Breaking News:

Tanya Jawab Ramadhan

HUKUM Tidak Membayar Zakat Fitrah Bagi Orang yang Berpuasa

Hukum melaksanakan zakat fitrah adalah fardu ain. Jadi setiap individu wajib melakukan amalan tersebut.

Penulis: Nasuha Nasution | Editor: Nolpitos Hendri
Tribun Pekanbaru/Ilustrasi/Nolpitos Hendri
HUKUM Tidak Membayar Zakat Fitrah Bagi Orang yang Berpuasa. Foto: Ilustrasi pembayaran zakat fitrah. 

Juga surah at-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan (maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda) dan mensucikan (maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka) mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka”.

Sedangkan dalil dari hadist misalnya: “Saya diperintahkan memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa Tiada Tuhan yang harus dieembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah dan mendirikan shalat, serta mengeluarkan zakat. Apabila mereka melaksanakan semuanya itu, maka mereka telah memelihara darah dan hartanya dari padaku, kecuali dengan hak Islam, maka perhitungan mereka terserah kepada Allah”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Zakat sebagaimana kita tahu ada dua mazam, ada zakat fitrha ada zakat maal atau zakat harta.

Berkaitan dengan  zakat fitrah Nabi saw bersabda: “Rasulullah saw telah mawajibkan zakat fitrah, yang berfungsi untuk mensucikan orang yang berpuasa dari kotoran-kotoran yang disebabkan oleh omong kosong, dan ucapan-ucapan keji, dan untuk makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat idul fitri, maka ia adalah zakat fitrah yang diterima. Dan barang siapa menunaikannya sesudah shalat idul fitri, maka dia diterima sebagai sedekah sunnat saja”. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Daraqutni).

Juga hadist Nabi saw: “kami selalu mengeluarkan zakat fitrah di zaman Rasulullah saw satu gantang bahan makanan, atau satu gantang kurma, atau satu gantang syair, atau satu gantang kismis, atau satu gantang susu bubu (HR. Bukhari dan Muslim). Jika dikaitkan dengan kekinian, hal tersbeut bisa diqiaskan dengan beras atau yang lebih sederhana mata uang atau nilai tukar seharga beras (makanan pokok) sesuai dengan takaran masing-masing makanan yang dimakan setiap individu, yang tentu berlainan dan akan menyebabkan berlainan dan berbeda nilai uang dan mata uangnya.

Zakat yang kedua adalah zakat maal atau harta, hal ini banyak ditegaskan dalam hadis Nabi saw: “apabilaa engkau memiliki 200 dirham dan telah sampai setahun. Maka zakatnya lima dirham. Dan tiada wajib zakat atasmu pada emas hingga hingga engkau memiliki 20 dinar dan telah cukup setahun lamanya, maka zakatnya setegah dinar. Sedang lebihnya diperhitungkan seperti itu juga”. (HR. Abu Daud).

Ini hadist tentang harta simpanan emas atau uang yang disimpan dibrangkas atau rekening atau deposito, maka zakatnya sesuai dengan hadis tersebut. hadis lain berkitan dengan harta simpanan: “Pernah saya memakai suatu perhiasan emas, lalu saya tanyakan kepada Rasulullah saw: apakah yang saya pakai ini tergolong “kanz” (simpanan yang diancam azab oleh Allah itu?). Rasulullah saw menjawab: Kalau engkau tunaikan zakatnya, maka dia tidak tergolong kanz (harta simpanan yang di azab Allah)”. (HR. Abu Daud dan Daraqutni).

Khusus untuk emas jika cukup nisab dan haul, maka zakatnya: “dan zakat emas dan perak 1/40 (2 ½ %)”. (HR. Bukhari).

Berikutnya zakat tanaman, atau perkebunan atau pertanian, hadis Nabi saw: “pada tanaman yang menadah air hujan dan mata air, atau hanya mengisap dengan akarnya sepuluh persen zakatnya, sedangkan pada tanaman yang disiram dengan alat (dngan biaya) lima persen”. (HR. Bukhari).

Hadist lainya dalam riwayat yang sama: “Pada tanaman yang diairi dengan irigasi, dan air hujan, sepuluh persen zakatnya, dan pada tanaman yang diairi dengan kincir, setengah usyur (lima persen) zakatnya”. (HR. Ahmad dan Muslim).

Juga masih berkaitan dengan itu: “tiada Wajib zakat pada (hasil tanaman dan buah-buahan) yang kurang dari lima wasq”.

Selanjutnya zakat binatang ternak atau peternakan, hadis Nabi saw: “barang siapa tidak memiliki slain empat ekor unta, maka ia tidak wajib mengeluarkan zakatnya, kecuali jika pemiliknya rela bersedekah. Apabila telah sampai lima ekor unta, maka wajiblah dizakati dengan seekor anak kambing”. (HR. Bukhari dan Anas).

Ada kesamaan antara unta dengan sapi, maka adapun zakat sapi adalah: “Rasulullah saw telah memerintahkan aku untuk memungut zakat dari tiap-tiap 30 ekor sapi, dengan seekor anaknya, jantan atau betina yang berumur satu tahun”. (HR. Lima perawi).

Sedangkan zakat kambing Nabi saw bersabda: “Dan nisab ternak kambing yang digembalakan, jika telah ada 40 ekor, sampai dengan 120 ekor, zakatnya satu ekor anak kambing. Jika lebih dari 120 sampai dengan 200 ekor, zakkatnya dua ekor anak kambing. Jika lebih dari 200 ekor, sampai dengan 300 ekor, zakatnya tiga ekor anak kambing. Jika telah lebih dari 300 ekor, maka tiap-tiap 100 ekor, zakatnya satu ekor anak kambing”. (HR. Bukhari).

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved