Mengerikannya Lockdown di Filiphina, Presiden Duterte Sampai Masukkan 5 Perusuh ke Kandang Anjing

Beberapa negara telah melakukan penutupan atau lockdown untuk mencegah penularan virus coronan atau covid-19.

Mengerikannya Lockdown di Filiphina, Presiden Duterte Sampai Masukkan 5 Perusuh ke Kandang Anjing
Viral Press via metro via gridhot
Lima orang dikurung di kandang di Filipina setelah diduga melanggar jam malam coronavirus (Viral press via Metro)

orang dikurung di kandang di Filipina setelah diduga melanggar jam malam coronavirus (Viral press via Metro)

Mengerikannya Lockdown di Filiphina, Presiden Duterte Sampai Masukkan 5 Perusuh ke Kandang Anjing

TRIBUNPEKANBARU.COM - Beberapa negara telah melakukan penutupan atau lockdown untuk mencegah penularan virus coronan atau covid-19.

Dengan adanya lockdown itu, masyarakat hendaknya mematuhi dan menuruti segala himbaun pemerintah.

Setiap negara yang sudah menerapkan lockdown, tentu diharapkan masyarakatnya tidak melanggar.

Hal itu ditujukan untuk memutus mata rantau penularan virus corona atau covid-19.

Jika sudah diterapkan lockdown, namun masih banyak warga yang tak patuh, tentu hal itu menjadi sangat percuma.

Sehingga mau tak mau pemerintah harus bertindak tegas dan mengawasi segala pergerakan yang memicu penulan virus corona.

Salah satu negara yang sangat tegas terhadap masyarakatnya yang melanggar aturan lockdown, adalah Filiphina.

Bahkan aturan lockdown di Filipina terbilang cukup ketat dan mengerikan.

Dikutip dari Gridhot.id, Presiden Filipina Rodrigo Duterte memerintahkan polisi untuk menembak mati siapa pun orang yang membuat rusuh selama masa lockdown virus corona.

Sekitar setengah dari negara berpopulasi 110 juta itu kini dikarantina.

Berdampak pada jutaan rakyat miskin yang kehilangan mata pencahariannya.

Beberapa jam sebelum Duterte memberikan perintah itu, sekitar 20 orang yang berasal dari dari permukiman kumuh Manila ditangkap polisi.

Dilansir AFP Kamis (2/4/2020), mereka menggelar aksi protes dengan menuduh pemerintah Filipina gagal menyediakan bantuan bagi kalangan miskin.

"Perintah saya kepada polisi dan militer, jika terjadi ketegangan dan nyawa kalian terancam, tembak mati saja perusuh itu," kata Duterte.

"Dari pada kalian menyebabkan masalah, lebih baik saya mengirim kalian ke pemakaman," kata presiden yang berjuluk The Punisher itu.

Dia melontarkan ancaman tersebut setelah Manila melaporkan wabah virus corona semakin memburuk meski lockdown telah berlangsung selama dua pekan.

Sebelum perintah tembak mati bagi perusuh dikeluarkan, foto yang beredar menunjukkan lima orang dikurung dalam kandang anjing setelah polisi di Filipina diduga menangkap mereka melanggar jam malam saat lockdown karena virus corona.

Saat ini, jutaan orang di Filipina sedang menjalani lockdown sebagai upaya pemerintah dalam menghentikan penyebaran Covid-19.

Tetapi tampaknya beberapa petugas menggunakan kekuasaan baru mereka terlalu jauh.

Petugas menjemput kelompok tersebut di kota Santa Cruz karena berada di luar lebih dari jam malam yang ditentukan.

Jam malam Filipina berlangsung setiap malam dari jam 8 malam sampai jam 5 pagi.

Foto-foto memperlihatkan bagaimana ketiga lelaki dan dua remaja itu terkunci di dalam sangkar besi yang berkarat.

Melansir Metro, Selasa (31/3/2020), kejadian itu terjadi di kota, yang berjarak sekitar 55 mil di selatan ibukota, Manila.

Seorang pejabat terlihat berpose untuk foto sebelum sebuah mobil menyeret para pelanggar jam malam di kandang mereka.

Penduduk yang marah mengecam para pejabat, sementara sebuah kelompok hak asasi manusia menyerukan penyelidikan atas gambar-gambar yang mengganggu itu.

Phil Robertson, dari Human Rights Watch, mengatakan, Polisi dan pejabat setempat harus menghormati hak-hak orang-orang yang mereka tangkap.

Hal itu dikarenakan melanggar jam malam dan peraturan kesehatan masyarakat lainnya, yang dapat dilakukan sambil tetap membiarkan pemerintah Filipina mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memerangi Covid- 19.

"Setiap penganiayaan harus segera diselidiki, dan pihak berwenang yang bertanggung jawab harus bertanggung jawab," Walikota Santa Cruz Edgar San Luis mengatakan dia telah mengirim memo kepada bos dewan distrik memintanya untuk menjelaskan.

Selama lockdown, warga tidak dapat melakukan perjalanan antar kota atau provinsi tanpa identitas yang menunjukkan mereka tinggal atau bekerja di sana. (*)

Artikel ini sudah tayang di GridHot: Aturan Lockdown Filipina Tak Bisa Ditawar, Si Tangan Besi Duterte Masukkan 5 Perusuh Lockdown ke Kandang Anjing, Aktivis HAM Internasional Angkat Bicara, https://hot.grid.id/read/182092265/aturan-lockdown-filipina-tak-bisa-ditawar-si-tangan-besi-duterte-masukkan-5-perusuh-lockdown-ke-kandang-anjing-aktivis-ham-internasional-angkat-bicara?page=all

Foto: Lima orang dikurung di kandang di Filipina setelah diduga melanggar jam malam coronavirus (Viral press via Metro)

Mengerikannya Lockdown di Filiphina, Presiden Duterte Sampai Masukkan 5 Perusuh ke Kandang Anjing

TRIBUNPEKANBARU.COM - Beberapa negara telah melakukan penutupan atau lockdown untuk mencegah penularan virus coronan atau covid-19.

Dengan adanya lockdown itu, masyarakat hendaknya mematuhi dan menuruti segala himbaun pemerintah.

Setiap negara yang sudah menerapkan lockdown, tentu diharapkan masyarakatnya tidak melanggar.

Hal itu ditujukan untuk memutus mata rantau penularan virus corona atau covid-19.

Jika sudah diterapkan lockdown, namun masih banyak warga yang tak patuh, tentu hal itu menjadi sangat percuma.

Sehingga mau tak mau pemerintah harus bertindak tegas dan mengawasi segala pergerakan yang memicu penulan virus corona.

Salah satu negara yang sangat tegas terhadap masyarakatnya yang melanggar aturan lockdown, adalah Filiphina.

Bahkan aturan lockdown di Filipina terbilang cukup ketat dan mengerikan.

Dikutip dari Gridhot.id, Presiden Filipina Rodrigo Duterte memerintahkan polisi untuk menembak mati siapa pun orang yang membuat rusuh selama masa lockdown virus corona.

Sekitar setengah dari negara berpopulasi 110 juta itu kini dikarantina.

Berdampak pada jutaan rakyat miskin yang kehilangan mata pencahariannya.

Beberapa jam sebelum Duterte memberikan perintah itu, sekitar 20 orang yang berasal dari dari permukiman kumuh Manila ditangkap polisi.

Dilansir AFP Kamis (2/4/2020), mereka menggelar aksi protes dengan menuduh pemerintah Filipina gagal menyediakan bantuan bagi kalangan miskin.

"Perintah saya kepada polisi dan militer, jika terjadi ketegangan dan nyawa kalian terancam, tembak mati saja perusuh itu," kata Duterte.

"Dari pada kalian menyebabkan masalah, lebih baik saya mengirim kalian ke pemakaman," kata presiden yang berjuluk The Punisher itu.

Dia melontarkan ancaman tersebut setelah Manila melaporkan wabah virus corona semakin memburuk meski lockdown telah berlangsung selama dua pekan.

Sebelum perintah tembak mati bagi perusuh dikeluarkan, foto yang beredar menunjukkan lima orang dikurung dalam kandang anjing setelah polisi di Filipina diduga menangkap mereka melanggar jam malam saat lockdown karena virus corona.

Saat ini, jutaan orang di Filipina sedang menjalani lockdown sebagai upaya pemerintah dalam menghentikan penyebaran Covid-19.

Tetapi tampaknya beberapa petugas menggunakan kekuasaan baru mereka terlalu jauh.

Petugas menjemput kelompok tersebut di kota Santa Cruz karena berada di luar lebih dari jam malam yang ditentukan.

Jam malam Filipina berlangsung setiap malam dari jam 8 malam sampai jam 5 pagi.

Foto-foto memperlihatkan bagaimana ketiga lelaki dan dua remaja itu terkunci di dalam sangkar besi yang berkarat.

Melansir Metro, Selasa (31/3/2020), kejadian itu terjadi di kota, yang berjarak sekitar 55 mil di selatan ibukota, Manila.

Seorang pejabat terlihat berpose untuk foto sebelum sebuah mobil menyeret para pelanggar jam malam di kandang mereka.

Penduduk yang marah mengecam para pejabat, sementara sebuah kelompok hak asasi manusia menyerukan penyelidikan atas gambar-gambar yang mengganggu itu.

Phil Robertson, dari Human Rights Watch, mengatakan, Polisi dan pejabat setempat harus menghormati hak-hak orang-orang yang mereka tangkap.

Hal itu dikarenakan melanggar jam malam dan peraturan kesehatan masyarakat lainnya, yang dapat dilakukan sambil tetap membiarkan pemerintah Filipina mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memerangi Covid- 19.

"Setiap penganiayaan harus segera diselidiki, dan pihak berwenang yang bertanggung jawab harus bertanggung jawab," Walikota Santa Cruz Edgar San Luis mengatakan dia telah mengirim memo kepada bos dewan distrik memintanya untuk menjelaskan.

Selama lockdown, warga tidak dapat melakukan perjalanan antar kota atau provinsi tanpa identitas yang menunjukkan mereka tinggal atau bekerja di sana. (*)

Artikel ini sudah tayang di GridHot: Aturan Lockdown Filipina Tak Bisa Ditawar, Si Tangan Besi Duterte Masukkan 5 Perusuh Lockdown ke Kandang Anjing, Aktivis HAM Internasional Angkat Bicara, https://hot.grid.id/read/182092265/aturan-lockdown-filipina-tak-bisa-ditawar-si-tangan-besi-duterte-masukkan-5-perusuh-lockdown-ke-kandang-anjing-aktivis-ham-internasional-angkat-bicara?page=all

Editor: Hendri Gusmulyadi
Sumber: GridHot.id
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved