengan dijaga ibu, anak, istri, dan para jemaatnya.

Ketika dirinya diopname di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Selasih, disitulah terjadi penganiayaan terhadap korban Darwanin dan Cerlin oleh pelaku di areal gereja.

"Semua foto-foto adan video penganiayan saya punya semua. Jadi langsung saya laporkan ke Polda Riau dan menyerahkan semua bukti-buktinya," tandas Iwan.

Ia mengakui awal mula permasalahan ternyatanya perpecahan dalam rumah tangga perkawinan ayah dan ibunya.

Dari enam orang bersaudara, Iwan bersama adik perempuannya memilih mendukung ibunya sedang empat lagi pro ke ayahnya.

Perseteruan mulai memanas saat harta benda yang selama ini dibeli ayah dan ibunya menjadi perebutan.

Mulai dari kebun sawit, mobil, hingga alat berat ingi dikuasai kubu ayahnya.

Persekusi hingga penganiayaan terus terjadi kepadanya serta keluarganya maupun jemaatnya

"Sudah tiga minggu kami tidak beribadah, karena takut didatangi terus. Jemaat saya juga ketakutan. Saya hanya meminta keadilan saja kepada penegak hukum," tutupnya. (Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)

Penulis: johanes
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved