Punya Mata-mata Khusus, Ternyata KKB OPM Tak Berkutik Saat Markasnya Dibakar Brimob
Punya mata-mata khusus, Ternyata KKB OPM tak berkutik saat markasnya dibakar Brimob. Bahkan, mereka tak mendeteksi saat TNI menyergap mereka.
TRIBUNPEKANBARU.COM - Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) beberapa kali melakukan propaganda di berbagai media sosial.
Mulai dari YouTube hingga media Facebbok mereka gunakan untuk menyebarluaskan propagandanya.
Beberapa waktu lalu, KKB OPM mengklaim memiliki mata-mata yang membantu pergerakan KKB OPM.
Tak hanya di Papua, mereka juga menempatkan mata-matanya di Jakarta.
Mata-mata yang menjadi andalan KKB OPM bernama Papua Intelligence Service (PIS).
Keberadaan PIS dibenarkan oleh juru bicara TPNPB Sebby Sambom saat memaparkan alasannya melakukan penyerangan terhadap sejumlah pekerja PT Istaka Karya.
Berbanding terbalik dengan citra elite dan eksklusif pasukan mata-mata yang diberi nama sekelas pasukan mata-mata Amerika Serikat, nyatanya penampakan markas KKB OPM sangat kontras.
Hal ini seperti dilansir GridHot.ID dari akun YouTube Tribun MedanTV yang mengunggah sebuah video pada 18 Desember 2018.
Video yang diambil dari akun Facebook Komunitas Cinta Polri tersebut merekam detik-detik pembumihangusan markas KKB OPM.
"Pembongkaran Markas OPM," ujar seseorang di balik kamera.
"Ini adalah markas KKB atau kelompok kriminal bersenjata, OPM. Dan kami akan menghancurkannya, karena mereka telah berkhianat pada negara Republik Indonesia," kata seorang anggota Brimob yang berbicara didepan kamera.

Dalam video terlihat sejumlah anggota mendorong markas yang berupa bangunan reyot dari kayudengan atap seng.
Bangunan semi permanen itu roboh dalam satu kali dorongan saja.
"Dibumi hanguskan," ujar seorang pria di belakang layar.
"Jadi ini adalah salah satu markas KKB atau Kelompok Kriminal Bersenjata, yang memang masih baru dibangun atau dibuat. Hanya sayang sekali, ketika kami dari kepolisian Brimob, tidak mendapatkan mereka sedang ada di sini," lanjutnya.
Para anggota Brimob dalam video tersebut terlihat membongkar bangunan dan memisahkan puing-puingnya.
Terpal sebagai dinding bangunan terlihat dikumpulkan di tengah-tengah.
Sementara kerangka kayu dibiarkan rata dengan tanah termasuk seng-seng sebagai atapnya.
Sebelumnya, pada 17 Desember 2018, Menko Polhukam kala itu, Wiranto angkat bicara mengenai perkembangan terbaru pembantaian para pekerja PT Istaka Karya di Nduga, Papua.
Wiranto mengungkapkan jika pelaku pembantaian para pekerja ialah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya.

Wiranto menyebut pemerintah tak bakal mengadakan kompromi sedikit pun kepada KKB Egianus Kogoya.
Dikutip dari Tribunnews, hal tersebut disampaikan Wiranto di Kemenkopolhukam, Jakarta Pusat, pada 17 Desember 2018.
"Kita tidak pernah kompromi sebenarnya dengan kelompok itu karena kita enggak equal tidak ada satu kesetaraan antara negara yang sah NKRI dengan kelompok-kelompok seperti itu apakah kelompok kriminal apakah kelompok-kelompok yang menentang keberadaan NKRI," ujar Wiranto.
Wiranto sendiri melihat KKB Egianus Kogoya sebagai orang-orang khilaf, tersesat, dan tak sadarkan diri.
Maka Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi hukum dan toleransi wajib menerima mereka jika sudah insyaf kelak.
"Kita akan menerima kalau mereka sadar, tapi bukan dalam bentuk negosiasi tak ada negosiasi antara pemerintah dengan kelompok seperti itu," ucap Wiranto.
Sementara itu, beredar kabar jika KKB Egianus Kogoya sudah menguasai beberapa wilayah di Papua.
Namun Wiranto menyebut hal itu hanyalah propaganda yang dilakukan KKB Egianus Kogoya.
Wiranto juga menyebut keberadaan KKB Egianus Kogoya sudah diketahui.
Bukan hanya itu, kekuatan, apa yang mereka lakukan juga sudah diketahui oleh aparat.
Makanya tinggal dilakukan penindakan saja.
"Tadi Pak Kapolri (Tito Karnavian-Red) bilang propaganda-propaganda terus dan kita nggak mau dengarkan kita punya intelijen sendiri. Kita tahu apa yang mereka lakukan, tau kekuatan mereka berapa, di mana mereka ada. tinggal kita selesaikan aja. Jadi jangan dengarkan orang sudah ngacau kok," ujar Wiranto.