Breaking News:

Mutiara Ramadhan

Denda Bagi yang Tidak Puasa di Dunia Sebelum Diajukan ke Pengadilan Allah di Padang Mahsyar

Sebelum di pengadilan Allah padang mahsyar nantinya dan disidangkan, setidaknya ketika masih hidup di dunia diperkenankan membayar denda

Tribun Pekanbaru/Ilustrasi/Nolpitos Hendri
Denda Bagi yang Tidak Puasa di Dunia Sebelum Diajukan ke Pengadilan Allah di Padang Mahsyar 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Puasa merupakan kewajiban bagi umat muslim, bagi yang meninggalkannya akan di kenai sangsi dosa dan hukuman di akhirat.

Sebelum para tersangka dan terdakwa ini di tarik di pengadilan Allah padang mahsyar nantinya dan disidangkan, setidaknya ketika masih hidup didunia diperkenankan membayar denda pidananya, baik dengan menggantinya (mengkadhanya) maupun membayar fidyah bagi yang sudah uzhur dan tidak sanggup untuk mengkadhanya, baik fidyah puasa yang sengaja ditinggalkan ataupun yang tidak sengaja ditinggalkan karena ada uzhur pada waktu itu namun tidak diganti-ganti sampai bertahun-tahun sehingga sudah tua, payah lagi puasa atau sudah uzhur (lansia).

Maka ini semuanya dalam pandangan ilmu hukum, mereka adalah tersangka tidak pidana meninggalkan kewajiban puasa, yang akan di dakwah menjadi terdakwah pidana pelanggaran KHUP puasa rukun Islam ke 3.

Upaya-upaya hukum boleh dilakukan sebelum terlambat dan P2 berkas lengkap akan diajukan ke jaksa (malaikat Ijrail dan rakit atid) dan disidangkan di Pengadilan Alllah (PA) padang mahsyar.

Upaya hukum bagi tersangka dapat dilakukan dengan cara membayar puasanya, dengan harapan diringkan pasal Pidananya kendatipun itu sulit, namun tetap berharap, hal ini sudah dijelaskan oleh Rasul saw: “barangsiapa berbuka sehari dari (puasa) bulan ramadhan bukan dengan (alasan) keringanan yang Allah berikan kepadanya, maka tidak akan diterima darinya (walaupun dia berpuasa) setahun semuanya”. (HR. Ahmad no. 9002).

Hadist ini berlaku baik untuk orang yang ada uzhur tapi belum diganti-ganti sampai berganti tahun dan bertahun-tahun, ataupun yang sengaja tidak puasa namun juga tidak dikadha (diganti) sampai bergantian tahun bahkan bertahun-tahun hingga puluhan tahun.

Upaya hukum ini boleh dilakukan dalam ilmu fiqih dan harus (mesti) jika ingin hukuman pidana tidak berat dan terlalu berat, ini juga dijelaskan oleh Nabi saw: “barangsiapa berbuka sehari dari (puasa) bulan ramadhan dengan tanpa keringanan, dia bertemu Allah dengannya (belum dikadha dan diganti), walaupun dia berpuasa setahun semuanya (sudah diganti dan dikadha), (namun) jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuninya, dan jika Allah menghendaki, Dia akan menyiksanya”. (HR. Thabarani no. 9459).

Ujung dari Hadist ini membuka peluang upaya hukum dan keringanan hukuman pidananya.

Maknanya jika puasa tertinggal atau ditinggalkan, tidaka akan tergantikan walaupun puasa setahun, itu kalau yang ditingglakan sehari, kalau sebulan, maka puasa 30 tahun juga tidak bisa menyamainya, kalau gak diganti-ganti dan gak di kadha-kadha, bagaimana?, hukuman pidana tentu tambah berat, namun upaya hukum tetap dilakukan, karena hukaman itu akan diputuskan oleh hakim sesuai dengan keyakinan hakim.

Jika hakimnya Allah, maka keyakinan Allah sesuai dengan keyakinan hambanya (prasangka Allah sesuai dengan prasangka hamba artinya tidak putus asa dari rahmat Allah, namun jangan jadi permianan dan olok-olok manusia kepada Allah, maka Allah nati di akhirat akan memperolok-olokkannya), hal ini singgung dalam Hadist qudsi: “Allah berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat)”. (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Halaman
123
Penulis: Nasuha Nasution
Editor: Nolpitos Hendri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved