Pelalawan

NEWS VIDEO: Bayi Gizi Buruk Meninggal Dunia, Bupati Harris Desak Perusahaan Bertanggung Jawab

Harris menyebutkan, warga baru datang ke Pelalawan bertujuan untuk mencari pekerjaan di Pelalawan tanpa memiliki identitas yang lengkap.

TRIBUNPEKANBARU.COM, PANGKALAN KERINCI- Meski kondisi kesehatannya sempat membaik, bayi Khaila pasien gizi buruk yang dirawat di Rumah Sakit Umun Daerah (RSUD) Selasih Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan Riau akhirnya meninggal dunia, Minggu (12/1/2020)

Bayi berusia 11 bulan asal Desa Bagan Labuh Kecamatan Bunut tersebut menghembukan nafas terakhirnya di RSUD Selasih.

kasus Bayi  pasien gizi buruk di Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan Riau pada Minggu (12/1/2020) lalu menjadi sorotan publik.

Bupati Pelalawan, HM Harris, akhirnya angkat bicara terkait kasus gizi buruk yang semakin sering muncul di daerah Tuah Negeri Seiya Sekata ini.

Penderita gizi buruk yang selama ini ditangani RSUD Selasih Pangkalan Kerinci berhasil selamat dan kembali sehat. Hanya saja kondisi pasien terakhir cukup kritis hingga akhirnya meninggal dunia meski sudah ditangani dengan maksimal.

"Sudah saya cek datanya, kebanyakan pasien gizi buruk ini merupakan warga pendatang baru. Dari daerah asalnya sudah sakit, sampai di Pelalawan semakin parah," kata Bupati Harris kepada tribunpekanbaru.com, Rabu (15/1/2020).

Harris menyebutkan, warga baru datang ke Pelalawan bertujuan untuk mencari pekerjaan di Pelalawan tanpa memiliki identitas yang lengkap.

Namun ia mengklaim jika seluruh pasien gizi buruk ditangani dengan baik dengan biaya yang ditanggung negara melalui program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Walaupun orangtua pasien belum sah menjadi wargaPelalawan dibuktikan melaui Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK).

Selain itu, lanjut Bupati Pelalawan dua periode ini, warga yang terindikasi kena busung lapar sebagian besar dari areal perusahaan yang orangtuanya bekerja di perusahaan tertentu. Hal itu telah ditekankan kepada seluruh perusahaan yang beroperasi di Pelalawan agar memantau kesehatan karyawannya, termasuk gejala gizi buruk.

"Perusahaan-perusahaan juga harus bertanggungjawab terhadap pekerjanya. Kebanyakan karyawan mereka yang gizi buruk," tandas Harris.

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Pelalawan, Asril M.Kes menuturkan, meninggalkan bayi Khaila pasein gizi buruk bukan karena kelalaian RSUD ataupun penanganan tim medis yang kurang maksimal. Padahal upaya pengobatan dan pemberian asupan gizi telah dioptimalkan, namun takdir berkata lain dan pasien menghembukan nafas terakhir.

Sebenarnya, tambah Asril, pihaknya telah membentuk tim khusus untuk memantau gizi buruk di Pelalawan. Bahkan perusahaan-perusahan yang berpotensi gizi buruk telah dilakukan pendekatan dan pencegahan.

"Semua biaya bagi pasien gizi buruk kita tanggung. Yang pasti ditangani dulu, untuk urusan administrasi belakangan," imbuhnya.

Asril mengaskan, pasien gizi buruk yang ditangani selama tahun 2019 mencapai 40 pasien lebih dan seluruhnya selamat atau kembali sehat. Untuk tahun 2020 masih satu kasus dan akhirnya meninggal dunia. (Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)

Penulis: johanes
Editor: David Tobing
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved