Pembangunan Gedung GDC Tak Selesai, Dirut RSUD Dumai Sebut Perusahaannya Sudah di Blacklist

Target pembangunan gedung GDC RSUD Dumai yang harusnya selesai enam bulan, ternyata sampai saat ini tak kunjung tuntas.

Pembangunan Gedung GDC Tak Selesai, Dirut RSUD Dumai Sebut Perusahaannya Sudah di Blacklist
tribun pekanbaru
Wako Dumai Zulkifli AS saat meninjau pembangunan GDC RSUD Dumai beberapa waktu lalu. Pembangunan ini tidak tuntas sesuai waktu yang tertuang dalam kontrak. 

tribunpekanbaru.com - Meski masa pengerjaan pembangunan Gedung Diagnostic Center (GDC) RSUD Dumai selama enam bulan sudah berakhir, namun GDC tersebut hingga hari ini masih tidak selesai dikerjakan.

Gedung berlantai dua yang rencananya akan digunakan untuk ruang laboratorium, cuci darah, kemoterapi, dan tindakan lainnya ini, diperkirakan hanya selesai dikerjakan sekitar 54 persen dari 100 persen proses pembangunan.

Gedung yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp18 miliar bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tersebut, sampai saat ini terlihat terbengkalai dan tidak dapat digunakan, karena proses pembangunannya tidak selesai.

Sesuai plang proyek yang terpasang di lokasi, pembangunan gedung ini dikerjakan oleh PT Sarjis Agung Indrajaya. Menurut data dari situs www.lpse.dumaikota.go.id, proyek ini tanda tangan kontrak pada 24 Juli 2019 dengan waktu pelaksanaan 150 hari. Artinya, proyek harusnya sudah selesai pada 24 Desember 2019 lalu.

Direktur RSUD Dumai dr Ridhonaldi mengungkapkan, pembangunan GDC memang tidak selesai dikerjakan oleh pihak rekanan yang ditunjuk untuk melakukan pembangunan.

"Pembangunan gedung GDC hanya selesai sekitar 54 persen, dan kontraknya sudah kita putuskan. Kontrak sudah putus dan perusahaan kita blacklist," katanya Rabu (29/1).

terkait proses pembayaran kepada pihak kontraktor, menurut Ridho sudah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. "Kita sudah membayar sekitar Rp5,8 miliar dari nilai proyek Rp18 miliar lebih, dan kita pastikan tidak ada kerugian negara dalam pembayaran pembangunan gedung ini," terangnya.

"Bayangkan saja, proyek pembangunan sudah selesai dikerjakan oleh kontraktor sekitar 54 persen namun kita hanya membayar sekitar Rp5,4 miliar. Itu jauh nilainya yang harus kita bayar dari prospek pekerjaan yang sudah diselesaikan," tambahnya.

Diterangkan, saat ini sisa anggaran dari pembangunan GDC ada di dalam kas negara, termasuk uang jaminan dari perusahaan sekitar Rp900 juta.

"Untuk proses pembangunan ke depan, diperkirakan hanya butuh dana sekitar Rp7 miliar untuk menyelesaikan pembangunan. Dengan demikian kita bisa hemat anggaran. Jelas kita untung di sana, dan dipastikan tidak ada kerugian negara," tambahnya.

Untuk proses pembangunanan lanjutan, akan kembali dilakukan kajian. Kemungkinan tahun depan sudah kembali dikerjakan, karena anggarannya masih ada dan bisa digunakan untuk proses pembangunan lanjutan. (dkp)

Penulis: Donny Kusuma Putra
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved