Breaking News:

Ramadhan 2020

Hukum Menangis dan Tidur Seharian hingga Tidak Sholat Wajib Saat Puasa Ramadhan, Ini Penjelasannya

Kali ini tanya jawab Ramadhan akan membahas tentang hukum menangis saat puasa Ramadhan, dan pada tanya jawab Ramadhan sebelumnya juga ada pertanyaan

Tribun Pekanbaru/Instagram.com/@jellygamat_id/@nduk_cillikk_/Kolase/Nolpitos Hendri
Hukum Menangis dan Tidur Seharian hingga Tidak Sholat Wajib Saat Puasa Ramadhan, Ini Penjelasannya. Foto: Ilustrasi menangis 

Ini menunjukkan bahwa meskipun tidur merupakan inti dari kelupaan, namun setiap hal yang dapat membantu seseorang melaksanakan ibadah maka juga termasuk sebagai ibadah.

Namun maknanya bukan tidur dari pagi hingga sore.

Tapi kita boleh tidur di siang hari dalam keadaan puasa dengan tujuan, membangkitkan, membentengi, menguatkan mata dan fisik agar malamnya kita bisa melakukan qiyamul lail.

Contohnya tidur sebelum dzuhur dan setelah dzuhur secukupnya untuk menguatkan mata kita menjalankan ibadah di malam hari, seperti membaca Alquran, salat malam, berzikir, dan ibadah sunnah lainnya.

Apalagi saat ini, menjelang 10 hari terakhir Ramadan, ada namanya lailatul qadar, inilah kesempatan kita mendapatkannya.

Kesimpulannya tidur disiang hari di bulan Ramadan tidak dilarang dan tidak membatalkan puasa dengan catatan tidur tidak dilakukan sepanjang hari.

Namun jika tidur sepanjang hari tentu saja akan mengurangi pahala puasa.

Wallahu A'lam Bishawab.

Hukum Wanita Muslimah Pamer Aurat Saat Berpuasa Ramadhan

Puasa ataupun tidak puasa, setiap wanita muslimah wajib menutup auratnya, bagaimana kalau sedang berpuasa tapi tetap pamer aurat kepada orang yang bukan mahramnya?

Hal itu akan dibahas dalam tanya jawab Ramadahan kali ini.

Bagi pembaca Tribun atau Tribunners bisa berinteraksi dengan redaksi Tribunpekanbaru.com melalui artikel tanya jawab Ramadhan ini.

Artikel tanya jawab Ramadhan ini dihadirkan Tribunpekanbaru.com untuk menampung pertanyaan pembaca atau Tribunners seputar Ramadhan.

Hukum Wanita Muslimah Pamer Aurat Saat Berpuasa Ramadan, Puasanya Sah?
Hukum Wanita Muslimah Pamer Aurat Saat Berpuasa Ramadan, Puasanya Sah? Foto: Pakaian wanita muslimah yang menutup aurat-Selebgram cantik asal Tankengon Aceh-Herlin Kenza. (Tribun Pekanbaru/Instagram.com/@herlinkenza/Kolase/Nolpitos Hendri)

Artikel tanya jawab Ramadhan ini berisi tentang pertanyaan pembaca Tribunpekanbaru.com atau Tribunners.

Pertanyaan Tribunners akan dijawab oleh ustadz dan ustadzah yang kredebilitasnya terjamin.

Kali ini pertanyaan Tribunners akan dijawab Ustadz Dr Nurhadi.

Tanya:

Assalamualaikum Ustadz, apa hukumnya wanita muslim membuka aurat saat berpuasa di Bulan Ramadan?

Jawab:

Waalaikumsalam sahabat Tribunners.

Secara umum, menutup aurat bagi perempuan tidak termasuk syarat sah puasa.

Namun bukan berarti hal itu diperbolehkan bagi mereka yang berpuasa.

Menutup aurat merupakan kewajiban yang bersifat mutlak, dalam artian tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Baik di bulan Ramadan ataupun tidak, kewajiban menutup aurat tetap berlaku.

Jika tetap saja tidak menutup aurat di Bulan Ramadan maka akan mengurangi nilai puasanya.

Bahkan ia akan mendapat dua dosa sekaligus, yakni dosa membuka aurat dan dosa dari orang yang melihat auratnya.

Kesimpulan yang bisa didapat adalah. Menutup aurat hukumnya wajib, dan pada kala masa Ramadan maupun tidak, tidak menutup aurat (mengumbarnya kepada yang bukan mahram) hukumnya haram dan tidak boleh.

Terlebih apabila dilakukan di bulan bulan suci ramadhan, maka sesungguhnya akan benar-benar merusak keberkahan yang didapat di bulan tersebut.

Semoga dapatmenjadi pengingat kepada kita dan semoga Allah selalu memberi kita petunjuk kejalan yang benar.

Wallahu A'lam Bishawab.

HUKUM Memaksa Anak Umur Sekitar 6 - 7 Tahun Berpuasa?

Jawaban kali ini akan disampaikan Ustadz Dr Nurhadi.

Tanya: 

Assalamualaikum Ustadz, kami mau tanya, bagaimana menurut syariat Islam memaksa anak umur sekitar 6 - 7 tahun berpuasa?

Jawab :

Waalaikumsalam sahabat Tribunners.

Puasa seperti kewajiban syariat pada umumnya diwajibkan hanya bagi mukallaf, yaitu muslim, berakal, dan baligh.

Itu artinya anak yang belum baligh tidak wajib berpuasa.

Hanya saja, dianjurkan bagi orang tua untuk melatih anaknya berpuasa.

Terutama ketika anak itu mendekati usia baligh.

Diharapkan, ketika masuk usia baligh, dia tidak keberatan untuk berpuasa.

Untuk usaha ini, orang tua berhak mendapat pahala amar makruf, mengajak anaknya untuk melakukan ketaatan.

Dalam hadist Rasulullah SAW yang saya tuangkan dalam buku berjudul "Konsep Pendidikan Keluarga Dalam Bingkai Rasullah SAW" ; Yakni ajarkanlah anakmu salat dan puasa.

Maknanya, boleh kita mengajarkanlah anak kita melakukan puasa Ramadan.

Memaksa dalam artian eksploitasi tidak boleh, tapi memaksa dalam rangka tarbiyah, mendidik dibolehkan dan dianjurkan oleh Rasulullah.

Saya memiliki tiga anak, anak pertama perempuan usia 8 tahun, atas izin Allah sudah berpuasa penuh sejak usia 4 tahun.

Kemudian anak kedua laki-laki umur 4 tahun saat ini, sudah bisa puasa penuh sejak awal Ramadhan.

Apa rahasianya, anak-anak usia 4 tahun sudah bisa berpuasa sehari penuh di Bulan Ramadhan.

Sebaiknya kita orangtua sejak dini telah mengajarkan berpuasa.

Khusus kepada ibu, bahkan sejak dalam kandungan dan menyusui, buah hati sudah dikenalkan kepada ibadah puasa.

InsyaAllah, umur 4 tahun, anak atas izin Allah sudah bisa menjalankan puasa penuh.

Artinya, latihan bisa dilakukan selama tidak memberatkan, meskipun sebaliknya, anak jangan sampai tidak puasa sama sekali dengan alasan memberatkan.

Wallahu A'lam Bishawab.

Main Mobile Legend dan Main Game

Pertanyaan kali ini akan dijawab oleh Ustadz Ustadz Dr Nurhadi yang merupakan seorang pendakwah dan dosen.

Tanya :

Assalamualaikum Ustadz, bermain mobile legend atau game online untuk mengisi waktu saat menjalankan ibadah puasa, apakah bisa mengurangi nilai ibadah puasa?

Jawab :

Waalaikumsalam, sahabat Tribunners.

Ada dalam hadist Rasullah: "Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang; jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.”

Pertanyaannya, ketika berpuasa dan bermain media sosial, bermain game online, atau tidur sepanjang hari, apakah mengurangi pahala ibadah Ramadan kita?

Jawabannya dipastikan iya.

Sebab waktu kita banyak tersedot ke hal yang sia-sia.

Seharusnya kita justru memanfaatkan setiap waktu di bulan Ramadan dengan aktifitas yang bernilai ibadah.

Memperbanyak zikir, amalan sunnah, dan ibadah lainnya yang pahalanya dilipatkan Allah di saat Ramadan ini.

Dari sisi hukumnya, bermain games, bermedia sosial ketika sedang menjalankan ibadah puasa adalah boleh sepanjang hal tersebut tidak menimbulkan hal-hal yang diharamkan.

Puasanya sah.

Namun mengingat bermain games acap kali membuat pelakunya menjadi pemalas dan turun etos kerjanya, maka sebaiknya ditinggalkan.

Bahkan bisa meningkat menjadi haram jika permainan games itu mengandung konten judi dan pornografi.

Kkonten-konten tersebut pada umumnya bisa menjerumuskan kepada sesuatu yang diharamkan.

Sesuatu yang menghantarkan kepada sesuatu yang diharamkan maka sesuatu itu menjadi haram.

Wallahu A'lam Bishawab.

Niat Puasa Cukup Sekali Diawal Ramadhan atau Setiap Hari?

Segala amalan itu diawali dengan niat, bagaimana dengan niat puasa Ramadhan, apakah niatnya setiap hari atau sekali saja diawal Ramadhan

Tanya jawab kali ini akan berkaitan dengan niat puasa Ramadhan, dan akan dijawab oleh Ustadz Ustadz Dr Nurhadi.

Tanya :

Assalamualaikum Ustadz, niat puasa cukup sekali atau setiap hari? Bagaimana kalau lupa?

Jawab :

Waalaikumsalam, sahabat Tribunners.

Membaca doa niat puasa pada bulan Ramadan sangat penting dilakukan demi keabsahan dari puasa itu sendiri.

Pasalnya, niat merupakan salah satu rukun dalam puasa Ramadan.

Niat merupakan ketegasan atas status kefardhuan dari ibadah tersebut.

Bukan hanya sekedar melakukannya, namun juga ada kejelasan dari ibadah yang dikerjakan.

Niat puasa sendiri dilakukan pada malam hari hingga terbitnya fajar serta disunnahkan untuk melafalkan atau mengucapkannya.

Sementara untuk mengucapkan niat puasa Ramadan, terjadi perbedaan pandangan antara melakukan niat satu kali untuk satu bulan dengan niat yang dilakukan setiap hari.

Ada yang berpendapat bahwa puasa sebulan pada Ramadan cukup hanya berniat satu kali saja pada hari pertama karena merupakan suatu kesatuan yang utuh dalam satu bulan.

Bisa disebut sebagai satu bentuk ibadah.

Sedangkan niat yang dilakukan setiap hari didasari atas setiap ibadah yang dilakukan wajib disertai dengan niat.

Melakukan puasa pada bulan ramadan merupakan bentuk ibadah sendiri-sendiri yang tidak terkait antara hari sebelumnya dan sesudahnya.

Maka, sebuah niat tidak dapat digunakan untuk dua kali ibadah atau lebih.

Olah karena itu, agar lebih sempurna niat kita.

Sebaiknya kita gabungkan kedua pendapat ini, yakni diawal Ramadan kita niatkan untuk sebulan penuh dan setiap hari kita juga melafazkan niat untuk berpuasa keesokan harinya.

Wallahu A'lam Bishawab.

Hukum Berpuasa Tapi Tidak Sholat Wajib atau Fardhu, Apakah Puasanya Diterima?

Banyak orang yang berpuasa tapi tidak melaksanakan sholat wajib atau sholat lima waktu, hal ini menjadi pembahasan dalam tanya jawab Ramadhan kali ini.

Tanya jawab kali ini akan dijawab oleh Ustadz Dr Nurhadi yang merupakan seorang pendakwah dan dosen.

Tanya :

Assalamualaikum Ustadz, bagaimana hukumnya berpuasa tapi tidak sholat wajib, apakah puasanya diterima?

Jawab :

Waalaikumsalam, sahabat Tribunner.

Rukun Islam ada lima, yakni syahadat, sholat, zakat, berpuasa di Bulan Ramadan, berhaji jika mampu.

Artinya sholat sangat utama setelah seorang bersyahadat dalam Islam.

Itu kita pahami lebih dulu.

Dalam kaitan tak sholat di Bulan Ramadan, hukumnya masing-masing.

Mengerjakan puasa dapat pahala dalam artian puasanya tetap sah, dan tidak sholat berdosa.

Dikarenakan ibadah sholat adalah ibadah tersendiri dan ibadah puasa juga ibadah tersendiri.

Kendati tidak membatalkan puasa, meninggalkan sholat baik di Bulan Ramadan maupun tidak, amatlah sangat disayangkan.

Pasalnya, hal pertama yang diperiksa di akhirat kelak adalah ibadah sholat dari orang tersebut, kemudian disusul ibadah yang lain.

Harusnya kita memuliakan Ramadan dan menghidupkan Ramadan dengan ibadah terutama ibadah wajib.

Dalam Islam sholat merupakan ibadah pokok, sehingga disebut juga tiang agama.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa shalat ialah amalan pertama yang dilihat (hisab) Allah di hari akhirat kelak.

Meski tetap sah, orang yang menjalankan puasa tapi tidak melaksanakan sholat wajib cenderung merugi, karena hanya mendapatkan haus dan lapar saja ketika berpuasa.

Sebagian ulama malah tegas mengatakan, tak ada gunanya berpuasa bila tak sholat.

Ada perumpamaan, ibarat orang mencari uang Rp 10 ribu, tapi justru kehilangan uang Rp 100 ribu.

Semoga kita tidak termasuk orang yang merugi di bulan Ramadan ini. Wallahu A'lam Bishawab.

Ciri-ciri Orang yang di Dalam Tubuhnya Ada Jin Jahat

Jin adalah makhluk gaib ciptaan Allah SWT, jin ada yang kafir dan ada yang Islam, jin kafir ini selalu mengganggu manusia untuk diajak ke jalan sesat.

Jin bisa masuk masuk ke dalam tubuh manusia dan mempengaruhi manusia itu untuk berbuat hal-hal yang melanggar ajaran Islam bahkan mengajak untuk menyekutukan Allah SWT.

Terkait dengan jin ini, ada akan dibahas dalam tanya jawab ramadhan kali ini.

Tanya Jawab Ramadhan ini berisi tentang jawaban atas pertanyaan Tribunners atau pembaca Tribunpekanbaru.com yang dikirim ke redaksi Tribunpekanbaru.com.

Pertanyaan Tribunners akan dijawab oleh beberapa ustadz dan ustadzah yang kredibilitasnya terjamin dan sudah dikenal masyarakat Riau maupun masyarakat Indonesia.

Tanya Jawab Ramadhan adalah satu di antara artikel yang akan dihadirkan Tribunpekanbaru.com selama Ramadhan 1441 Hijriah ini untuk menampung pertanyaan Tribunners.

Tanya :

Assalamualaikum Ustadz, apa ciri-ciri orang yang di dalam tubuhnya ada jin jahat yang mengganggu?

Jawab :

Waalaikumsalam sahabat Tribunners.

Ada beberapa tanda menurut orang-orang yang ahli ruqyah syar’iyyah menyebutkan beberapa tanda (gejala) yang bisa digunakan sebagai petunjuk bahwa seseorang terkena gangguan jin atau terkena penyakit ‘ain.

Gangguan yang bisa kita kenali itu bisa berupa gangguan fisik, gangguan tidur, dan gangguang tidur.

Gangguan fisik di antaranya sering sakit, tapi ketika dicek ke dokter tidak ditemukan penyakitnya.

Kemudian suka buang angin ketika berwudhuk, suka marah, malas melakukan aktifitas.

Ada juga saat tidur suka ketindihan. Gangguan lain yang termasuk ada jin jahat yang mengganggu adalah suka dengan sejenis, lelaki suka lelaki begitu juga dengan perempuan yang menyukai sejenisnya.

Cara menangani gangguan ini adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sebab golongan syaitan dan jin yang jahat takit mendekati atau mengganggu orang yang dekat dengan Allah SWT.

Lebih khusus lagi, kita bisa melakukan terapi.

Terapi ruqyah syar’iyyah disarankan dengan cara banyak-banyak membaca Alquran.

Di antara ayat Alquran yang direkomendasikan adalah membaca surat Alfatihah, membaca Ayat Kursi, membaca tiga ayat pendek seperti surat Al Ikhlas.

Intinya banyak-banyak berzikir dan mengingat Allah
Jika Anda memiliki jimat, lekaslah tanggalkan.

Jika ada menuntut ilmu kebatinan segeralah bertobat. Insya Allah bila ada gangguan dari jin jahat kiriman dukun kita bisa selamat dan terbebas jika selalu mengingat Allah.

Namun apabila ada tanda-tanda gangguan jin jahat dalam bentuk sihir, disarankan harus diobati dengan rugyah syar’iyyah yang insya Allah baru bisa sembuh dengan memerlukan kesabaran dari beberapa proses.

Wallahu A'lam Bishawab.

Amalan Apa Saja yang Dilakukan Agar Terhindar dari Sihir

Kali ini pertanyaan Tribunners akan dijawab oleh Ustadz Tomi Eropa.

Tanya :

Assalamualaikum Ustadz, apa saja amalan yang harus dilakukan agar terhindar dari sihir gangguan jin kafir?

Jawab :

Waalaikumsalam, manusia hidup berdampingan dengan setan dan jin.

Dua makhluk ini dapat mengganggu dan merasuki manusia untuk berbuat kejahatan.

Di zaman moderen ini, sihir dan gangguan jin masih saja terjadi.

Sihir merupakan praktik kejahatan sejak zaman kuno hingga kini.

Sihir adalah hasil kerja sama antara manusia dan jin untuk mengganggu dan menyakiti manusia lain.

Agar terhindar dari gangguan jin jahat dan sihir sejumlah laku harus kita jalankan.

Di antaranya membersihkan iman dari kesyirikan, tidak memakai jimat yang dipercaya sebagai pelindung, dan tidak datang ke dukun untuk membantu persoalan yang dihadapi.

Yakinlah hanya Allah tempat mengadu dan berkelu kesah.

Kemudian, hindari mendengarkan musik-musik yang menyesatkan, jangan sering-sering ke pasar yang menjadi favorit jin jahat berkumpul.

Sementara untuk membentengi diri dari gangguan jin kafir lagi jahat dan sihir adalah dengan meningkatkan keimanan dan ibadah kita kepada Allah SWT.

Perbanyak zikir dalam setiap kesempatan, baik pagi, siang, sore atau malam hari.

Khususnya di malam hari, frekuensi zikir makin ditingkatkan, sebab biasanya orang yang berniat jahat dengan mengirim santet dilakukan pada malam hari.

Selanjutnya selalulah menjaga wudhu dan memperbanyak amalan sunah lainnya.

Selalu membaca doa ketika masuk WC, saat hendak makan, saat hendak berpakaian, minimal dengan membaca basmalah.

Selalulah kita mendekatkan diri dengan Allah, dan inshaAllah jin-jin jahat itu akan menjauh dari kita.

Namun begitu juga sebaliknya, ketika kita jauh dari Allh maka niscaya jin-jin jahat itu akan selalu menggoda kita untuk bermuat maksiat.

Apa Hukum Ruqyah pada Saat Berpuasa?

Tanya :

Assalamulaikum Ustadz, bagaimana hukumnya melakukan ruqyah disaat siang Ramadan dalam keadaan berpuasa?

Jawab :

Waalaikumsalam, melakukan ruqyah dalam kondisi berpuasa di Bulan Ramadan adalah kesempatan sangat baik.

Sebab di Bulan Ramadan ini Allah membuka pintu-pintu kebaikan dan menutup pintu-pintu keburukan.

Apalagi Allah membelenggu syaitan dan jin yang durhaka.

Menjadi persolan adalah ketika ruqyah dilaksanakan, ada kemungkinan yang diruqyah mengalami reaksi muntah.

Muntahnya ini apakah ini membatalkan puasa atau tidak.

InsyaAllah muntah yang disebabkan dalam proses ruqyah tidak membatalkan puasa.

Seperti halnya muntah karena masuk angin karena perjalanan dan muntah karena menicum bau tak sedap.

Adapun muntah yang membatalkan puasa adalah muntah yang disengaja, seperti dengan sengaja memasukkan jari ke dalam rongga mulut untuk memancing muntah.

Sebagaimana dalam hadist, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang muntah menguasainya (muntah tidak sengaja) sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qadha’ baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qadha’.” (HR. Abu Daud, no. 2380; Ibnu Majah, no. 1676; Tirmidzi, no. 720. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Hanya saja dikhawatirkan saat dilakukannya ruqyah, orang yang diruqyah dalam kondisi fisiknya lemah atau kurang sehat.

Nah orang di ruqyah nantinya mesti minum karena lelah, atau ada sisa makanan yang dimuntahkan tertelan.

Kondisi inilah yang bisa menjadikan puasa batal jika ruqyah dilakukan siang hari.

Oleh sebab itu, sebaiknya ruqyah dilakukan di malam hari. Kondisi orang yang ruqyah dalam keadaan bugar karena magribnya sudah berbuka.
Jadi manfaatkanlah Bulan Ramadan ini bagi orang yang ingin meruqyah diri dan dilakukan di malam hari.

Inilah kesempatan untuk melepaskan diri dari orang yang zolim, kemusrikan, melakukan sihir dan terhindar dari kezoliman-kezoliman. Wallahu A'lam Bishawab.

HUKUM Bekam Saat Puasa di Bulan Ramadhan

Tanya :

Assalamualaikum Ustadz, bagaimana hukum melaksanakan bekam di saat berpuasa di siang Ramadan?

Jawab :

Waalaikumsalam, bekam adalah metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah statis (kental) yang mengandung toksin dari dalam tubuh manusia.

Berbekam dengan cara melakukan pemvakuman di kulit dan pengeluaran darah darinya.

Nah, terkait berbekam di siang hari di bulan Ramadan saat berpuasa, ulama dahulu berselisih pendapat (khilafiyah) tentang hukum bekam, mayoritas fuqoha mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’i berpendapat bahwa bekam tidak membatalkan puasa.

Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan bekam ketika sedang ihram dan ketika puasa.

Sementara ulama mazhab Hanbali berpendapat berbekam membatalkan puasa.

Jadi seolah-olah terjadi kontradiksi dalam hukum melakukan bekam di siang hari saat berpusa dari masing-masing ulama ini.

Namun ada ulama lain yang menggabungkan dua dalil ini, jika berbekam ini membuat badan lemah, karena berbekam itu memerlukan energi, yang tidak kuat fisiknya bisa muntah-muntah hingga pingsan.

Alhasil nanti akan minum dan membatalkan puasa.

Tapi jika seorang yang berpuasa hendak berbekam memikiki fisik kuat, badannya fit, maka InsyaAllah orang seperti ini bisa melakukan bekam.

Kesimpulannya berbekam ini khilafiyah. Ada yang membolehkan, ada yang melarang karena membatalkan puasa.

Namun saya cenderung dengan dalil membolehkan bekam dengan catatan kondisi fisik orang yang akan menjalani bekam dalam kondisi bugar dan sehat.

Tapi jika kondisinya lemah, bisa membahayakan kesehatan dan membatalkan puasanya, sebaiknya tidak dilakukan bekam.

APAKAH Setan dan Jin itu Dirantai Selama Ramadhan?

Tanya :

Assalamualaikum Ustadz apakah setan dan jin itu selama Ramadhan di rantai..? Kalau memang dirantai kenapa kok masih ada yang berbuat jahat di bulan Ramadhan?

Jawab :

Waalaikumsalam, Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat mulia sehingga Allah benar-benar memfasilitasi manusia dalam beribadah.

Salah satunya dengan mengikat para setan dan jin durhaka, membuka pintu-pintu syurga, dan menutup pintu-pintu neraka.

Menurut salah satu hadits nabi yang saya baca : Shahabat yang mulia Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila datang Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhori).

Nah, dalam konteks ini para ulama membagi makna dibelenggu atas dua. Yakni makna kiasan dan makna hakiki.

Makna hakiki, yakni makna yang sebenarnya jika syetan dan golongan jin yang durhaka memang diikat oleh Allah SWT.

Sementara makna kiasan dibelenggu adalah, justru kita sebagai hamba Allah yang membelenggu syaitan dan jin golongan durhaka kepada Allah dengan ketaqwaan dan keimanan yang kita miliki.

Caranya lewat segenap aktifitas di bulan Ramadan yang bernilai ibadah.

Kita jalankan puasa di siang hari, rutin berzikir, tilawah Alquran, rajin bersedakah, salat malam, dan lain sebagainya sehingga syaitan tak punya celah dan waktu untuk menggoda kita berbuat maksiat.

Tapi kenapa maksiat dan kejahatan masih terjadi ?

Ini pelakunya jin dari golongan manusia yang gagal mengendalikan hawa nafsunya.

Oleh sebab itu marilah kita berlindung kepada Allah, dengan membelenggu syaitan dan jin jahat yang merasuki diri kita dengan memperbanyak amalan dan ibadah di Bulan Ramadan.

Wallahu A'lam Bishawab.

Bagaimana Kita Ikhlas Menerima Cobaan Wabah Corona Saat Ramadhan?

Kali ini pertanyaan Tribunners akan dijawab oleh ustadzah Nella Lucky.

Ustadzah Nella Lucky adalah ustadzah cantik dan muda asal Pekanbaru Riau yang sudah berkecimpung di dunia dakwah Islam sejak kecil.

Pada saat ia masih kecil, ia dikenal sebagai dai cilik, dan saat menjadi dai cilik itu ia berhasil meraih berbagai prestasi dan kini ia sudah terkenal di Riau maupun Indonesia.

Ustazah Nella Lucky memiliki nama lengkap Nella Lucky dan dibidang pendidikan ia sudah meraih gelar S1 di bidang filsafat Islam dengan gelar S Fil I, meraih gelar S2 di bidang humaniora dengan gelar M Hum, dan ia juga sudah menamatkan pendidikan S3 dengan gelar Doktor.

Tanya :

Assalamualaikum Ustadzah, bagaimana kita bisa ikhlas menerima cobaan wabah corona di Ramadan tahun ini?

Jawab :

Waalaikumsalam.

Wabah corona merupakan ujian sekaligus tantangan bagi kita untuk tetap memuliakan Ramadan.

Penghulunya segala bulan, Allah SWT melimpahkan rahmah yang istimewa di bulan ini.

Corona dimaknai sebagai ujian dengan kita ibaratkan seorang anak sekolah yang telah menempuh semester 1 dan 2, selama 6 bulan.

Si anak selalu mengerjakan tugas-tugas dengan baik, di sekolah juga aktif, ujian tengah semester (UTS) hasilnya juga sangat memuaskan.

Anak ini memang pintar.

Namun tiba-tiba dia jatuh sakit saat ujian akhir semester (UAS) digelar.

Si anak harus dirawat di rumah sakit, dan diapun tidak bisa ikut ujian.

Kira-kira anak yang pintar ini lulus? Dipastikan tidak, karena ia tidak mengikuti ujian.

Itulah ibarat ujian keimanan bagi kita di tengah wabah corona ini.

Ketika kita rajin ibadah tapi tidak bisa melewati ujian ini, ya tetap kita tidak akan lulus sebagai manusia yang bertaqwa sebagai tujuan akhir Ramadan.

Nah, kaitan wabah corona dengan Ramadan seperti apa?

Kita mulai dari ibadah Ramadan adalah perintah Allah SWT, kita wajib menjalani ibadah puasa di siang hari dan menegakkan malam-malam Ramadan dengan Salat Tarawih, tadarus Alquran, Tahajud, dan banyak ibadah lainnya.

Tahun ini disaat bersamaan Allah juga jadikan wabah corona sebagai ujian.

Ujian ini harus dimaknai sebagai cara Allah untuk menguji kadar keimanan hamba-hambanya.

Apakah hamba-hambanya masih melakukan ibadah seperti Ramadan lalu dengan menamatkan Khatam Alquran, rajin bersedekah, berzikir, banyak mengerjakan salat sunat.

Atau malah ibadahnya melorot dengan alasan corona.

Sekarang yang harus kita lakukan adalah, teruslah melakukan yang terbaik dalam beribadah di Bulan Ramadan ini.

Lakukan amalan-amalan yang selama ini kita abaikan, justru di wabah corona ini waktu kita lebih banyak untuk makin dekat dengan Allah.

Siapapun di antara kita yang ibadahnya makin berkualitas di Ramadan tahun ini, dialah sesungguhnya yang berhasil lulus dalam Ramadan tahun ini.

Semoga wabah corona ini segera lenyap, dan Allah selalu merahmati kita.

Tanya Jawab Ramadhan - Tribun Pekanbaru / Nasuha Nasution.

Penulis: Nasuha Nasution
Editor: Nolpitos Hendri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved