Breaking News:

Mutiara Ramadhan

Hukuman Pidana dan Perdata Bagi yang Tidak Puasa

Bulan Ramadhan sebagaimana kita tahu disebut juga bulan puasa, sebab kita diwajibkan berpuasa bagi muslim, baligh, berakal dan sanggup menjalankannya

Tribun Pekanbaru/Ilustrasi/Nolpitos Hendri
Hukuman Pidana dan Perdata Bagi yang Tidak Puasa. Foto: Ilustrasi timbangan amal. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Mutiara Ramadhan kali ini berjudul "Hukuman Pidana dan Perdata Bagi yang Tidak Puasa" dan akan disampaikan Ustadz Dr Nurhadi S.Pdi SE Sy. S Sy. M Sy. MH. M Pd.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bulan Ramadhan sebagaimana kita tahu disebut juga bulan puasa, sebab kita diwajibkan berpuasa bagi muslim, baligh, berakal dan sanggup menjalankannya.

Demikian penjelasan para ulama dalam kitab-kitab fiqihnya. Berkaitan dengan puasa dalil yang mewajibkan terdapat dalam surah al-Baqarah ayat 183 menurut zumhur ulama: “hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Adapun dalil dari sunnah adalah dalil tentang rukun Islam: “Islam dirikan atas lima (5) dasar, yiatu syahadatain, shalat, puasa, zakat dan haji bagi yang mampu”.   

Ramadhan sudah lebih setengah bulan, masihkan kita tetap berpuasa?, ataukah sudah tidak lagi, karena sebahagian umat terkadang puasanya tidak cukup, penuh, full sebulan penuh, dengan alasan berbagai alasan atau disengaja, atau memang tidak puasa dari awal sampai saat ini, maka hal ini sangat tidak baik untuk dirinya, baik dunianya maupun akhiratnya (didunia ia wajib mengganti dan membayar fidyah, di akhirat ia akan mendapatkan bencana dan siksa). Camkan itu wahai saudaraku..!.

Sebenarnya ada beberapa kategori orang yang diperbolehkan tidak puasa dengan syarat harus menggantinya di hari lain setelah Ramadhan setelah hal yang menyebabkan diperbolehkan tidak puasa telah berlalu.

Maka diantara orang yang boleh tidak berpuasa adalah orang sakit, orang yang musafir, orang yang sudah lemah (tua renta atau lansia).

Orang yang sakit dan musafir pada saat Ramadhan, diperbolehkan tidak puasa tapi harus diganti puasanya setelah Ramadhan sebanyak hari yang tertinggal.

Akan tetapi kalau sakitnya berkelanjutan sampai setelah Ramadhan hendaknya diujung Ramadhan bayarkan fidyahnya, ini sebagai ihtiyat, manatahu ternyata tidak panjang umur dan gak bisa lagi mengganti setelah Ramadhan.

Halaman
123
Penulis: Nasuha Nasution
Editor: Nolpitos Hendri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved