Kisah Inspiratif

KISAH Mahasiswa Universitas Al-Ahggaf Asal Riau Terkurung di Yaman karena Lockdown

Dari segi konflik Alhamdulillah sudah aman, tapi efeknya harga makanan dan lainnya sangat mahal. Untuk Ramadhan kali ni memang berbeda

Tribun Pekanbaru/Istimewa
KISAH Mahasiswa Universitas Al-Ahggaf Asal Riau Terkurung di Yaman karena Lockdown 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan pahit bagi umat Islam dalam menjalaninya, hal ini disebabkan adanya bencana pandemi wabah covid-19 di belahan dunia.

Semua aktivitas masyarakat terbatas dan harus berkurung diri di rumah karena pembatasan aktivitas oleh pemerintah.

Apalagi bagi sebagian orang yang menjalani Ramadhan tahun ini jauh dari sanak keluarga, tentunya semakin terasa sedihnya.

Seperti yang dialami Shalihin warga Inhil Riau yang saat ini menjalani Ramadhan di Yaman, tepatnya di Mukalla, Hadaral Mout.

"Dari segi konflik Alhamdulillah sudah aman, tapi efeknya harga makanan dan lainnya sangat mahal. Untuk Ramadhan kali ni memang berbeda dari yang sebelumnya. Kita hanya bisa beraktivitas di dalam asrama dan belajarnya juga di asrama," ujar Shalihin mulai bercerita kepada tribunpekanbaru.com Selasa (19/5/2020) saat dihubungi melalui seluler.

Mahasiswa tingkat pertama Universitas Al-Ahggaf ini mengatakan, Yaman salah satu negara yang mayoritasnya muslim terletak di Timur tengah saat ini juga melakukan lockdown untuk mengurangi penyebaran wabah covid-19.

Pada masa pendemi ini, pemerintah Yaman yang mempunyai otoritas penuh terhadap negaranya telah menetapkan sistem lockdown di setiap distriknya termasuk kota Mukalla-Hadaralmout semenjak satu bulan lalu.

Lockdown ini mengakibatkan terhentinya segala jenis aktivitas membuat, sehingga membuat Ramadhan kali ini berbeda dari sebelumnya, tidak hanya tutup proses pembelajaran di setiap sekolah - sekolah, bahkan sholat jumat - pun ikut dihentikan setelah keluarkannya surat edaran dari pemerintah Yaman.

Bila dibandingkan Ramadhan biasanya menurut Shalihin, pada sore hari biasanya jalanan kota Mukalla di penuhi pejalan kaki, pengendara motor, mobil sibuk melakukan transaksi dan hal lainnya menjelang waktu berbuka puasa.

Berlanjut hingga malam mesjid-mesjid yang di banjiri jamaah untuk melaksanakan shalat isya', tarawih, dan di sudahi dengan shalat witir secara berjamaah.

"Namun Ramadhan kali ini kebiasaan itu tidak lagi terlihat, rasa sunyi dan senyap meliputi jalanan dan mesjid - mesjid," ujar Shalihin.

Halaman
12
Penulis: Nasuha Nasution
Editor: Nolpitos Hendri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved