Perayaan Natal 2019

Ahok Dapat Remisi Natal Bersama 80 Warga Binaan Lainnya di Lapas Bengkalis Riau

Ahok mendapatkan pengurangan masa tahanan selama satu bulan dari masa tahanannya.

Ahok Dapat Remisi Natal Bersama 80 Warga Binaan Lainnya di Lapas Bengkalis Riau
Lapas Bengkalis
Kepala Lapas Bengkalis Maizar saat memberikan remisi kepada tahanan yang merayakan natal, Rabu (25/12/2019) pagi. 

BENGKALIS - Momen perayaan natal merupakan monen bahagia bagi umat Nasrani.

Begitu juga umat nasrani di Lembaga Pemasyarakatan Bengkalis, selain merayakan hari natal beberapa warga binaan yang beragama nasrani mendapat remisi khusus pada perayaan kali ini.

Satu diantaranya Ahok alias Beruk yang memiliki nama asli Agustinus ini mendapatkan pengurangan masa tahanan selama satu bulan dari masa tahanannya.

Ahok merupakan narapidana kasus pemerkosaan di Rupat Utara yang ditangkap polisi pada tahun 2017 lalu.

Selain Ahok ada sebanyak 80 orang warga binaan lainnya juga mendapatkan remisi.

Namun jumlah remisi yang di dapatkan beragam setiap narapidana.

Ilustrasi
Ilustrasi sel tahanan. (tribunnews.com)

Hal ini diungkap Kepala Lapas Kelas II A Bengkalis Maizar kepada awak media, Rabu (25/12) pagi. Menurut dia, pada perayaan natal ini sebanyak 81 orang yang diajukan remisinya.

"Remesi yang diberikan beragam, di antaranya remisi satu bulan diberikan kepada 51 orang warga binaan. Remisi satu bulan lima belas hari sebanyak tujuh orang warga binaan, remisi 2 bulan sebanyak dua orang warga binaan. Sementaran remisi lima belas hari sebanyak 21 orang warga binaan," ungkap Maizar.

Dari jumlah remisi ini, pada perayaan natal tahun ini tidak ada warga binaan yang bebas.

Meskipun tidak ada bebas, Lapas Kelas II A Bengkalis pada kesempatan ini juga memberikan bebas bersyarat kepada para warga binaan dalam program Carsh program.

Menurut Maizar, crash program ini merupakan program percepatan bebas dalam rangka menanggulangi over kapasitas di Lapas.

Mereka yang mendapat program ini warga binaan yang menjalani masa hukuman lebih dari dua pertiga masa hukuman, namun tidak mengajukan pengurusan bebas bersyarat.

"Mereka mereka ini kita panggil kemudian kita tanya kenapa belum mengurus bebas bersyarat mereka. Setelah kita panggil ternyata mereka merupakan orang orang yang jarang di kunjungi dan keluarganya entah dimana," ungkap Kalapas.

Menurut dia, dalam rangka percepatan mereka bebas, maka Lapas membuat crash program. Dimana pengurusan Bebas bersyarat mereka dijamin oleh negara yakni pihak Bapas.

"Jadi dari program ini ada sebanyak 28 orang warga binaan yang kita ikutkan. Kemudian yang bebas hari karena sudah memiliki SK sebanyak 15 orang," tandasnya.(Tribunpekanbaru.com/Muhammad Natsir)

Penulis: Muhammad Natsir
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved