Riau Bebas Karhutla

FOTO: Konfrensi Pers Sumatera Jungle Run di Pekanbaru, Pembuktian Riau Bisa Bebas Karhutla

Event SRJ ini akan membuktikan bahwa masyarakat Riau mampu menjaga hutan sebagai anugerah

FOTO: Konfrensi Pers Sumatera Jungle Run di Pekanbaru, Pembuktian Riau Bisa Bebas Karhutla - foto_konfrensi_pers_sumatera_jungle_run_di_pekanbaru_pembuktian_riau_bisa_bebas_karhutla_1.jpg
Tribun Pekanbaru/Theo Rizky
Konfrensi pers launching Sumatera Jungle Run di kawasan Tugu Zapin, Jalan Sudirman saat hari bebas kendaraan bermotor, Minggu (5/1/2020). Sumatera Jungle Run (SJR) yang digelar di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim, Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau bukan hanya bertujuan sebagai sport tourism saja, tetapi juga merupakan bagian dari kampanye menjaga hutan. (Tribunpekanbaru.com/Theo Rizky)
FOTO: Konfrensi Pers Sumatera Jungle Run di Pekanbaru, Pembuktian Riau Bisa Bebas Karhutla - foto_konfrensi_pers_sumatera_jungle_run_di_pekanbaru_pembuktian_riau_bisa_bebas_karhutla_2.jpg
Tribun Pekanbaru/Theo Rizky
Konfrensi pers launching Sumatera Jungle Run di kawasan Tugu Zapin, Jalan Sudirman saat hari bebas kendaraan bermotor, Minggu (5/1/2020). Sumatera Jungle Run (SJR) yang digelar di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim, Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau bukan hanya bertujuan sebagai sport tourism saja, tetapi juga merupakan bagian dari kampanye menjaga hutan. (Tribunpekanbaru.com/Theo Rizky)
FOTO: Konfrensi Pers Sumatera Jungle Run di Pekanbaru, Pembuktian Riau Bisa Bebas Karhutla - foto_konfrensi_pers_sumatera_jungle_run_di_pekanbaru_pembuktian_riau_bisa_bebas_karhutla_3.jpg
Tribun Pekanbaru/Theo Rizky
Konfrensi pers launching Sumatera Jungle Run di kawasan Tugu Zapin, Jalan Sudirman saat hari bebas kendaraan bermotor, Minggu (5/1/2020). Sumatera Jungle Run (SJR) yang digelar di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim, Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau bukan hanya bertujuan sebagai sport tourism saja, tetapi juga merupakan bagian dari kampanye menjaga hutan. (Tribunpekanbaru.com/Theo Rizky)
FOTO: Konfrensi Pers Sumatera Jungle Run di Pekanbaru, Pembuktian Riau Bisa Bebas Karhutla - foto_konfrensi_pers_sumatera_jungle_run_di_pekanbaru_pembuktian_riau_bisa_bebas_karhutla_4.jpg
Tribun Pekanbaru/Theo Rizky
Konfrensi pers launching Sumatera Jungle Run di kawasan Tugu Zapin, Jalan Sudirman saat hari bebas kendaraan bermotor, Minggu (5/1/2020). Sumatera Jungle Run (SJR) yang digelar di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim, Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau bukan hanya bertujuan sebagai sport tourism saja, tetapi juga merupakan bagian dari kampanye menjaga hutan. (Tribunpekanbaru.com/Theo Rizky)

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU – Sumatera Jungle Run (SJR) yang digelar di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim, Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau bukan hanya bertujuan sebagai sport tourism saja, tetapi juga merupakan bagian dari kampanye menjaga hutan.

Disampaikan Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi, event SRJ ini akan membuktikan bahwa masyarakat Riau mampu menjaga hutan sebagai anugerah dan SJR dipersembahkan oleh masyarakat Riau untuk memastikan hutan di Riau akan tetap lestari.

“Polda Riau menjadi bagian dalam event ini merasa bangga dan terhormat, maka saya yakin evet ini akan menjadi event yang luar biasa, ini adalah event internasional yang kita selenggarakan di Riau dan menjadi event yang terbesar di Sumatera. Panitia terus memenuhi standar yang harus dipenuhi sebagai event internasional sehingga terus meningkatkan perbaikan sana-sini sehingga event ini akan terus terselenggara setiap tahunnya dan ini menjadi event yang sudah terdaftar pada event International Trail Running Association  yang kemudian kita semua akan merasakan bahwa peserta nya bukan hanya dari kita tapi juga dari manca negara,” ujar Kapolda saat konfrensi pers di kawasan Tugu Zapin, Jalan Sudirman saat hari bebas kendaraan bermotor, Minggu (5/1/2020).

Ia juga menambahkan Sumatera Jungle Run 2020 tersebut sebagai pembuktian Riau bisa bebas Karhutla.

Sementara itu Bupati Siak Alfredi mengungkapkan kebahagiaannya bahwa Kabupaten Siak dipilih menjadi pusat penyelenggaraan event tersebut, karena memang ada beberapa tempat di Provinsi Riau yang cocok untuk event serupa .

“Kami ingin mempromosikan siak sebangai tujuan wisata yang ada di Sumatera, karena sudah banyak event yang sudah dibuat di Siak, seperti Tour de Siak, BMX Internasional, siak internasional serindit boat race dan juga gasing internasional. Jadi ini semua bagian untuk memasarkan wisata siak karena di Siak ada satu icon wisata yaitu Istana Siak dan beberapa objek wisata lainnya,” jelas Alfredi.

Ditempat yang sama, Kepala Balai Besar Konsevarsi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Suharyono tak kalah antusias menyambut acara itu, menurutnya event tersebut merupakan wujud masyarakat dalam mencintai lingkungan.

“Akhirnya, tentang kelestarian lingkungan, kelestarian  alam, kelestarian satwa riau bisa dikampanyekan dengan skala internasionl, Riau merupakan rumah tidak hanya bumi melayu saja, Riau merupakan rumah juga bagi gajah sumatera, bagi harimau sumatera dan bagi satwa-satwa yang dilindungi yang ada di sumatera, untuk itu kegiatan pasti akan kami dukung sepenuh hati. Kenapa? karena inilah saatnya kepedulian terhadap kelestarian hutan bagi rumah para satwa itu,” kata Suharyono.

Dilanjutkannya, kelestarian terhadap satwa  merupakan tanggung jawab semua pihak.

“Jangan sampai anak cucu keturunan kita hanya dengar cerita bahwa di Riau pernah ada gajah, harimau, tinggal di buku cerita saja, menyusul punahnya harimau bali dan harimau jawa. Sehingga kita harapkan harimau sumatera dan gajah sumatera tetap ada. Moga-moga dengan kegiatan ini membawa kesadaran untuk kita semua untuk berama-sama melestarikan alam di bumi melayu ini,” tambah Suharyono.

Sehari sebelumnya, dua SJR ambasador yang merupakan pelari professional, yaitu pemenang pertama Tambora Challenge 320 Km 2018 William Binjai dari Sumatera Utara dan 3rd Woman Asia Trail Master 2019 Asuka Nakajima dari Jepang sudah mencoba langsung jalur 21 km yang masuk dalam kawasan konservasi tersebut.

Menurut Asuka, jalur yang ia lalui cukup seru, banyak ranting kayu pada jalur itu juga menjadi tantangan tersendiri karena berarti alamnya masih alami, saat berlari ia juga dapat melihat beberapa gajah jinak yang berukuran cukup besar.

“Gajahnya lebih besar dari yang ada di Jepang, disana cuma ada di kebun binatang tidak seperti disini,” kata Asuka.

Ia juga berpesan kepada para peserta nantinya yang ikut agar selalu tersenyum menikmati perlombaan.

“Tetap jaga cairan dalam tubuh dan jangan kehilangan rute,” saran Asuka dalam Bahasa Inggris. (Tribunpekanbaru.com/Theo Rizky)

Penulis: Theo Rizky
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved