Pelalawan

PT SSS Hadirkan Saksi Ahli Pencemaran Tanah dari UNRI dalam Sidang Kasus Karhutla di PN Pelalawan

Sidang perkara Karhutla yang menjerat PT SSS kembali digelar di PN Pelalawan, Kamis.

PT SSS Hadirkan Saksi Ahli Pencemaran Tanah dari UNRI dalam Sidang Kasus Karhutla di PN Pelalawan
Tribun Pekanbaru/Johanes Tanjung
Foto Saksi ahli kerusakan tanah Dr Wawan dari Fakultas Pertanian Universitas Riau menyampaikan kesaksian pada persidangan perkara Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) PT Sumber Sawit Sejahtera (SSS) di ruang sidang cakra Pengadilan Negeri Pelalawan, Kamis (27/2/2020) lalu. 

PELALAWAN - Sidang lanjutan perkara Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang menjerat PT Sumber Sawit Sejahterah (SSS) kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Pelalawan, Kamis (28/2/2020) sore lalu.

Sidang dilaksanakan di ruang sidang Cakra yang dipimpin majelis hakim Bambang Setyawan SH MH sebagai hakim ketua yang juga Ketua PN Pelalawan, didampingi hakim anggota Ria Ayu Rosalin SH MH dan Nurrahmi SH MH.

Sedangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) yakni Rahmat Hidayat SH.

Tersangka perseorangan Alwi Omni Harahap dihadirkan berikut dengan tersangka korporasi PT SSS yang diwakilkan Direktur Utama (Dirut) Eben Ezer Lingga. Keduanya didampingi penasehat hukum H Makhfuzat Zein SH MH dan rekannya.

"Hari ini mendengarkan saksi ahli dari penasihat hukum terdakwa, silahkan dihadirkan," kata hakim ketua Bambang Setiawan.

Adapun saksi ahli yang didatangkan pengacara PT SSS yakni ahli kerusakan dan pencemaran tanah, Dr Wawan dari Fakultas Pertanian Universitas Riau (UNRI). Setelah diambil sumpah Dr Wawan diberikan kesempatan untuk memberikan kesaksian sesuai dengan keahliannya. Majelis hakim, JPU, dan penasihat hukum secara bergantian menanyai ahli lingkungan serta pidana yang mendapat kesempatan pertama.

"Kebakaran yang terjadi di lahan gambut sebisa mungkin harus dihindari. Karena di dalam gambut banyak keanekaragaman hayati yang diciptakan Tuhan," beber Wawan di persidangan.

Dikatakannya, di dalam lahan gambut yang ditemui tidak hanya tanah gambut saja, tapi banyak unsur lain yang ada di dalamnya. Mengingat fungsi gambut sebagai penangkap dan penyimpan karbon dengan struktur yang tersimpan. Dengan alasan itulah, proses pemulihan di lahan gambut lebih sulit jika terjadi kebakaran dibanding dengan lahan mineral.

Konteks pemulihan yang dimaksud yakni mengembalikan bahan organik alami yang terbentuk selama ini dan hilang akibat terbakar api. Jika kemudian lahan gambut diberikan izin perkebunan kepada perusahaan, tentu ada resiko dan konsekuensi yang harus dihadiri dibanding masih tetap sebagai hutan lahan gambut.

Wawan mengaku sudah melakukan pengecekan ke lahan gambut milik PT SSS yang terbakar tahun lalu. Lahan seluas 150 hektar itu sudah ditumbuhi semak, rumput, hingga kayu akasia. Dua hamparan yang menjadi objek perkara tertutupi tanaman alam yang tumbuh dengan sendirinya.

"Manajemen perusahaan juga sudah melakukan kanal blokin meskipun sederhana. Ini memberikan harapan pengelolaan gambut yang cukup baik," bebernya.

Nilai kerusakan lahan gambut yang terbakar harus diukur dengan penelitian dan kaian yang mendalam serta detil, karena setiap jengkap tanah sifat serta nilainya berbeda-beda. Pengambilan sampel minimal satu titik mewakili 25 hektar, artinya jika 150 hektar paling tidak ada enam titik yang diukur.

Setelah mendengar penjelasan dari saksi ahli Wawan, sidang ditutup oleh majelis hakim dan akan dilanjutkan Selasa (3/3/2020) pekan depan dengan agenda pemeriksaan terdakwa. (Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)

document.addEventListener("DOMContentLoaded", function(event){ var cekclassread = document.getElementsByClassName("txt-article")[0]; if(cekclassread != undefined){ var content = document.getElementsByClassName("txt-article")[0].innerText; var gpt_safe = content.match(/\b(ak47|al jazeera|al qaeda|allah|Assad|bahan kimia|bencana|boikot|corona|covid-19|fatal|ganti rugi|gejala|gugur|hoax|hukuman|jokowi|kecelakaan|kejadian|keras|komplain|Kondom|kontroversi|korban|kriminal|palsu|pembunuhan|pemerkosaan|penyakit|peristiwa|pidana|polisi|porno|prabowo|racun|rasis|rasisme|seks|tersangka|viral|virus)\b/i); if(gpt_safe){ safe = 'no'; } else{ safe = 'yes'; } var keyword1 = content.match(/\b(virus|corona|pneumonia|paru-paru|karantina|demam|wabah|sesak napas|Wuhan|sesak dada|rs darurat|epidemic|pandemic|status darurat|SARS|corona virus|jangkit|covid|batuk|covid-19|MERS|penyebaran|penularan|patogen|CoV|Viruses|Korona|nCOV|isolasi diri|masker|terinfeksi|infeksi|mati|kematian|positif corona|lockdown|orang dalam pemantauan (ODP)|pasien dalam pengawasan (PDP)|suspect|sakit tenggorokan)\b/i); if (keyword1) { keyword_targetting1 = 'yes';} else { keyword_targetting1 = 'no';} }else{ safe = 'yes'; keyword_targetting1 = 'no'; } console.log('safe_branding =' + safe); googletag.pubads().setTargeting('safe_branding', safe); console.log('keyword_targetting1 =' + keyword_targetting1); googletag.pubads().setTargeting('keyword_targetting1', keyword_targetting1); });
Penulis: johanes
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved