Banjir di Riau

Naik Pompong Seberangi Banjir di Langgam Riau, Warga Minta Pemda Pelalawan Siapkan Pelampung

Banjir di Riau, hampir satu pekan warga menggunakan jasa penyeberangan dengan kayu bermotor alias pompong dari dan menuju Kecamatan Langgam.

Naik Pompong Seberangi Banjir di Langgam Riau, Warga Minta Pemda Pelalawan Siapkan Pelampung
Istimewa
Warga menggunakan jasa penyeberangan pompong di Kecamatan Langgam akibat banjir, Jumat (20/12/2019). 

PANGKALAN KERINCI - Hampir satu pekan warga menggunakan jasa penyeberangan dengan kayu bermotor alias pompong dari dan menuju Kecamatan Langgam, setelah banjir menggenangi Jala Poros Langgam dan akses Desa Lubuk Ogung.

Kapal pompong melayani penyeberangan dari Pangkalan Kerinci ke Langgam maupun sebaliknya dan dari Lubuk Ogung ke Langgam serta sebaliknya.

Masyarakat terpaksa mengunakan jasa penyeberangan pompong lantara tidak ada kendaraan yang bis melintasi kedua jalur utama menuju kecamatan Langgam itu sejam banjir semakin meninggi.

"Ada banyak pompong milik warga yang aktif menyeberangkan masyarakat. Jalannya bergiliran sesuai kesepakatan," kata warga Langgam, Rojuli (45) kepada tribunpekanbaru.com, Jumat (20/12/2019) pekan lalu.

Tokoh pemuda Langgam ini menyebutkan, pompong yang mengais rezeki di kala banjir itu merupakan milik warga Kelurahan Langgam maupun Desa Rantau Baru, tempat perhentian dan pemberangkatan kapal. Sistem pembayaran jasa penyeberangan pompong beragam dan tak ada standar yang digunakan.

Ada kalanya satu sepeda motor dikenakan Rp 150 ribu beriku orangnya. Ada juga pemilik pompon mematok harga hingga Rp 250 ribu atau Rp 300 ribu satu kali trip perjalanan. Dimana kapasitas pompong tiga sampai empat sepeda motor sesuai ukurannya artinya satu motor bisa membayar Rp 100 ribu atau sedikit lebih. Seluruh kendaran harus diikat dengan ketat agar tidak terjatuh ke kanal atau sungai.

"Perjalanan memakan waktu 1 jam lebih jika melewati jalur cepat. Namun kalau mengikuti arus sungai lebih lama, bisa sampai 3 jam," terang Rojuli.

Pria bertubuh gemuk ini menceritakan pengalamna menggunakan pompong selama banjir tahunan di Langgam.

Seluruh pemilik pompong pasti memilih jalur cepat dari pada mengikuti putaran arus Sungai Kampar.

Ada titik sepanjang jalur ini yang musti diwaspadai Sungai Teluk Air Berderas, tepat ditengah perjalanan. Arusnya sangat kuat dan dalam, jika nahkod tidak pandai kapal bisa karam atau bahkan tenggelam.

Halaman
123
Penulis: johanes
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved