Breaking News:

Indragiri Hilir

Bayi Korban Kebakaran Pondok di Keritang Inhil Sudah Dioperasi, Terungkap Sumber Api

Suara tangis bayi sesekali terdengar dari ruang perawatan Bedah Combustio Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Puri Husada Tembilahan.

Penulis: T. Muhammad Fadhli | Editor: Ariestia
Tribun Pekanbaru/T Muhammad Fadhli
Kondisi Muhammad Riski saat bersama sang nenek di ruang perawatan Bedah Combustio RSUD Puri Husada Tembilahan, Minggu (1/3/2020). 

TRIBUNPEKANBARU.COM, TEMBILAHAN – Suara tangis bayi sesekali terdengar dari ruang perawatan Bedah Combustio Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Puri Husada Tembilahan.

Di dalam ruangan tersebut lah Muhammad Riski, bayi 10 bulan yang menjadi korban kebakaran pondok di Kecamatan Keritang mendapat perawatan intensif bersama sang ibu, Epiyeni (33).

Sementara sang ayah, Haris Fadilah hanya mengalami luka di bagian kaki sebelah kiri.

Hampir seluruh badan hingga muka Muhammad Riski terkena luka bakar hingga 60 persen akibat kejadian tersebut.

Beruntung Muhammad Risky dan sang ibu yang juga mengalami luka bakar 27 persen akibat kejadian tersebut telah menjalani operasi pembersihan luka bakar di RSUD Puri Husada, Sabtu (29/2/2020).

Pasca operasi tersebut, menurut keluarga, Muhammad Riski tidak terlalu rewel seperti sebelum operasi, namun sang ayah Haris Fadilah (45) dan kerabat lainnya harus terus memantaunya untuk mengipas atau sekedar mengalihkan perhatian Muhammad Riski dari rasa sakit akibat luka bakar tersebut.

“Alhamdulillah sudah mulai berangsur membaik setelah di operasi ini. Ya masih nangis rewel sekali – kali, karena panas mungkin bekas luka bakarnya, tapi tidak seperti kemarin parah rewelnya. Ibuknya juga sudah mendingan,” ujar Husni saat berbincang dengan Tribun Pekanbaru di Ruang Perawatan Bedah RSUD Puri Husada Tembilahan, Minggu (1/3/2020) siang.

Husni pun mempercayai sepenuhnya perawatan cucu dan anaknya tersebut kepada pihak rumah sakit, meskipun diakuinya harus mengeluarkan biaya lebih karena tidak menggunaakan BPJS Kesehatan.

“Untuk saat ini masih umum, kami tak ada BPJS, mau kayak apa lagi,” imbuh Husni.

Husni pun masih bersyukur karena cucunya bersama anak dan menantunya masih bisa selamat dalam kejadian tragis tersebut.

Husni mengisahkan, kejadian tragis tersebut bermula dari jatuhnya lampu pelita yang digunakan di dalam pondok.

Pondok yang beratapkan terpal dan belantai batang pinang membuat api kian cepat membesar, apalagi di picu oleh bahan bakar dari lampu pelita tersebut.

Menurut Husni, pondok tersebut memang menjadi tempat sementara bagi Haris dan keluarga karena ingin mengumpulkan hasil panen duku.

Namun naas, peristiwa kebakaran malah terjadi dan membakar empat anak beranak ini.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved