Akhirnya Virus Corona Mengganas di AS, Ini Ramalan Baba Vanga Soal Nasib Donald Trump di Tahun 2020

Melansir Daily Mail, Baba Vanga meramalkan Donald Trump akan diserang penyakit mematikan pada tahun 2020.

CDC
Akhirnya Virus Corona Mengganas di AS, Ini Ramalan Baba Vanga Soal Nasib Donald Trump di Tahun 2020 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Virus Corona saat ini menggila di Amerika Serikat. Negara terkuat di dunia itu kini dilumpuhkan oleh musuh tak kasat mata.

Dikutip dari Kompas.com, Amerika Serikat ( AS) mencatatkan lebih dari 100.000 kasus infeksi virus corona, berdasarkan data yang dirilis John Hopkins University.

Semnetara dalam data yang dipaparkan situs Worldometers, saat ini Negeri "Uncle Sam" mengonfirmasi 101.321 setelah terjadi penambahan 15.886 kasus harian.

Melihat kondisi Virus Corona yang mengganas di Amerika Serikat mengingatkan kita terkait prediksi dari peramal buta, Baba Vanga yang mengejutkan.

Melansir Daily Mail, Baba Vanga meramalkan Donald Trump akan diserang penyakit mematikan pada tahun 2020.

Tidak menutup kemungkinan ramalan Baba Vanga bakal terbukti dalam waktu dekat ini.

Baba Vanga
Baba Vanga (Foto/net)

Menulik Worldometers.info, Amerika Serikat memiliki jumlah korban terbanyak di dunia dengan 85.594.

Kasus lonjakan yang terjadi di Amerika ini membuatnya menjadi negara dengan korban virus corona terbanyak di dunia saat ini.

Sementara itu negeri Paman Sam juga mencatatkan jumlah kematian mencapai 1.036 dengan angka kesembuhan 428.

Hal itu membuat negara adidaya sekelas Amerika sempoyongan, bahkan tersiar kabar beberapa waktu lalu, mereka meminta bantuan ke Korea Selatan.

Rupanya kondisi Amerika saat ini sudah diramalkan WHO jauh sebelumnya, mereka menyebut Amerika bisa menjadi pusat pandemi di dunia.

Hal itu terlihat dari cepatnya infeksi yang mewabah di negeri Paman Sam tersebut.

"Kami sekarang melihat percepatan, yang sangat besar di AS, jadi memang ada potensi untuk menjadi pusat Pandemi," Kata Margaret Harris juru bicara WHO sebelum situasi Amerika memburuk.

Presiden AS Donald Trump memegang tweet dari Google saat ia berbicara dalam konferensi pers tentang Coronavirus (COVID-19) bersama Wakil Presiden AS Mike Pence (kiri) dan anggota Satuan Tugas Coronavirus di Ruang Sidang Brady Press di Gedung Putih di Washington, DC, 15 Maret 2020.
Presiden AS Donald Trump memegang tweet dari Google saat ia berbicara dalam konferensi pers tentang Coronavirus (COVID-19) bersama Wakil Presiden AS Mike Pence (kiri) dan anggota Satuan Tugas Coronavirus di Ruang Sidang Brady Press di Gedung Putih di Washington, DC, 15 Maret 2020. (JIM WATSON / AFP)

Hanya dalam waktu semalam, Amerika menyalip Italia dan China, kini AS berada di urutan pertama dengan jumlah korban virus corona terbanyak di dunia.

Bukan hanya kasusnya, tetapi jumlah kematiannya juga terus meningkat.

Secara total angka mortalitas AS adalah 1.195, sedangkan menurut World Meters adalah 1.300.

Lonjakan ini membuat pihak rumah sakit kewalahan, di New York penyumbangnya separuh lebih kasus virus corona di AS.

Staf rumah sakit sampai putus asa menghadapi peningkatan tajam tersebut.

Demi menampung korban, New York Bellevue Hospital Centre menciptakan kamar mayat darurat meggunakan tenda pendingin.

Menurut CNN, staf rumah sakit yang kewalahan membagikan kisahnya melalui akun media sosialnya.

Dia mengatakan, "Aku belum tidur, pikiranku tidak mau berhenti. Aku menangis di kamar mandi saat istirahat, ketika aku melepas APD aku mendapati diriku yang berkeringat, menutupi lekukan wajahku."

"Aku menangis sepanjang malam, sepanjang perjalanan pulang," curhat perawat itu.

Perawat yang tak disebutkan namanya itu menggambarkan kondisi pasien corona yang selalu batuk, berkeringat, demam, dan memiliki ekspresi ketakutan di wajahnya.

Dia juga mengaku prihatin dan sedih melihat keluarga pasien yang meninggal bahkan tak bisa dikunjungi.

Saat pasien virus corona teridentifikasi, semua kontak dengan keluarganya akan terputus, jika meninggal, dia juga akan dimakamkan dengan sangat tertutup, bahkan keluarganya tak bisa melihatnya.

Saat ini Amerika menjadi negara paling terpuruk dengan kasus virus corona di dunia, dengan lebih dari 85.000 orang terinfeksi menjadikannya negara dengan kasus terbanyak di dunia.

(*)

Artikel ini telah tayang di Intisari-online.com dengan judul Ramalannya Terbukti Benar, Ternyata WHO Pernah Memprediksi Amerika Sebagai Pusat Virus Corona, Akhirnya Beginilah Kenyataanya Sekarang.

Editor: Guruh Budi Wibowo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved