Berita Riau

Diskes Pelalawan Riau Tangani 22 Kasus Gizi Buruk di 2019,Satu Penderita Meninggal di Awal 2020

Selama 2019 Diskes menangani 22 kasus. Dari analisis Diskes anak yang mengalami gizi buruk, kebanyakan orangtuanya pendatang dari luar Pelalawan.

Diskes Pelalawan Riau Tangani 22 Kasus Gizi Buruk di 2019,Satu Penderita Meninggal di Awal 2020
Tribun Pekanbaru/Johanes Tanjung
Pasien gizi buruk di awal tahun 2020 bernama Khalila akhirnya meninggal dunia setelah dirawat intensif di RSUD Selasih Pangkalan Kerinci. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PANGKALAN KERINCI - Persoalan izi buruk yang menjadi perhatian serius di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau sejak kasusnya muncul secara berturut-turut pada akhir tahun 2019 lalu.

Kemudian diperparah lagi dengan satu kasus gizi buruk pada awal Januari 2020 bernama Khaila yang akhirnya meninggal dunia. Bayi berusia 11 bulan itu sempat mengalami perubahan lebih baik.

Namun akhirnya meninggal dunia setelah lima hari dirawat intensif di RSUD Selasih Pangkalan Kerinci.

Selama 2019 Diskes menangani 22 kasus. Dari analisis Diskes anak yang mengalami gizi buruk, kebanyakan orangtuanya berasal dari masyarakat luar atau warga pendatang baru.

"Sebenarnya setiap tahun kasus gizi buruk di Pelalawan hampir sama. Hanya saja pada akhir 2019 terjadi secara beruntun. Akhirnya jadi pusat perhatian," terang Kepala Diskes Pelalawan, Asril M.Kes, Minggu (19/1/2020).

Pasangan Calon Perseorangan Belum Muncul di Pilkada Kuansing Riau

Waduh, Buaya Sepanjang 2 Meter Tersangkut di Jaring Nelayan di Kepulauan Meranti Riau

Pelamar CPNS Tak Ikuti Prosedur,Nasib Peserta Tak Stempel Kartu Belum Diputuskan BKPP Kuansing Riau

Asril menjelaskan, Diskes terlah membentuk tim gerak cepat yang khusus menangani kasus gizi buruk ataupun penyakit serupa.

Tim mulai melakukan sosialisasi serta pemetaan daerah-daerah yang menjadi lokasi munculnya gizi buruk.

Termasuk melakukan kerjasama dan pendekatan kepada perusahaan yang beroperasi di Pelalawan.

"Seperti yang sering disampaikan termasuk pernyataan Pak Bupati, kalau penderita gizi buruk kebanyakan warga pendatang baru ke Pelalawan," tambah Asril.

Kepala Bidang P2PL Diskes Pelalawan, dr Andan Dewi menyatakan, penyebab anak menderita gizi buruk hingga menyebabkan busung lapar, berawal dari kekurangan gizi saat ibu hamil secara berkepanjangan.

Seharusnya 100 hari masa pertumbuhan janin, seluruh kebutuhan gizi dan vitamin harus tercukupi mendorong pertumbuhannya. Ibu hamil jarang memeriksakan kandungannya ke puskesmas atau posyandu.

"Kalau sang ibu sering memeriksakan perkembangan janinnya ke posyandu, itu tak akan terjadi dan bisa diantisipasi," tutur Andan Dewi.

Kondisi itu akan diperparah ketika si anak lahir, asupan gizinya tidak teratur dari orangtunya.

Seharusnya diberikan vitamin, protein, dan pemacu perkembangan lainnya, tapi orangtua yang bersangkutan tampak lalai dan tidak memperhatikannya. Kelalain disebakan kesibukan kedua orangtuanya sibuk bekerja dan tak memberikan asi selama enam bulan kelahiran.

"Sering memaksakan memberi makanan belum pada waktunya agar bisa lepas air susu ibu. Padahal kondisi itu sangat riskan," tambahnya. (Tribunpekanbaru.com/johannes wowor tanjung)

Penulis: johanes
Editor: Nurul Qomariah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved