Berita Riau

Bupati Sebut Kasus Gizi Buruk di Pelalawan Riau Kebanyakan Warga Pendatang dan Karyawan Perusahaan

Warga yang terindikasi gizi sebagian besar adalah warga pendatang baru dan pegawai perusahaan yang orangtuanya bekerja di perusahaan tertentu.

Bupati Sebut Kasus Gizi Buruk di Pelalawan Riau Kebanyakan Warga Pendatang dan Karyawan Perusahaan
Tribun Pekanbaru/Johanes Tanjung
Khalila, bayi berusia 11 bulan yang menderita gizi buruk akhirnya meninggal dunia di RSUD Selasih Pangkalan Kerinci. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PANGKALAN KERINCI - Menanggapi tingginya kasus gizi buruk, khsuusnya yang meninggal, Bupati Pelalawan, Riau HM Harrismengatakan, penderita yang selama ini ditangani RSUD Selasih Pangkalan Kerinci berhasil selamat dan kembali sehat.

Hanya saja kondisi pasien terakhir cukup kritis hingga akhirnya meninggal dunia meski sudah ditangani dengan maksimal.

"Sudah saya cek datanya, kebanyakan pasien gizi buruk ini merupakan warga pendatang baru. Dari daerah asalnya sudah sakit, sampai di Pelalawan semakin parah," kata Bupati Harris, Rabu (15/1/2020).

Harris menyebutkan, warga baru datang ke Pelalawan bertujuan untuk mencari pekerjaan di Pelalawan tanpa memiliki identitas yang lengkap.

Namun ia mengklaim jika seluruh pasien gizi buruk ditangani dengan baik dengan biaya yang ditanggung negara melalui program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Walaupun orangtua pasien belum sah menjadi warg Pelalawan dibuktikan melaui Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK).

Sewitri Siap Bertarung Gantikan Ayah,Putri Bungsu Bupati Pelalawan Bersaing Sehat dengan 2 Abangnya

Dua Bulan Putus, Jalan ke Desa Rantau Baru Pelalawan Riau Bisa Dilewati

Warga yang Rekam Data 5.000 Lebih, Disdukcapil Kuansing Riau Hanya Kebagian 4.000 Blangko KTP-el

Selain itu, lanjut Harris, warga yang terindikasi kena busung lapar sebagian besar dari areal perusahaan yang orangtuanya bekerja di perusahaan tertentu. Hal itu telah ditekankan kepada seluruh perusahaan yang beroperasi di Pelalawan agar memantau kesehatan karyawannya, termasuk gejala gizi buruk.

"Perusahaan-perusahaan juga harus bertanggungjawab terhadap pekerjanya. Kebanyakan karyawan mereka yang gizi buruk," ucap Harris.

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Pelalawan, Asril M.Kes menuturkan, meninggalkan bayi Khaila pasein gizi buruk bukan karena kelalaian RSUD ataupun penanganan tim medis yang kurang maksimal. Padahal upaya pengobatan dan pemberian asupan gizi telah dioptimalkan, namun takdir berkata lain dan pasien menghembukan nafas terakhir.

Sebenarnya, tambah Asril, pihaknya telah membentuk tim khusus untuk memantau gizi buruk di Pelalawan. Bahkan perusahaan-perusahan yang berpotensi gizi buruk telah dilakukan pendekatan dan pencegahan.

"Semua biaya bagi pasien gizi buruk kita tanggung. Yang pasti ditangani dulu, untuk urusan administrasi belakangan," imbuhnya.

Asril mengaskan, pasien gizi buruk yang ditangani selama tahun 2019 mencapai 40 pasien lebih dan seluruhnya selamat atau kembali sehat. Untuk tahun 2020 masih satu kasus dan akhirnya meninggal dunia. (Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)

Penulis: johanes
Editor: Nurul Qomariah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved