Breaking News:

Mutiara Ramadhan

Virus Corona Penghapus Dosa? Atau Hukuman Atas Dosa yang Telah Dilakukan Manusia?

Orang beriman dalam hidup di dunia ini akan mendapat ujian dan cobaan, kadang-kadang datangnya wabah virus corona sebagai hukuman atas dosa manusia

Tribun Pekanbaru/Ilustrasi/Nolpitos Hendri
Virus Corona Penghapus Dosa? Atau Hukuman Atas Dosa yang Telah Dilakukan Manusia? 

Nabi Muhammad saw berkata pada wanita itu: “jika engkau mau, engkau tetap harus bersabar dan maka bagimu adalah surga (sebab penyakit ayan tersebut). Kalau engkau mau, aku akan berdo’a kepada Allah swt supaya Allah menyembuhan penyakitmu, maka wanita hitam itu memilih: “aku milih bersabar dengan penyakitnya”.

Wanita hitam itu berkata: “sungguh aku khawatir auratku terbuka, maka berdoalah kepada Allah swt agar auratku tidak terbuka ketika penyakit ayanku kambuh, maka Nabi saw mendo’akannya”.

Dari ayat dan hadis, juga firman Allah dalam hadis qudsi serta riwayat tadi, ketika sekarang kita sedang tertimpa musibah (wabah corona), maka ketahuilah wahai orang yang beriman, bahwa musibah, penyakit, kematian dan kesedihan (wabah virus corona) merupakan sebab (dihapuskan dosa) yang bisa mengantarkan kita masuk ke surga.

Sebab itu kita mesti bersabar dan ridha atas semua musibah (wabah virus corona) serta wajib bersyukur atas semua nikmat (tetap beribadah sebagaimana mestinya dibulan ramadhan ini, kendatipun pandemic corona masin berlangsung).

IsnyaAllah Allah swt akan menghapuskan dosa kita dan memasukkan kita semua kedalam surga dengan asbab musibah virus corona ini, aamiin ya Allah.

Surga Ada pada Mulutmu, Dua yang Mencelakakan Manusia yakni Lidah dan Kemaluan

Mutiara Ramadhan kali ini berkaitan dengan surga, dan kali ini akan disampaikan Ustadz Dr Nurhadi S.Pdi SE Sy. S Sy. M Sy. MH. M Pd.

Dua hal yang sangat mudah mencelakakan manusia, yaitu daging diantara dua bibir (yaitu lidah), dan daging yang ada diantara dua kaki atau paha (yaitu kemaluan/farj).

Banyak manusia terpeleset karena lidah atau lisannya.

Pepatah mengatakan bahwasannya lidah itu lebih tajam dari pada pedang.

Ini menunjukkan betapa bahayanya lidah ketika kita tidak dapat menjaganya (memeliharanya).

Hal ini wajar jikalau orang-orang yang bisa menjaga lisan dan lidahnya (menjaga mulut untuk berbicara yang dapat menyakiti orang lain), maka mulutnya adalah surganya.

Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa Nabi saw bersabda: “berkata baiklah atau lebih baik diam atau katakanlah yang baik-baik atau lebih baik diam”, “diam itu emas dan bicara itu perak”, maknanya betapa mahalnya arti diam dengan maksud menjaga lisan, lidah dan mulut dari berbicara yang tidak benar (dosa). Ada istilah lain, “mulutmu harimaumu”.

Pada bulan ramadhan ini, selain kita disuruh menahan, makan dan minum yang memang melalui mulut, namun juga disuruh menahan mulut, lidah dan lisan dari berkata dan berbicara yang tidak baik, apalagi menyakiti orang lain, mengguncing, mencaci-maki atau berkata kotor dan keji.

Jika kita dapat menahan makan dan minum dari pagi subuh terbit fajar sampai bedug margin berbuka puasa, maka sahlah puasanya.

Jika bisa menahan mulut dari mengucapkan yang tidak baik, maka sahlah pahala puasanya, namun jika sanggup menahan makan dan minum saja pada mulut, tetapi tidak bisa menahan mulut dari ucapan keji dan kotor, maka sah puasa, tapi tidak sah pahala pusanya, artinya nonsen tanpa pahala, hal ini sudah di ingatkan Nabi saw dalam hadisnya: “banyak orang yang puasa, namun tidak dapat apa-apa kecuali lapar dan haus”, sebab orang tersebut tidak bisa menahan mulutnya dari berucap, berkata, berbicara yang tidak baik, padahal, kalau sebaliknya, tentu puasa tidak sah pahala juga tidak ada.

Maka dalam Islam di bulan ramadhan ini yang dituntut adalah keduanya, yaitu menahan mulutnya dari makan dan minum juga menhan mulutnay dari bicara yang tidak baik, sehingga mulut adalah surgamu atau surgamu ada dimulutmu.

Selain menahan dua macam di atas, maka agar surgamu ada dimulutmu, baik dibulan ramadhan atau diluar ramadhan, mesti mulut ini bisa dijaga dan dipelihara, dalam sebuah riwayat hadis Nabi saw bersabda: “tidak akan mencium bau surga orang yang mulut dan lidahnya selalu menyakiti tetangganya”.

Riwayat lain: “selamatnya seorang muslim apabila bisa menjaga lidahnya dari menyakiti muslim yang lainnya”.

Kalau dapat menjaga mulut dari hal yang tidak baik, bukan berarti harus dan wajib diam, justru mulut dipergunakan untuk mengucapkan yang baik-baik, agar surgamu ada dimulutmu, diantaranya adalah zikrullah.

Sebuah riwayat hadis Nabi saw, Wahai Rasulullah saw, sesungguhnya syariat Islam ini telah banyak bagiku (berat dan memberatkan bagiku), maka beritahulah (kasihlah/berilah) kepadaku sesuatu (amalan) yang bisa aku pegang (amalkan) selalu (ringan dan gak berat)”, beliau menjawab, “hendaklah lisanmu selalu basah karena berdzikir kepada Allah (zikrullah).” (HR. Tirmidzi).

Melaui hadis ini maka agar surgamu ada dimulutmu, lidah dan mulut mesti selalu basah dengan selalu zikir kepada Allah (zikrullah).

Dalam ilmu tareqat, terutama Naqsabandiyah, ada istilah zikit naïf isbath, yaitu zikir “laa ilaha illa Allah”, dengan dalil hadis Nabi saw: “afdhalu zikri laa ilaha illa Allah”, juga: “tazdidu imanakum bi laa ilaha illa Allah” maknaya berbaiki dan mantapkan imanmu dengan memperbanyak zikir laa ilaha illa Allah.

Dan zikir-zikir lainya yang berupa kalimatun thayyibah, misalnya asma’ul husna, atau pengulu zikir (subhanallah, alhamdulillah, Allahu akbar, laa ilaha illa Allah).

Rasul saw bersabda: “sesungguhnya membaca dzikir: Subhaanallah, al-hamdu lillah, laa ilaaha illallah, dan Allahu akbar, adalah lebih aku sukai daripada segala sesuatu yang terkena oleh sinar matahari.(maksudnya bumi dan seluruh isinya)”. (HR. Muslim).

Hadis lain: “barangsiapa membaca dzikir (subhaanallahi wa bihamdih) dalam sehari 100 x, maka akan terhapuslah dosa-dosanya, meskipun sebanyak buih lautan (HR. Muttafaq ’alaih). Lain hadis: “ada dua lafal dzikir yang ringan di lisan, namun berat dalam timbangan (di Akhirat), dan sangat dicintai oleh Allah Dzat Pemberi rahmat, yaitu: Subhaanallahil-’Adziim, dan Subhaanallahi wa bihamdih.(HR. Muttafaq ’alaih).

Masih banyak lagi lafadz-lafadz zikir yang ada dalam al-Qur’an dan hadis, intinya jangan sampai kering bibir dan lidahmu juga mulutmu dari zikrullah, agar surgamu ada dimulutmu.

Selian zikir, agar mulut, lidah dan bibir ini selalu basah, maka yang kedua membaca al-Qur’an (tadarrusan), apalagi dibulan ramadhan, hal ini sudah dibahas dalam renungan mutiara ramadhan episode seblumnya tentang surga rindu orang tadarrusan. Maka selalulah membaca al-Qur’an, sebab membaca al-Qur’an juga bahagian dari zikir, hadis mengatakan: “seafdhal-afdhal zikir adalah tilawah al-Qur’an (tadarrusan)”.

Maka basahi selalu bibir, lidah dan mulutmu dengan bacaan lantunan al-Qur’an, ungkapan ulama berkata, bagaimanakah dulu para ulama dan umat muslim terhadap al-Qur’an (keakrabanya dan kedekatannya), maka ulama tersebut mengatakan, seperti dekatnya engkau (kalian) saat ini dengan alat komunikasimu (HP/Tablet). Masyaallah, begitulah para umat terdahulu dengan al-Qur’an, sehingga, hari-hari, tiada hari tanpa baca al-Qur’an dan tanpa buka al-Qur’an.

Kemudian selain zikir dan baca al-Qur’an, bagaimanakah lagi agar surgamu ada dimulutmu, maka yang berikutnya adalah berbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad saw.

Hal ini sudah dijelaskan dalam ayat firman Allah surah al-Ahzab ayat 56: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi (bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari Malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan: Allahuma shalli ala Muhammad). Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari Malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan: Allahuma shalli ala Muhammad)”.

Ayat ini cukup jelas, agar kita umat Islam, umat Nabi Muhammad selalu bershlawat kepadanya, yang insyaallah dengan banyak shalawat ia akan selamat di akhirat dengan mendapat syafa’at dari Nabi Muhammad saw.

Hadis Nabi saw: “Manusia yang paling berhak bersamaku (di surga) pada hari kiamat ialah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku”. (HR. Tirmidzi).

Riwayat lain mengatakan:

“Sesungguhnya orang yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Lalu, mintalah kepada Allah wasilah untukku karena wasilah adalah sebuat tempat di surga yang tidak akan dikaruniakan, melainkan kepada salah satu hamba Allah. Dan, aku berharap bahwa akulah hamba tersebut. Barang siapa memohon untukku wasilah, maka ia akan meraih syafaat”. (HR. Muslim).

Berkitan dengan Doa, mak ada hadis Rasul saw: “setiap doa akan terhalang (untuk dikabulkan) hingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya”. (HR. Thabrani).

Dari beberapa hadis di atas mengimpormasikan bahwa orang yang membasahi lidah dan mulutnya dengan bersholawat mendapatkan kemulian, selamat diakhirat (masuk surga), dapat safa’at (masuk surga), bersama dengan Nabi saw (masuk surga), terkabul Doa (masuk surga), cukuplah beberpa hadis ini menjadi alasan agar kita selalu membasi mulut dan lidah ini dengan bersholawat kepada Nabi Muhammad saw.

Maka kalau hal itu kita lakukan dalam keseharian hidup kita, semangkin jelaslah bahwa surgamu ada dimulutmu.

Sebagai penutup, kajian ini, supaya mulut ini selalu basah, selain zikir, baca qur’an dan sholawat, maka yang terahir adalah Doa, Rasul saw katakan: “Doa itu adalah inti ibadah”, maknanya perbanyaklah berDoa, dimana saja, kapan saja, dalam situasi apapu, Doa, Doa, Doa dan Doa.

Baik Doa yang ada dalam al-Qur’an maupun Doa yang diambil dari hadis Nabi saw, atau Doa-Doa ma’surah yang disusun dan dikrang oleh para ulama, terutama ulama-ulama yang dekat dan takut kepada Allah swt (ulama sufi dan tareqat).

Baik itu Doa munajat ataupun Doa permohonan dan permintaan hajat hidup di dunia.

Mutiara Ramadhan - Tribunpekanbaru.com / Nasuha Nasution.

Penulis: Nasuha Nasution
Editor: Nolpitos Hendri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved