Breaking News:

Selama 5 Hari, 98 Petugas Gabungan Berjibaku Padamkan Api di Meranti

Sebanyak 98 orang personel dari Satgas Karhutla Polda Riau, dikerahkan untuk memadamkan api di dua desa di Kabupaten Kepulauan Meranti

Foto/Istimewa
MEMADAMKAN - Sebanyak 98 orang personel dari Satgas Karhutla Polda Riau, dikerahkan untuk memadamkan api di dua desa di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Dua desa tersebut di antaranya Tanjung Kedabu, Kecamatan Rangsang Timur dan Mengkikip, Kecamatan Tebing Tinggi. 

Selama 5 Hari, 98 Petugas Gabungan Berjibaku Padamkan Api di Meranti

TRIBUNPEKANBARU.COM - Sebanyak 98 orang personel dari Satgas Karhutla Polda Riau, dikerahkan untuk memadamkan api di dua desa di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Dua desa tersebut di antaranya Tanjung Kedabu, Kecamatan Rangsang Timur dan Mengkikip, Kecamatan Tebing Tinggi.

Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Sunarto memaparkan, tim bergerak dari Kota Pekanbaru ke Kepulauan Meranti pada Kamis, pekan lalu.

"Sebanyak 98 personel ini terdiri dari 50 orang Satuan Brimob serta Satker jajaran Polda Riau 48 orang," sebut Sunarto, Selasa (3/3/2020).

Dia memaparkan, para personel berangkat menuju Kabupaten Kepulauan Meranti, melalui Pelabuhan Buton Kabupaten Siak.

Tim dilengkapi dengan peralatan 7 unit mesin Robin, 2 unit dari Satbrimob dan 5 unit dari Ditreskrimsus Polda Riau.

Dalam Dua Jam, 15 Truk ODOL Kena Tilang

Menempuh perjalanan air, personel tiba di Kabupaten Kepulauan Meranti pada Kamis malam.

Tepatnya di Pelabuhan Rakyat Desa Bungur, Kecamatan Rangsang Pesisir.

Petugas masih harus melanjutkan perjalanan darat dengan menggunakan roda dua, lebih kurang 30 menit ke lokasi rumah penduduk tempat penampungan.

Banyak Sampah Tak Dikelola, Dosen dan Mahasiswa Umri Latih Warga Bikin Pupuk Kompos

Sunarto memaparkan, hingga Selasa ini, terhitung sudah 5 hari petugas berjibaku memadamkan api.

"Saat ini sudah masuk tahap pendinginan," ungkapnya.

Dia menambahkan, di lapangan, petugas mendapati sejumlah tantangan dan hambatan.

Di antaranya kondisi alam yang panas dan angin kencang, serta sulitnya sumber air.

"Sehingga anggota harus menggali sumur sendiri untuk mendapatkan air. Itu pun masih tidak mampu memenuhi kebutuhan air untuk pemadaman," ucapnya. (Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)

Penulis: Rizky Armanda
Editor: Hendra Efivanias
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved