Curhat TKI Ilegal di Wuhan, Bisa Pulang Tapi Harus Dipenjara Dulu, Dilema di 'Kota Corona'

Dua TKI ilegal tersebut bernama Tiara asal Jawa Barat dan asal Lampung. Mereka tak bisa pulang dan terisolasi di Wuhan akibat wabah virus corona

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Curhat TKI Ilegal di Wuhan, Bisa Pulang Tapi Harus Dipenjara Dulu, Dilema di 'Kota Corona' 

Sebagian dari mereka disebutnya enggan berbicara kepada pers karena khawatir dengan status hukum mereka.

'Harus lapor ke KBRI'

Direktur Perlindungan WNI di Kemlu, Judha Nugraha, menyebut KBRI di Beijing telah memberi pengumuman kepada seluruh warga Indonesia di China.

Saat dikonfirmasi terkait keberadaan sejumlah buruh migran ilegal asal Indonesia di Wuhan, Judha berkata "harus memverifikasi dahulu informasi itu".

"KBRI sebelumnya sudah memberikan pengumuman agar WNI yang tinggal di wilayah karantina, termasuk Wuhan, agar segera lapor diri melaliu hotline KBRI Beijing," ujar Judha, Rabu siang.

'Berdaya mandiri'

Indah Morgan, seorang pegiat buruh migran di Shanghai, menyebut pemerintah China tidak mengeluarkan visa kerja bagi pekerja domestik.

Mayoritas buruh migran Indonesia di China disebutnya datang dengan visa turis dan bekerja tanpa dokumen resmi.

Izin keluar China bagi orang-orang tanpa visa, kata Indah, harus ditebus hukuman kurungan penjara. Durasinya tergantung waktu lebih tinggal di China.

Indah tergabung dalam grup perbincangan di aplikasi WeChat yang berisi buruh migran perempuan Indonesia dari berbagai kota di China.

Dalam beberapa pekan terakhir, Indah mengaku melihat kecemasan di antara asisten rumah tangga asal Indonesia tersebut.

"Setiap rabu pertama dan ketiga setiap bulan, ada konferensi online. Di situ kekhawatiran mereka jelas ada. Tapi mereka terbatas karena tidak memiliki paspor dan visa. Mereka tidak pegang apa-apa," kata Indah.

Namun dalam perbicangan di grup pesan singkat itu pula, kata Indah, para buruh migran asal Indonesia saling menguatkan psikologis satu sama lain, termasuk membantu rekan yang kesulitan biaya saat jatuh sakit.

"Kita seharusnya tidak mengikuti kekhawatiran itu dan segera mengganti pikiran bahwa kita punya agama dan tujuan untuk bertahan di China," kata Indah mengulang salah satu penggalan perbincangan tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, satu buruh migran Indonesia di Singapura telah dinyatakan terinfeksi virus corona.

Adapun sebanyak 238 WNI yang dipulangkan dari Wuhan kini masih menjalani observasi medis selama 14 hari di Natuna.

Di Hong Kong, Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI) menyebut imbauan agar asisten rumah tangga tak keluar rumah demi mencegah tertular virus corona sebagai hal yang kontraproduktif.

Imbauan itu pun mereka sebut tak solutif menghindarkan buruh migran terhindar virus tersebut.

"Jika anggota keluarga majikan tetap bisa keluar rumah, maka mereka yang keluar rumah kemungkinan masih bisa terjangkit virus Corona," kata mereka dalam keterangan tertulis, merujuk kasus pekerja domestik di Filipina yang tertular majikan.

"Setelah enam hari penuh bekerja dengan 10-14 jam per hari, hari libur adalah satu-satunya waktu dimana buruh migran bisa beristirahat."

"Jika tidak bisa libur, maka sama artinya dengan tidak beristirahat. Kondisi ini hanya akan menambah tingkat lelah dan stres yang justru membuat PRT migran jatuh sakit," kata JBMI.

Merujuk catatan Badan Kesehatan Dunia, kasus infeksi virus corona pertama kali dilaporkan di Wuhan tanggal 31 Desember 2019.

Setidaknya 492 orang di berbagai negara dilaporkan meninggal akibat virus ini. Virus ini disebut telah menular ke lebih dari 24 ribu orang yang berasal dari sekitar 25 negara.

(*)

Editor: Guruh Budi Wibowo
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved