Breaking News:

Siak

Meski Tak Ada Kehidupan, Pria Ini Rela Jaga Proyek PLTU Pemprov Riau yang Sudah Jadi Rongsokan

Meski tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana, namun pria ini masih setia menjaga proyek PLTU Riau siang malam.

Tribunpekanbaru.com/mayonal putra
Syabril (bertopi) dan Indra, penjaga proyek PLTU Koto Ringin yang mangkrak memberikan penjelasan kepada wartawan terkait upayanya menjaga proyek itu hingga sekarang, Minggu (15/3/2020). 

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Proyek PLTU 2×3 MW di Kampung Koto Ringin, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak sudah lama mangkrak.

Pembangunan dan beragam peralatan di lokasi proyek tersebut sudah seperti barang rongsokan.

Meski tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana, namun pria ini masih setia menjaga proyek itu siang malam. Pria itu bernama Syahril, termasuk tokoh masyarakat di kampung Koto Ringin.

"Saya dibantu oleh Indra, jika saya keluar dia yang standby di sini. Jika dia keluar saya yang harus stanby, sisanya kami berdua di lokasi proyek ini," kata Syahril kepada Tribunpekanbaru, Minggu (15/3/2020).

Proyek PLTU Pemprov Riau itu berada di tanah seluas 2 Ha. Bangunannya tampak menjulang tinggi berwarna biru. Namun, bangunan itu sudah berada di dalam semak melukar dan dipeluk rumpu-rumput menjalar. Ilalang-ilalang tumbuh lebih setinggi orang dewasa menutupi pagar dan bagian perkantoran, bangunan sirkulasi air dan pos jaga. Kini, lebah pun bersarang di bagian atas bangunan.

"Sering sekali kami menangkap ular di sini. Ya kondisi begini gak heranlah, jangankan ular hantu pun banyak di sini," gurau Syahril saat diwawancarai.

Syahril dan Indra beristirahat di pos penjagaan proyek tak sudah itu. Pos penjagaan ada di dekat pintu masuk, yang di sekelilingnya dikepung semak. Di dalam pos itu terdapat 2 kasur tipis yang lusuh. Bgitu masuk ke pos jaga itu, penciuman langsung diserang aroma apek.

"Silakan duduk. Sinilah posko kami menjaga proyek ini," kata Syahril sambil tersenyum.

Setelah menerima Tribun, ia mengajak berjalan di seputaran proyek. Terlihat jelas besi-besi baja, perkantoran dan rumah karyawan tampak seperti bangunan sudah lama ditinggalkan serta tanpa pemeliharaan.

"Mau membersihkan pakai apa? Alat gak ada dikasih sampai kini. Jangankan alat racun rumput yang saya ajukan aja gak pernah dikabulkan. Jadi ya semak beginilah proyeknya," kata Syahril.

Menurut cerita Syahril, ia sudah menjaga proyek PLTU itu sejak pembersihan lahan, 2007 silam. Ia masih setia menjaga bangunan itu sampai berganti-ganti perusahaan yang menanganinya. Sejak 2010 hingga kini proyek itu tak berjalan, ia juga masih setia menjaganya.

"Ini milik BUMD Pemprov Riau, PT Pembangunan Investasi Riau (PIR). Saya menjaga ini memang ada dapat gaji dari PT itu, tapi sering macet," kata Syahril.

Jika Syahril dan Indra lengah, besi-besi tua dan peralatan di dalam proyek hilang dicuri orang. Upaya pencurian itu sering terjadi dan Syahril berhasil mengusir mereka.

"Saat ini hanya tentang ketulusan kami saja. Kalau kami sebenarnya bisa saja mempreteli barang-barang di sini untuk dijual, tapi sangat sayang jika itu kami lakukan. Sebab kami masih berharap proyek ini tetap berjalan di kampung kami ini," kata dia.

Ia melanjutkan, ada banyak sekali barang berharga di dalam proyek itu. Secara teknis Syahril tak bisa menyebutkan.

"Yang ringan-ringan saja misalnya, ada AC di perumahannya, ada drom dan besi-besi lain yang berharga. Jika kami tidak mikir ini kampung kami, dan jika kami jual tak ada yang tahu. Itu tidak kami lakukan. Kenapa? Agar Pemprov Riau benahi ini dan PLTU ini bisa hidup lalu kampung kami jadi maju," kata Syahril.

Syahril dan Indra mengaku sebenarnya pikirannya capek melihat proyek yang dijaganya. Sehari-hari bergelut dengan kesunyian di dalam proyek. Kadang hanya mendengar desiran angin yang menerpa alang-alang atau bunyi kepak sayap lebah yang pulang ke sarang.

"Bila malam, suasana di sini menyeramkan. Namun jika tidak kami jaga, barang-barang ini akan ludes," kata Syahril yang dianggukkan Indra.

Proyek PLTU itu merupakan program pemerintah pada 2007 lalu. Pembangunan fisik awalnya dikerjakan oleh PT Modaco Inersys. Perusahaan ini memenangkan proyek pembanguan senilai Rp 91,6 miliar.

"Pembangunan yang diselesaikannya hanyalah pondasi saja. Pada 2010, pembangunannya mogok," kata dia.

Pada 2012, pembangunan dilanjutkan oleh PT Riau Power Dua. Perusahaan itu bekerja sampai 2014 dan mogok hingga sekarang.

"Padahal perlengkapan dan peralatan yang dikirim dari China sudah banyak masuk ke lokasi. Eh, tiba-tiba sampai sekarang gak lagi pekrjaannya hingga menjadi barang rongsokan dan sarang hantu semacam ini," celetuk Syahril.

Ia berharap agar gubernur Riau Syamsuar komitmen untuk melanjutkan proyek PLTU ini. Sebab, Syamsuar merupakan bupati Siak 2 periode sebelum menjadi gubernur.

"Semestinya Pak Syamsuar prioritaskan proyek ini. Kalau tidak sayang sekali, rugi masyarakat. Ini mumpung Pak Syamsuar sudah gubernur mestinya selesaikan ini," kata dia. (Tribunpekanbaru.com/mayonal putra)

Penulis: Mayonal Putra
Editor: Muhammad Ridho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved