Breaking News:

Inhu

Dua Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit di Inhu Telantarkan Karyawannya di Tengah Pandemi Covid-19

Tujuh karyawan PT Sinar Reksa Kencana (SRK) dipecat di tengah pandemi Covid-19. Sementara itu gaji ratusan karyawan lainnya terlambat dibayarkan.

Penulis: Bynton Simanungkalit
Editor: CandraDani
istimewa
Suasana mediasi kedua antara pekerja dengan PT SRK di Disnaker Inhu, Selasa (26/3/2019). 

TRIBUNPEKANBARU.COM, RENGAT - Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang besar terhadap perekonomian. Di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) tujuh karyawan PT Sinar Reksa Kencana (SRK) dipecat di tengah pandemi Covid-19. Sementara itu gaji ratusan karyawan lainnya terlambat dibayarkan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), Endang Mulyawan mengatakan pemecatan tersebut tidak ada kaitannya dengan pandemi Covid-19.

Menurutnya perusahaan tidak mampu membayarkan gaji karyawan, karena tengah mengalami kesulitan keuangan.

Ketujuh karyawan PT SRK yang dipecat tersebut, antara lain Meri Narisman, Dedi Andreas, Jond Andri, Okta Nafalingga, Idul, Sepmasnadianto, dan Riswandi.

Dedi, salah satu karyawan PT SRK yang dipecat mengaku tidak tahu menahu alasan pemecatan dirinya bersama enam orang rekannya.

Para pekerja PT SRK melapor ke Disnaker Inhu, Jumat (23/11/2018).
Para pekerja PT SRK melapor ke Disnaker Inhu, Jumat (23/11/2018). (Istimewa)

Sesuai dengan surat pemecatan itu, dijelaskan bahwa mereka telah melakukan tindakan yang merugikan jalannya kegiatan operasional perusahaan dan koperasi TSM, yaitu dengan memblokade, menutup, menghalangi, dan mempersulit pekerja untuk masuk ke lokasi kerja areal perusahaan.

Dedi mengaku sebelum dilakukan pemecatan, pihaknya sempat melakukan aksi mogok kerja pada tanggal 16 April 2020 untuk menuntut pembayaran gaji.

Terlambat Bayar Gaji Karyawan, PT SRK Harus Bayar Denda Rp1 Miliar Lebih

Hadirkan Mediator dari Pemprov Riau pada Mediasi Kedua Mutasi Pekerja PT SRK

"Kami menuntut pembayaran gaji kami, karena sesuai dengan perjanjian, gaji tersebut dibayarkan paling lambat tanggal 15 setiap bulannya," katanya, Jumat (1/5/2020).

Keterlambatan pembayaran gaji tersebut menurut Dedi sudah terjadi selama beberapa bulan belakangan.

"Tahun 2019 dan tahun 2020, perusahaan sudah terlambat membayarkan gajinya, makanya kami membuat perjanjian agar perusahaan membayarkan gajinya paling lambat tanggal 15 April setiap bulannya," kata Meri yang dipecat bersama dengan Dedi.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved