Diduga Hasil Illegal Logging, Polres Meranti Tangkap 791 Batang Kayu Muatan Kapal di Desa Lukit

Dokumen perjalanan menyebut kayu yang dibawa hasil budidaya. Namun dari penelitian tim ahli, 70 persen kayu berasal dari alam.

Diduga Hasil Illegal Logging, Polres Meranti Tangkap 791 Batang Kayu Muatan Kapal di Desa Lukit
Polres Kepulauan Meranti
Polres Kepulauan Meranti memeriksa kayu muatan KM Nusantara 5 yang diduga hasil illegal logging dari Desa Lukit, Kecamatan Pulau Merbau, Kepulauan Meranti. 

tribunpekanbaru.com - Polres Kepulauan Meranti merilis pengungkapan kayu yang diduga hasil illegal logging di Desa Lukit, Kabupaten Kepulauan Meranti, yang diangkut kapal KM Nusantara 5.

Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Taufiq Lukman Nurhidayat didampingi Kasat Reskrim AKP Ario Damar saat memberi keterangan di Kedai Kopi Kelana, Selat Panjang, Senin (10/2) menjelaskan, kapal ditangkap di perairan Desa Lukit, Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, pada Rabu (5/2) lalu sekira pukul 18.30 WIB.

Dari pengungkapan itu, dua orang ditetapkan sebagai tersangka berisial J (46) dan S (44), yang bertindak sebagai kapten kapal.

"Pada Selasa 4 Februari 2020 sekira pukul 00.15 WIB, didapat informasi kapal motor diduga memuat kayu berbentuk balok tim diduga hasil illegal logging di perairan Desa Lukit," ujar Taufiq.

Dari laporan itu, personel Unit II Tipiter Satreskrim Polres Meranti dan Satuan Polisi Air Polres Meranti langsung menuju lokasi keberadaan kapal. Berdasarkan keterangan Anak Buah Kapal (ABK), bahwa kapal tersebut sudah bermuatan kayu olahan berbentuk balok sebanyak 791 batang. Kayu-kayu tersebut rencananya dibawa ke Batam, Kepulauan Riau.

"Selanjutnya kapal dibawa dari Desa Lukit pada saat air sudah pasang besar menuju Selat Panjang untuk dilakukan pemeriksaan muatan," ungkap Taufiq.

Menurutnya, J menunjukkan dokumen berupa nota angkutan kayu berupa kayu Mahang. J juga menyebut kayu-kayu tersebut merupakan hasil budidaya masyarakat.

Unit Tipiter kemudian mengambil 11 potongan sampel kayu muatan KM Nusantara 5, dan kemudian diperiksa oleh BPHP wilayah III di Pekanbaru. Dari pemeriksaan, diketahui bahwa kayu tersebut bukan kayu budidaya masyarakat melainkan kayu alam. Diperkirakan, 70 persen kayu tersebut merupakan kayu alam.

Saat ini masih dilakukan penghitungan jumlah potongan kayu tersebut. Para terduga pelaku dijerat Pasal 83 Ayat (1) huruf b Jo Pasal 12 huruf e UU No 18 tahun 2013 tentang Pemberantasan Perusakan Hutan Jo Pasal 55 Ayat (1) ke 1 KUHPidana.

Kayu dan kapal pengangkut saat ini diamankan di Pelabuhan Golden Dusun Manggis, Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat.

Setelah menetapkan dua tersangka, Polres Meranti akan memeriksa sejumlah saksi, di antaranya perangkat Desa Lukit selaku penerbit dokumen nota angkutan. (ted)

Penulis: Teddy Tarigan
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved