Breaking News:

Human Interest Story

STORY - KISAH Cewek Cantik Asal Riau, Menyadap Karet hingga Jadi Atlet Tarung Derajat PON Papua 2020

Story atau kisah cewek cantik asal Riau, berawal dari pulang sekolah menyadap karet dan suka memukul orang, kini cewek cantik anak buruh tani itu jadi

Penulis: Nasuha Nasution | Editor: Nolpitos Hendri
Tribun Pekanbaru/Nasuha Nasution
STORY - KISAH Cewek Cantik Asal Riau, Menyadap Karet hingga Jadi Atlet Tarung Derajat PON Papua 2020 

STORY - KISAH Cewek Cantik Asal Riau, Menyadap Karet hingga Jadi Atlet Tarung Derajat PON Papua 2020

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Story atau kisah  cewek cantik asal Riau, berawal dari pulang sekolah menyadap karet dan suka memukul orang, kini cewek cantik anak buruh tani itu jadi atlet Tarung Derajat untuk bertarung pada PON Papua 2020 mendatang.

Cewek cantik asal riau itu bernama lengkap Arumi Sintiara dan kini ia berusia 17 tahun.

Lahir dari keluarga yang kurang mampu dan orangtua seorang buruh tani tidak menyurutkan niat Arumi Sintiara untuk berprestasi dan membuktikan bahwa ia bisa bersaing dengan orang lain.

Gadis ini membuktikan ingin bahagiakan kedua orangtuanya melalui prestasi di olahraga beladiri Tarung Derajat.

Arumi begitu ia akrab disapa sukses ikut PON Papua 2020 mendatang, setelah sukses pada Pra PON di Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Dibalik kesuksesan itu, ternyata Arumi punya cerita yang mengharukan, ia punya saudara kandung 7 orang dan ia merupakan anak ketiga.

STORY-KISAH Cewek Cantik Asal Riau, Menyadap Karet hingga Jadi Atlet Tarung Derajat PON Papua 2020
STORY-KISAH Cewek Cantik Asal Riau, Menyadap Karet hingga Jadi Atlet Tarung Derajat PON Papua 2020 (Tribun Pekanbaru/Istimewa)

Bapaknya sendiri hanya bekerja sebagai buruh tani di Desa Bangun Purba Timur Jaya Kecamatan Bangun Purba Kabupaten Rokan Hulu, sedangkan ibunya hanya sebagai rumah tangga.

Anak pasangan Basuki dan Siti Sahroh ini memiliki keinginan yang kuat, tidak hanya itu, Arumi juga rajin membantu sang bapak sebagai buruh tani.

Maklum bapaknya hanya bekerja menyadap pohon karet orang, bukan milik sendiri berbagi hasil dengan yang punya.

Arumi juga selalu menyempatkan diri setiap pulang sekolahnya untuk ikut menyadap karet, membantu bapaknya untuk meringankan beban sang bapak.

"Pulang sekolah bantu bapak menyadap karet, kami menyadap karet punya orang, jadi bagi hasil," ujar Arumi yang saat ini duduk di bangku kelas 3 SMK Negeri 1 Bangun Purba itu.

Menurut Arumi, itu dilakukannya karena memang dari kecil mereka sudah terbiasa hidup sulit dan bekerja keras untuk cari makan.

Meskipun waktu untuk bermainnya disita untuk mengabdi membantu orangtua, tidak membuat Arumi berhenti berkarya, ia menekuni olahraga beladiri Tarung Derajat.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved