Breaking News:

Fakta Baru WHO, Ungkap Virus Corona Dapat Bertahan Hidup di Udara, Ini Penjelasan Profesor Biologi

Pernyataan tersebut lantas mengundang presenter untuk bertanya terkait penelitian WHO yang dilakukan baru-baru ini.

Editor: Muhammad Ridho
TRIBUNPEKANBARU / DODI VLADIMIR
Petugas pemadam Kebakaran menyemprotkan disinfektan di jalan Sudirman Kota Pekanbaru, Senin (23/3/2020) guna mencegah Covid-19. 

Wakil Kepala Lembaga Eijkman Institute, Professor David Handojo Muljono memberi tanggapan soal hasil penelitian World Health Organization ( WHO) terkait   Virus Corona bisa bertahan hidup di udara (survive in airborne).

Professor David Handojo Muljono mengatakan penularan karena dekat dengan penderita Virus Corona hingga terkena cairan dropletnya masih menjadi faktor terbesar penularan Covid-19.

"Tapi lebih intens kalau melalui udara ataupun partikel-partikel yang terhirup," kata Prof Daviddi kanal YouTube Apa Kabar Indonesia Malam tv One pada Minggu (22/3/2020).

Para pekerja menyiapkan peralatan di Ruang ICU di Tower 7 Wisma Atlet yang menjadi Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19, di Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (22/3/2020).
Para pekerja menyiapkan peralatan di Ruang ICU di Tower 7 Wisma Atlet yang menjadi Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19, di Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (22/3/2020). (Warta Kota/Alex Suban)

Pernyataan tersebut lantas mengundang presenter untuk bertanya terkait penelitian WHO yang dilakukan baru-baru ini.

"Prof David ini juga baru saja mengeluarkan hasil penelitiannya di awal pekan bahwa  Virus Corona ini survive in airbone atau bisa bertahan di udara dalam jangka waktu cukup lama?' tanya presenter.

Prof David menjelaskan bahwa virus dari droplet orang batuk itu bisa bertahan di udara.

Hal itu dipengaruhi dengan kelembababan yang tinggi dan berat virus yang ringan.

Akibatnya, virus itu tidak akan mudah jatuh ke bawah.

"Nah juga ini dapat diartikan bahwa virus itu bisa bertahan setelah seseorang batuk kan terutama kalau kelembaban tinggi dan berat jenis virus ini ringan."

"Sehingga dia tidak serta merta ketarik gravitasi bumi ke bawah tapi dia bisa melayang," ungkap Prof David.

Sehingga, jika orang berdekatan dengan pasien Virus Corona maka risiko penularan makin tinggi.

ilustrasi virus Covid-19
ilustrasi virus Covid-19 (Stocktrek Images/Getty)

"Kalau jarak dekat lebih mudah terhirup begitu," lanjutnya.

"Jadi bisa mengambang, melayang?" tanya presenter lagi.

Prof David membenarkan pertanyaan presenter itu.

Halaman
1234
Sumber: TribunWow.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved