Breaking News:

Ramadhan 2020

Tata Cara Sholat Idul Fitri dan Sholat Tarawih DiRumahAja dari Ustadz Abdul Somad, Bapak Jadi Khatib

Bagi keluarga muslim tidak perlu khawatir tidak bisa melaksanakan Sholat Idul Fitri karena Sholat Idul Fitri boleh dilaksanakan DiRumahAja

Tribun Pekanbaru/Instagram.com/@ustadzabdulsomad_official
Tata Cara Sholat Idul Fitri dan Sholat Tarawih DiRumahAja dari Ustadz Abdul Somad, Bapak Jadi Khatib. Foto: Ustadz Abdul Somad 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Wabah virus corona atau Covid-19 yang melanda Indonesia dan dunia saat ini membuat umat Islam harus melaksanakan ibadah Ramadhan DiRumahAja .

Melihat kondisi saat ini, Sholat Idul Fitri juga bakal diadakan DiRumahAja sebagaimana Sholat tarawih saat ini yang dilaksanakan DiRumahAja .

Bagi keluarga muslim tidak perlu khawatir tidak bisa melaksanakan Sholat Idul Fitri karena dalam kondisi bencana wabah Covid-19 saat ini Sholat Idul Fitri boleh dilaksanakan DiRumahAja .

Bapak jadi imam dan bapak jadi khatib Sholat Idul Fitri sedangkan keluarga yang lain menjadi jamaah. 

Ustadz Abdul Somad memberikan bimbingan cara melaksanakan ibadah Ramadhan DiRumahAja melalui sebuah video di channel youtube resminya.

Video ini berisi tutorial bagaimana melaksanakan sholat tarawih sendiri di rumah aja atau sholat tarawih berjamaah dengan keluarga.

Termasuk menjadi imam sholat tarawih bagi yang hafalan Alqurannya kurang dan bisa melihat mushaf Alquran.

Bahkan, Ustadz Abdul Somad menjelaskan cara sholat Idul Fitri DiRumahAja dengan satu imam dan tiga makmum.   

Ustadz Abdul Somad juga menerangkan apa asja syarat dan rukun kutbah Sholat Idul Fitri secara rinci yang mudah dihafal. 

Untuk lebih jelasnya silahkan tonton videonya. 

Berikut Tata Cara Sholat Idul Fitri dan Sholat Tarawih DiRumahAja dari Ustadz Abdul Somad :

Ini videonya:

Berikut Rukun Khutbah Idul Fitri dikutip dari berbagai sumber :

Rukun Khutbah Idul Fitri sama dengan rukun khutbah Sholat Jumat.

Intinya, khutbah itu mencakup tahzir atau peringatan dan tabsyir atau kabar gembira.

Perbedaan dua khutbah ini, pertama ada pada pembukaan khutbah.

Pada pembukaan khutbah Idul Fitri disunahkan dengan membaca takbir, sedangkan khutbah Jumat dimulai dengan mengucapkan bacaan tahmid.

Perbedaan kedua, pada waktu pelaksanaannya, Khutbah Idul Fitri dilakukan setelah Sholat Idul Fitri, sedangkan Khutbah Jumat dilaksanakan sebelum Sholat Jumat dilakukan.

Rukun Khutbah Idul Fitri menurut empat mahzab :

Abdurrahman al-Jaziri menjelaskan dalam kitabnya Alfiqh ‘alaa al-Madzaahib al-arba’ah bahwa ulama berbeda-beda pendapat mengenai jumlahnya sebagaimana berikut ini.

Menurut Mazhab Hanafi :

Rukun Khutbah Idul Fitri yakni tahmid, tasbih, dan tahlil.

Menurut mazhab ini, pelaksanaan khutbah kedua tidak disyaratkan karena hukumnya hanya sunnah.

Menurut Mazhab Maliki :

Khutbah Idul Fitri sama dengan khutbah Jumat, hanya memiliki satu rukun yaitu isi khutbah harus mengandung tahzir atau kabar yang menakutkan bagi orang yang lalai dan tabsyir atau kabar gembira bagi orang beriman.

Menurut Mazhab Hambali :

Pertama, membaca salawat atas Nabi Muhammad Saw. 

Kedua, membaca ayat dari kitabullah yang menjelaskan mengenai suatu hukum dari hukum-hukum Islam. 

Ketiga, memberikan wasiat agar bertakwa kepada Allah SWT.

Minimal dengan mengucapkan ittaqullaha wahdzaruu mukhalafata amrihi atau kalimat semisalnya.

Adapun membaca takbir pada pembukan khutbah Id adalah sunah, berbeda dengan pembukaan takbir pada khutbah Jumat yang merupakan termasuk rukun khutbah.

Menurut Mazhab Syafii :

Rukun khutbah Id ada empat.

Pertama, membaca salawat atas Nabi Muhammad SAW pada khutbah pertama dan kedua.

Membaca salawat tersebut harus menggunakan kalimat shalla allahu ala muhammad shallahu alaihi wasallam, nama beliau harus diucapkan dengan jelas dan tidak cukup jika hanya menggunakan dhamir.

Kedua, memberikan wasiat agar bertakwa kepada Allah SWT. Wasiat tersebut tidak cukup hanya dengan ancaman agar tidak tertipu dengan gemerlap dunia, khatib juga harus menekankan untuk taat kepada Allah misalnya dengan mengucapkan atii’uu allaha wahdzaruu mukhaalafa amrihi.

Ketiga, membaca ayat Alquran pada salah satu khutbah, tetapi lebih utama melakukannya pada khutbah pertama.

Disyaratkan untuk membaca ayat secara sempurna jika surat yang dibaca pendek.

Tetapi jika panjang cukup membaca sebagian ayat saja asalkan mencakup tentang balasan bagi orang beriman dan ancaman bagi orang-orang tidak beriman, tentang hukum, atau mengenai kisah-kisah umat terdahulu.

Keempat, hendaknya khatib mendoakan orang-orang mukmin dalam khutbah kedua.
Doa tersebut disyaratkan mencakup tentang perkara ukhrawi seperti permohonan ampunan dan permintaan duniawi seperti rezeki yang berkah dan bermanfaat.

Ramadhan 2020 - Tribunpekanbaru.com / Pitos Punjadi.

Penulis: pitos punjadi
Editor: Nolpitos Hendri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved