Harganya Dinilai Terlalu Mahal, DLH Pelalawan Batal Beli Alat Pengukur ISPU

DLH Pelalawan menyebut, satu unit alat ISPU dibanderol dengan harga antara Rp3 miliar sampai Rp4 miliar.

Harganya Dinilai Terlalu Mahal, DLH Pelalawan Batal Beli Alat Pengukur ISPU
Tribunpekanbaru/Theo Rizky
Papan ISPU di Kota Pekanbaru 

tribunpekanbaru.com - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pelalawan membatalkan pembelian alat pengukur Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) pada tahun 2020 ini.

Anggaran pengadaan alat pengukur ISPU ini tidak jadi dimasukkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun ini. Pasalnya, harga benda tersebut dianggap terlalu mahal oleh DLH, sehingga tidak jadi dibeli walaupun sangat dibutuhkan.

Alat itu diperlukan ketika musim kemarau tiba, yang biasa diikuti dengan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menimbulkan kabut asap mencemari udara.

"Masalahnya bukan itu, anggarannya terlalu mahal. Sehingga jika dipaksakan, kegiatan-kegiatan lain tak bisa jalan," ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pelalawan, Eko Novitra kepada Tribun, Rabu (12/2).

Informasi terkait harga alat ISPU yang mahal itu diperoleh DLH Pelalawan dari DLHK Provinsi Riau dan Kabupaten Siak, yang sudah lebih dulu memiliki perangkat tersebut. Diperkirakan alat pengukur kualitas udara itu dibanderol dengan harga Rp3 miliar sampai Rp4 miliar satu unit. Angka itu dinilai terlalu besar bila melihat kondisi APBD Pelalawan saat ini.

"Kami tak berani menganggarkan. APBD setiap tahun turun nih. Untuk satu alat saja segitu," tambah Eko Novitra.

Ia berharap tahun depan mendapatkan bantuan alat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk pembelian alat tersebut. Termasuk juga dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Riau, yang menganggarkan pembelian alat ISPU untuk Pelalawan.

Sehingga alat itu bisa diletakkan di Jalan Lintas Timur (Jalintim) Pangkalan Kerinci, dan seluruh warga bisa melihat kualitas udara setiap saat.

Selama ini, kata Eko, pihaknya meminta data terkait ISPU di Pelalawan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru. Terkadang data juga diminta dari KLHK regional Sumatra, yang menempatkan alat ISPU jenis portable di Pelalawan ketika musim asap sudah tiba.

"Persoalannya memang karena terlalu mahal saja harganya, makanya tak jadi dibeli," tutupnya. (joe)

Penulis: johanes
Editor: rinaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved