STORY: Anggota DPRD Ini Jalan Kaki 36 Kilometer, Kunjungi Desa Terisolir di Riau

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Riau, Yuyun Hidayat menyusuri 36 kilometer di Kampar Kiri.

STORY: Anggota DPRD Ini Jalan Kaki 36 Kilometer, Kunjungi Desa Terisolir di Riau
FOTO/ISTIMEWA
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Riau, Yuyun Hidayat menyusuri 36 kilometer di Kampar Kiri. 

STORY: Anggota DPRD Ini Jalan Kaki 36 Kilometer, Kunjungi Desa Terisolir di Riau

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Riau, Yuyun Hidayat menyusuri 36 kilometer di Kampar Kiri.

Jalan yang dilaluinya merupakan jalur interpretasi yang menghubungkan sembilan desa terisolir di Kecamatan Kampar Kiri Hulu.

Perjalanan selama dua hari dengan berjalan kaki ini dimulai pada Selasa, (5/2/2020) dan kembali pada hari Rabu (6/2/2020) sore, tepat sehari sebelum Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Kampar ke 70.

Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menjelaskan, jalur interpretasi merupakan mimpi dari masyarakat sembilan desa yang ada di sepanjang Sungai Subayang, Kampar Kiri Hulu, yang disambut dan diperjuangkan oleh Alm Azis Zaenal, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Kampar.

"Saya memiliki kewajiban untuk memastikan jalur interpretasi ini tetap berjalan, agar mimpi masyarakat sembilan desa yang ada di Sungai Subayang ini memiliki jalan darat dapat terwujud," kata Yuyun, Kamis (6/2/2020).

Dengan terbukanya akses infrastruktur jalan darat, maka kedepan juga akan segera menyusul masuknya penerangan listrik PLN dan dibangunnya tower untuk jaringan telekomunikasi.

"Untuk PLN tiang listrik sudah mulai dilangsir ketitik- titik tiang. Sementara terkait jaringan telekomunikasi, saya sudah berbicara langsung dengan GM Telkomsel. InsyaAllah begitu PLN masuk, tower Telkomsel juga akan segera dibangun. Karena tower itu butuh daya listrik yang besar," ujarnya.

Jalur Interpretasi adalah jalur darat yang menghubungkan desa Tanjung Belit, Muara Bio, Batu Sanggan, Tanjung Beringin, Gajah Bertalut, Aur Kuning, Terusan, Subayang Jaya dan desa Pangkalan Serai.

Desa- desa ini merupakan desa terisolir yang selama ini hanya bisa ditempuh menggunakan sampan melalui jalur sungai.

Panjang jalan jalur interpretasi ini sekitar 36 km dan membutuhkan sekitar 72 jembatan. Hingga saat ini, pengerjaan jalur ini terus dilalukan.

Untuk semenisasi diperkirakan telah selesai 15 km sementara untuk jembatan diperkirakan baru sekitar 10 persen dari yang ditargetkan.

( Tribun Pekanbaru / Syaiful Misgiono )

Penulis: Syaiful Misgio
Editor: Ilham Yafiz
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved