PON XX Papua, Masih Bisakah Riau di Posisi 10 Besar?

Rekam jejak prestasi Riau selama mengikuti PON penuh dengan grafik turun naik.

PON XX Papua, Masih Bisakah Riau di Posisi 10 Besar?
Internet
Logo KONI

tribunpekanbaru.com - Prestasi Riau di pentas olahraga nasional level Pekan Olahraga Nasional (PON) berjalan turun naik dan penuh liku. Kini Riau kembali dihadapkan pada PON XX di Papua, yang digelar 20 Oktober-2 November 2020 mendatang. Akankah Riau masih finis di posisi 10 besar terlempar?

Data Tribun, Riau sudah ikut 15 edisi PON. Prestasi paling tinggi diraih saat jadi tuan rumah PON XVIII tahun 2012. Saat itu Riau finis peringkat 6, sekaligus yang terbaik di zona Sumatra.

Saat PON Jabar tahun 2016, peringkat Riau turun satu trip yaitu finis peringkat 7 dengan 18 emas, 26 perak, dan 28 perunggu. Pertanyaannya sekarang, dengan modal SDM, anggaran, serta prestasi belakangan ini, mampukah Riau tidak keluar dari tujuh besar nasional di PON Papua nanti?

Ketua KONI Riau, Emrizal Pakis, Minggu (2/2) mengungkapkan, untuk PON Papua pihaknya tidak berpikir jumlah medali namun fokus peringkat.

"Kalau peringkat 1 sampai 4, daerah di Pulau Jawa itu seperti bergilir aja. DKI, Jabar, Jatim, dan Jateng. Mereka-mereka aja itu. Sementara untuk peringkat 5 tetap Kaltim (Kalimantan Timur) karena anggarannya besar, jadi mereka leluasa membina atlet," terang Emrizal.

Saat di Jabar lalu, Riau finish peringkat 7 disusul Papua peringkat 8. Namun kali ini Papua akan jadi tuan rumah PON, tentunya ingin lebih baik. Paling tidak Papua ingin di atas Riau.

"Insya Allah kita berusaha mewujudkan target dari Gubernur Riau yaitu 10 besar," katanya. Walaupun, menghadapi PON Papua ini KONI Riau mengaku kesulitan anggaran. Dari Rp43 miliar dibutuhkan, baru tersedia Rp20 miliar.

Riau pertama ikut PON tahun 1957 saat PON ke-IV di Makassar. Saat itu Riau belum berprestasi dan kontingen pulang tanpa medali. Namun di PON ke-V tahun 1961 di Bandung atau partisipasi yang kedua, Riau membawa pulang satu emas, satu perak, dan satu perunggu, serta finis peringkat 12 atau naik satu strip dari PON sebelumnya.

Namun prestasi ini tidak berlanjut di PON ke-VI tahun 1969 dan PON ke-VIII tahun 1973. Baru pada PON ke-IX tahun 1977 di Jakarta, tim Lancang Kuning bangkit. Sempat paceklik medali di dua edisi PON, Riau kemudian menyodok ke peringkat 10 besar dengan 3 emas, 2 perak, dan 6 perunggu. Ini berlanjut di PON X tahun 1981, saat Riau finis posisi 9 dengan 8 emas, 13 perak, dan 13 perunggu.

Pada PON XI 1985, medali Riau naik jadi 9 emas, 8 perak, dan 5 perunggu. Tapi secara peringkat anjlok empat strip atau finis di posisi 13. Penurunan prestasi ini berlanjut sampai lima edisi PON kemudian. Prestasi Riau kembali turun di PON XV tahun 2000. Koleksi 5 emas, 9 perak, dan 15 perunggu membuat Riau terhempas di peringkat 18.

Hasil PON 1981-2000 jadi pengalaman berharga. Riau bangkit pada PON XV 2004 di Sumsel dengan 16 emas, 14 perak, dan 20 perunggu. Posisi Lancang Kuning naik ke peringkat 11.

Prestasi berlanjut di PON XVII saat Riau masuk 10 besar dengan 16 emas, 14 perak, dan 23 perunggu. Puncaknya di PON XVIII 2012. Di kampung sendiri, Riau menembus dominasi Pulau Jawa yang selama ini jadi langganan 10 besar.

Kini, Riau menghadapi PON XX di Papua yang digelar tak lama lagi. Masihkah Riau bisa bertahan di posisi 10 besar, di tengah persoalan terutama anggaran yang membelit? Kita tunggu saja. (saf)

Penulis: Syafruddin Mirohi
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved