Breaking News:

Tanya Jawab Ramadhan

HUKUM Tidak Membayar Zakat Fitrah Bagi Orang yang Berpuasa

Hukum melaksanakan zakat fitrah adalah fardu ain. Jadi setiap individu wajib melakukan amalan tersebut.

Penulis: Nasuha Nasution | Editor: Nolpitos Hendri
Tribun Pekanbaru/Ilustrasi/Nolpitos Hendri
HUKUM Tidak Membayar Zakat Fitrah Bagi Orang yang Berpuasa. Foto: Ilustrasi pembayaran zakat fitrah. 

Jikalau kepemilikan itu bersama, maka zakatnya juga ditanggung bersama, bukan masing-masing, misalnya beternak dengan konsep musyarakah atau mudharabah, hal ini sejalan dengan hadis Nabi saw: “Tidak boleh dikumpulkan antara ternak yang terpisah, dan tidak boleh pula dipisahkan antara ternak yang sudah terkumpul, karena bermaksud menghindari pembayaran zakat. Apa yang sudah bergabung antara dua hak milik, maka keduanya kembali berdamai atas pelaksanaan kewajiban bersama”. (HR. Bukhari).

Selanjutnya ada namanya barang temuan atau sering kita dengar dengan istilah harta karun, maka hal itu juga ada zakatnya, hal ini dijelaskan Nabi saw: “Apabila engkau menemukannya di dalam suatu kampung yang berpenghuni, atau pada bekas jalan, maka engkau harus mengumumkannya kepada khalayak. Jika engkau menemukannya di dalam bekas perkampungan jahiliah, atau di suatu perkampungan yang tidak berpenghuni, maka padanya dan pada rikaz (emas, perak, dan lainya yang terbenam di bawah lapisan tanah) 1/5 atau 20% zakatnya”. (HR. Ibenu Majah).

Hadist ini bermakna kalau menemukan harta atau uang atau emas di daerah perkampungan yang ada penghuninya atau ada penduduknya, maka diumumkan apa yang didapatkan tersebut kepada masyarakat, jika tidak ada yang memilikinya, zakatnya 20 %, sama halnya kalau temuan tersebut dikampung yang tidak berpenghuni alias kampong mati, maka tidak perlu di umumkan, tapi langsung keluarkan zakatnya 20 %.

Hal ini dikuatkan dengan hadis Rasul saw: “Binatang itu, tidak ada pertanggung  jawabannya, dan ma’adin itu tidak ada pertanggung jawabannya, dan zakat rikaz itu 1/5 (20%)”. (HR. Buhari).

Dizaman modern ini ada tambahan lagi yang sering didengar istilah zakat propesi, yang di qiaskan (persamakan) dengan zakat perkebunan atau tanaman saat panen, sedangkan nisabnya dengan nisab emas, yaitu 90 gram emas (nilai uang emas), selkanjutnya dikeluarkan zakatnya seperti zakat emas, yiatu 2,5 % dari hasil (gaji) propesi tersebut.

Cara menunaikanya bisa setiap bulan sewaktu menerima gaji, dan boleh diujung tahun dengan mengumpulkannya, namun lebih baik setiap gajian atau bulanya, agar tidak terlalu berat saat mengeluarkannya, sebeb manusia ada kecenderungan kikir dan bakhil.

Adapun akuntansi pahala zakat ialah sebagaimana hadis Rasul saw: “Sesungguhnya di surga terdapat kamar yang luarnya dapat terlihat dari dalamnya dan dalamnya dapat terlihat dari luarnya.” Kemudian ada seorang badui berdiri lantas bertanya, “Kepada siapa (kamar tersebut) wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Bagi orang yang berkata baik, memberi makan (di antaranya lewat zakat, pen), rajin berpuasa, shalat karena Allah di malam hari di saat manusia sedang terlelap tidur”. (HR. Tirmizi).

Hadist lainya: “Setiap orang akan berada di naungan amalan sedekahnya hingga ia mendapatkan keputusan di tengah-tengah manusia”. (HR. Ahmadf).

Juga hadist : “Sedekah (zakat) tidaklah mengurangi harta”. (HR. Muslim).

Pada ayat di atas surah taubah 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka”.

Juga surah az-Zariyat ayat 19: “dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”.

Maksud ayat ini adalah didalam harta kita ada zakat untuk orang miskin dan orang susah dhua’fa yang meminta-minta.

Sebenarnya antara zakat dan shalat itu seperti dua sisi mata uang, hal ini dibuktikan dengan ayat-ayat al-Qur’an yang selalu menyandingkan antara zakat dengan shalat dan shalat dengan zakat, demikian juga hadis-hadis Nabi saw yang cukup banyak tentang hal tersebut.

Ayat yang popular tentang akuntansi zakat ini ada dalam surah al-Baqarah ayat 265: “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai)”.

Juga dalam ayat 261: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah (zakat) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki”.

Tanya Jawab Ramadhan - Tribun Pekanbaru.com / Nasuha Nasution.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved