Berita Riau

Jengkol dan Petai Lebih Menjanjikan, Gubri Syamsuar Minta Masyakat Jangan Bergantung Pada Sawit

Gubernur Riau (Gubri) menegaskan, Provinsi Riau tidak lagi bisa mengandalkan Minyak dan Gas (Migas) serta Kelapa Sawit.

net/google
Buah Petai 

PEKANBARU - Gubernur Riau (Gubri) menegaskan, Provinsi Riau tidak lagi bisa mengandalkan Minyak dan Gas (Migas) serta Kelapa Sawit.

Sebab Migas dan Sawit harganya ditentukan oleh pasar global. Sehingga sangat bergantung dengan kondisi perekonomian dunia.

Khususnya negara-negara yang mengimpor Migas dan minyak sawit dari Indonesia, termasuk Riau.

Tidak muluk-muluk, Gubri Syamsuar berharap, para petani di Riau bisa perlahan meninggalkan sawit dan pihak ke komoditi lainya yang nilai ekonominya jauh lebih tinggi.

Orang nomor satu di Riau ini memberikan dua contoh komoditi perkebunan di Riau yang bisa diandalkan. Yakni Jengkol dan Petai.

"Kemarin Kepala Balai Karantina menyampaikan ke saya, ternyata jengkol dan petai itu diekpor dari Riau. Tapi dugaan saya, jengkol dan petai yang diekpor dari Riau keluar negeri ini bukan dari Riau tapi dari Sumbar. Jadi pas saya tanyakan ke Kepala Balai Karantina ternyata benar, jengkol dan petai yang diekpor dari Riau berasal dari Sumbar," kata Syamsuar ekspos di Ruang Melati, Kantor Gubernur Riau, Senin (24/2/2020).

"Saya dapat masukan dari kepala Balai Karantina yang bertugas mengekspor berbagai komoditas dari Riau. Jadi tidak salah, kalau sekarang kita ubah mainset masyarakat kita agar tidak selalu mengidolakan sawit," imbuhnya.

Dia menyebutkan selama ini, pemerintah bagi provinsi maupun daerah hampir tidak menaruh perhatian terhadap komoditi jengkol dan petai.

Hal itu bisa jadi karena pemerintah tidak menganggap kedua komoditi ini punya nilai ekonomis. Padahal di luar negeri petai dan jengkol juga banyak peminatnya.

"Saya pastikan langsung kepada Kepala Balai Karantina, ternyata benar kalau petai dan jengkol itu dari Sumbar. Kenapa holtikultura kita tidak dimanfaatkan dengan baik. Buktinya petai-jengkol bisa diekspor, jangan sawit ke sawit terus," ucap Syamsuar.

Gubri Syamsyar berharap masyarakat harus ada komoditas yang khusus di Riau. Sebab sejauh ini belum ada komoditas yang khusus di Riau, khsusunya yang punya nilai ekspor.

"Sekarang ini ada banyak komoditi holtikultura yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan ekspor karena memang negara-negara luar membutuhkan itu untuk bahan baku. Sekarang kita baru ubi ungu, itupun masih belum maksimal. Kedepan mindset dinasnya harus di ubah, supaya mindset petani juga berubah," kata Syamsuar.

Bank Indonesia sejak beberapa tahun belakangan sudah memberikan masukan kepada Pemprov Riau untuk menggali potensi lain untuk mendukung perbaikan perekonomian daerah.

Sejak produksi migas turun, perekonomian daerah juga ikut terkoreksi.

"Sesuai masukan dari BI juga, kita harus memperhatikan produk tanaman pangan, tanaman holtikultira, termasuk juga tanaman-tanaman yang punya komoditas ekspor," katanya. (Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono).

Penulis: Syaiful Misgio
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved