Breaking News:

Virus Corona di Riau

2 Mahasiswa Riau yang Jalani Karantina Tunjukkan Gejala Covid-19, Langsung Diisolasi ke Rumah Sakit

Total ada 29 mahasiswa yang dikarantina di gedung BPSDM Provinsi Riau ini sejak Kamis (7/5/2020) hingga 14 hari kedepan.

Penulis: Syaiful Misgio | Editor: Sesri
Tribun Pekanbaru/Doddy Vladimir
Suasana Balai Diklat BPSDM Jalan Ronggo Warsito, Pekanbaru tempat rombongan mahasiswa Riau dari luar negeri menjalani karantina selama 14 hari, Kamis (7/5).Lokasi ini dijaga ketat oleh petugas keamanan, baik dari Satpol PP, kepolisian juga dari TNI sehingga wartawan tidak diperbolehkan mengambil lokasi ini dari dekat. 

Pemerintah Provinsi Riau akan menanggung seluruh kebutuhan mahasiswa Riau yang baru dipulangkan dari luar negeri selama masa isolasi berlangsung.

"Pak Gubernur sudah memastikan kepada mereka bahwa kebutuhannya selama masa isolasi akan ditanggung oleh Pemprov Riau. Mulai dari kebutuhan makan dan lain-lainnya selama 14 hari kedepan," ujarnya.

Seluruh mahasiswa dari luar negeri ini harus dilakukan isolasi mengikuti protokol COVID-19.

Mereka berasal dari negara terjangkit, kemudian melakukan perjalanan dengan pesawat dan stransit di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, yang juga merupakan daerah zona merah penyebaran COVID-19.

Oleh sebab itu kata Mimi, secara protokol COVID-19, seluruh mahasiswa ini wajib menjalani masa isolasi sampai batas waktu perkiraan masa inkubasi virus.

Jika dalam kurun waktu itu kondisi kesehatan mereka baik-baik saja, maka sudah bisa dinyatakan aman dan mereka diperbolehkan melakukan interaksi dengan lingkungan sekitarnya.

Sementra Juru Bicara Gugus Tugas COVID-19 Riau, dr Indra Yovi mengemukakan bahwa puluhan mahasiswa Riau yang baru pulang dari luar negeri wajib dilakukan isolasi. Hal ini tidak bisa ditawar demi menyelamatkan orang-orang yang nantinya akan berinteraksi dan melakukan kontak dengan masing-masing dari mereka.

"Secara aturan memang harus di isolasi 14 hari supaya masa inkubasinya habis," ujarnya.

Menurutnya, kebijakan untuk mengisolasi para mahasiswa itu lantaran pemerintah tak mau ambil risiko besar terhadap potensi penularan COVID-19 dalam kapasitas yang lebih besar lagi.

Lagi pula, petugas akan kesulitan untuk melakukan tracing kontak sebab pastinya akan banyak interaksi dengan orang-orang di sekitarnya.

dr. Indra Yovi menganalogikan, para mahasiswa ini stransit di Bandara Soekarno Hatta untuk beberapa waktu sebelum mereka diangkut pesawat yang membawa mereka ke Riau. Dalam durasi waktu tersebut, tidak ada yang bisa menjamin bahwa para mahasiswa ini tidak melakukan kontak dengan orang yang tidak terpapar COVID-19.

Situasi seperti ini memang sulit untuk dipahami. Terutama dari pihak keluarga yang selalu yakin bahwa anak mereka (mahasiswa) selalu aman pada saat melakukan perjalanan. Maka selama 14 hari kedepan 24 mahasiswa ini harus diisolasi, sebab itulah satu-satunya langkah terbaik yang harus dilakukan.

"Saya juga sudah dapat informasi dari petugas berjaga bahwa dari 24 mahasiswa itu sudah ada 2 yang mereaksi. Mereka batuk-batuk. 1 sudah dilarikan ke RS dan 1 lagi masih menunggu konfirmasi dari pihak keluarga untuk di rawat di RS. Nah, dengan reaksi begini, otomatis 2 orang ini sudah menjadi PDP," katanya.

Seperti diketahui, ada 29 mahasiswa Riau yang baru pulang dari luar negeri. Dengan rincian 24 mahasiswa dari Arab Saudi, 1 dari Thailand. Kemudian ada 4 santri dari Malaysia.

(TribunPekanbaru/Syaiful Misgiono)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved