Tak Lagi Dapat Gaji, Guru Honor SD di Simalungun, Sumut, Mogok Kerja

Orangtua murid sepakat menyumbang Rp20 ribu per murid untuk membayar gaji para guru honor agar kembali mengajar.

Tak Lagi Dapat Gaji, Guru Honor SD di Simalungun, Sumut, Mogok Kerja
tribun medan
Para murid sedang belajar tanpa guru di kelas SD Negeri Parbalohan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Selasa (14/1). Para guru honor mogok mengajar karena tidak lagi digaji. 

tribunpekanbaru.com - Empat orang guru di SD Negeri Nomor 091404 Parbalohan, Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara, memilih mogok kerja karena mulai tahun ini tidak lagi mendapatkan honor, jika tidak memiliki Surat Keputusan pengangkatan pegawai honorer yang telah diperbarui.

Mogok kerja ini membuat para murid di empat kelas hanya duduk di dalam kelas tanpa keberadaan guru. Mereka pun hanya saling bercanda dengan rekan sekelasnya.

Siti Adabiah Damanik, guru honorer yang ikut mogok kerja mengatakan, hingga saat ini belum ada solusi dari pimpinan terkait persoalan ini. Selama ini, honor yang mereka terima setiap bulan hanya sebesar Rp500 ribu.

Katanya, kepala sekolah juga melarang penggajian guru honorer menggunakan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

"Kepsek mendatangi guru honor, bilang tidak ada lagi gaji dari Pemkab. Sekarang untuk operasional sekolah semua. Untuk apa operasional sekolah kalau guru tidak ada? Jadi kita berpikir untuk apa gunanya itu semua?" kata Siti, Selasa (14/1).

Menurutnya, Dinas Pendidikan Kabupaten Simalungun mengharuskan setiap guru honorer memperpanjang masa SK pengangkatan.

"Kepsek kami mengatakan, sesuai dengan SK saja bekerja. Kalau bapak itu tidak bikin SK kami, ya kami enggak kerja lah. Bapak itu diam aja. Makanya kami enggak bekerja," ujarnya.

Orangtua murid, Arya Sitio, mengaku prihatin dengan kondisi sekolah. Arya yang bekerja sebagai nelayan, mengharapkan Pemkab Simalungun peduli terhadap kondisi pendidikan. Apalagi murid yang diajar merupakan masa depan keluarga.

"Saya lihat anak-anak itu tidak ada belajar lagi. Hanya belajar gitu-gitu saja tanpa ada guru. Jadi kami semua orangtua murid sepakat lah mendatangi sekolah kemarin," ujarnya.

Arya mengatakan, kebijakan yang dikeluarkan Pemkab Simalungun membuat anak murid menjadi terlantar. Kata Arya, orangtua sudah sepakat menyumbangkan Rp20 ribu per siswa untuk menggaji para guru honor.

Halaman
12
Penulis: rinaldi
Editor: rinaldi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved