Breaking News:

Tanya Jawab Ramadhan

Lebih Afdhol Bayar Zakat Fitrah dengan Uang atau Beras? Ini Jawabannya

Membayar zakat fitrah merupakan kewajiban bagi umat muslim yang menjalankan puasa pada bulan Ramadan. bDi Indonesia, makanan pokoknya adalah nasi

Tribun Pekanbaru/Ilustrasi/Nolpitos Hendri
Lebih Afdhol Bayar Zakat Fitrah dengan Uang atau Beras? Ini Jawabannya 

Akan tetapi dalam kondisi darurat, seperti kasus penyebaran Covid-19 sekarang ini, pelaksanaan Sholat Ied bisa dilaksanakan di rumah.

Tata caranya, boleh sendiri boleh berjemaah dengan jumlah terbatas.

Apabila sholat Ied dilaksanakan secara sendiri maka ketentuannya adalah dengan diawali niat Sholat Ied secara sendiri.

Bacaan sholat dilaksanakan dengan pelan (sirr) dan tidak ada khutbah. 

Sementara jika Sholat Ied di rumah dilaksanakan secara berjamaah maka ketentuannya ialah jumlah jamaah minimal 4 orang (satu imam dan 3 makmum).

Tata cara sholat berjamaah di rumah sama dengan saat di masjid/lapangan.

Usai Sholat Ied, khatib melaksanakan khutbah.

Namun jika jumlah jamaah kurang dari empat orang atau jika dalam pelaksanaan Sholat Ied berjamaah di rumah tidak ada yang berkemampuan untuk khutbah maka boleh dilakukan berjamaah tanpa khutbah.

Wallahu A'lam Bishawab.

HUKUM Tidak Membayar Zakat Fitrah Bagi Orang yang Berpuasa

Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan kepada seluruh umat Islam kecuali bagi mereka tidak mampu untuk membayarnya atau mereka dalam kondisi sangat miskin.

Hal itulah yang akan menjadi pembahasan Tanya Jawab Ramadhan kita kali ini.

Pertanyaan netizen atau Tribunners akan dijawab oleh Ustadz Dr Nurhadi.

Tanya:

Assalamualaikum Ustadz bagaimana dengan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan namun tidak membayarkan zakat fitrah?

Jawab:

Waalaikumsalam sahabat Tribunners.

Sebagai umat muslim di bulan Ramadan ini kita wajib menjalankan beberapa amalan, salah satunya adalah melakukan zakat fitrah.

Ini merupakan kewajiban setiap individu baik laki-laki maupun perempuan.

Hukum melaksanakan zakat fitrah adalah fardu ain.

Jadi setiap individu wajib melakukan amalan tersebut.

Zakat fitrah memiliki tenggat waktu untuk diterima, yakni sampai kita selesai menunaikan Sholat Ied.

Kesimpulannya membayar zakat fitrah adalah wajib, kendati membayar zakat fitrah adalah bagi yang mampu.

Namun mampu di sini harus dilandasi ilmu agama.

Jangan hanya berdalih tidak mampu, sebagai alasan enggan membayar zakat fitrah.

Contoh, jika ada masjid membayar zakat fitrah kepada kita, atau orang kaya membayarkan zakat mal kepada kita, maka gunakanlah zakat yang diberikan tadi untuk membayar zakat fitrah.

Walaupun zakat fitrah itu akan dikembalikan oleh amil zakat kepada kita sebagai orang yang mustahik menerimanya.

Terpenting akadnya harus jelas.

Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi kita tidak membayar zakat fitrah.

Jika tidak membayar zakat fitrah, maka amal Ramadhan tidak akan diterima Allah SWT.

Wallahu A'lam Bishawab.

Dalil dan Hukum Membayar Zakat Harta dan Zakat Fitrah

Mutiara Ramadhan kali ini berjudul Akuntansi Pahala Zakat dan akan disampaikan oleh Ustadz Dr Nurhadi S.Pdi SE Sy. S Sy. M Sy. MH. M Pd.

Berikut uraiannya:

Ramadhan bulan kemuliaan, tanpa tanding dengan bulan apapun, sebab ramadhan bulan diturunkannya Alquran dan lailatul qadar.

Kebaikan amalan di bulan ini dilipat gandakan dari 10 sampai 700 kali lipat.

Selain itu pada bulan ini ada kewajiban puasa sebagai rukun Islam yang ke tiga setelah shalat, sedangkan setelah itu rukun berikutnya adalah zakat.

Kewajiban zakat ini disebutkan oleh al-Qur’an dan sunnah cukup banyak, diantaranya surah al-Baqarah ayat 43: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang rukuk”.

Juga surah at-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan (maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda) dan mensucikan (maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka) mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka”.

Sedangkan dalil dari hadist misalnya: “Saya diperintahkan memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa Tiada Tuhan yang harus dieembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah dan mendirikan shalat, serta mengeluarkan zakat. Apabila mereka melaksanakan semuanya itu, maka mereka telah memelihara darah dan hartanya dari padaku, kecuali dengan hak Islam, maka perhitungan mereka terserah kepada Allah”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Zakat sebagaimana kita tahu ada dua mazam, ada zakat fitrha ada zakat maal atau zakat harta.

Berkaitan dengan  zakat fitrah Nabi saw bersabda: “Rasulullah saw telah mawajibkan zakat fitrah, yang berfungsi untuk mensucikan orang yang berpuasa dari kotoran-kotoran yang disebabkan oleh omong kosong, dan ucapan-ucapan keji, dan untuk makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat idul fitri, maka ia adalah zakat fitrah yang diterima. Dan barang siapa menunaikannya sesudah shalat idul fitri, maka dia diterima sebagai sedekah sunnat saja”. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Daraqutni).

Juga hadist Nabi saw: “kami selalu mengeluarkan zakat fitrah di zaman Rasulullah saw satu gantang bahan makanan, atau satu gantang kurma, atau satu gantang syair, atau satu gantang kismis, atau satu gantang susu bubu (HR. Bukhari dan Muslim). Jika dikaitkan dengan kekinian, hal tersbeut bisa diqiaskan dengan beras atau yang lebih sederhana mata uang atau nilai tukar seharga beras (makanan pokok) sesuai dengan takaran masing-masing makanan yang dimakan setiap individu, yang tentu berlainan dan akan menyebabkan berlainan dan berbeda nilai uang dan mata uangnya.

Zakat yang kedua adalah zakat maal atau harta, hal ini banyak ditegaskan dalam hadis Nabi saw: “apabilaa engkau memiliki 200 dirham dan telah sampai setahun. Maka zakatnya lima dirham. Dan tiada wajib zakat atasmu pada emas hingga hingga engkau memiliki 20 dinar dan telah cukup setahun lamanya, maka zakatnya setegah dinar. Sedang lebihnya diperhitungkan seperti itu juga”. (HR. Abu Daud).

Ini hadist tentang harta simpanan emas atau uang yang disimpan dibrangkas atau rekening atau deposito, maka zakatnya sesuai dengan hadis tersebut. hadis lain berkitan dengan harta simpanan: “Pernah saya memakai suatu perhiasan emas, lalu saya tanyakan kepada Rasulullah saw: apakah yang saya pakai ini tergolong “kanz” (simpanan yang diancam azab oleh Allah itu?). Rasulullah saw menjawab: Kalau engkau tunaikan zakatnya, maka dia tidak tergolong kanz (harta simpanan yang di azab Allah)”. (HR. Abu Daud dan Daraqutni).

Khusus untuk emas jika cukup nisab dan haul, maka zakatnya: “dan zakat emas dan perak 1/40 (2 ½ %)”. (HR. Bukhari).

Berikutnya zakat tanaman, atau perkebunan atau pertanian, hadis Nabi saw: “pada tanaman yang menadah air hujan dan mata air, atau hanya mengisap dengan akarnya sepuluh persen zakatnya, sedangkan pada tanaman yang disiram dengan alat (dngan biaya) lima persen”. (HR. Bukhari).

Hadist lainya dalam riwayat yang sama: “Pada tanaman yang diairi dengan irigasi, dan air hujan, sepuluh persen zakatnya, dan pada tanaman yang diairi dengan kincir, setengah usyur (lima persen) zakatnya”. (HR. Ahmad dan Muslim).

Juga masih berkaitan dengan itu: “tiada Wajib zakat pada (hasil tanaman dan buah-buahan) yang kurang dari lima wasq”.

Selanjutnya zakat binatang ternak atau peternakan, hadis Nabi saw: “barang siapa tidak memiliki slain empat ekor unta, maka ia tidak wajib mengeluarkan zakatnya, kecuali jika pemiliknya rela bersedekah. Apabila telah sampai lima ekor unta, maka wajiblah dizakati dengan seekor anak kambing”. (HR. Bukhari dan Anas).

Ada kesamaan antara unta dengan sapi, maka adapun zakat sapi adalah: “Rasulullah saw telah memerintahkan aku untuk memungut zakat dari tiap-tiap 30 ekor sapi, dengan seekor anaknya, jantan atau betina yang berumur satu tahun”. (HR. Lima perawi).

Sedangkan zakat kambing Nabi saw bersabda: “Dan nisab ternak kambing yang digembalakan, jika telah ada 40 ekor, sampai dengan 120 ekor, zakatnya satu ekor anak kambing. Jika lebih dari 120 sampai dengan 200 ekor, zakkatnya dua ekor anak kambing. Jika lebih dari 200 ekor, sampai dengan 300 ekor, zakatnya tiga ekor anak kambing. Jika telah lebih dari 300 ekor, maka tiap-tiap 100 ekor, zakatnya satu ekor anak kambing”. (HR. Bukhari).

Jikalau kepemilikan itu bersama, maka zakatnya juga ditanggung bersama, bukan masing-masing, misalnya beternak dengan konsep musyarakah atau mudharabah, hal ini sejalan dengan hadis Nabi saw: “Tidak boleh dikumpulkan antara ternak yang terpisah, dan tidak boleh pula dipisahkan antara ternak yang sudah terkumpul, karena bermaksud menghindari pembayaran zakat. Apa yang sudah bergabung antara dua hak milik, maka keduanya kembali berdamai atas pelaksanaan kewajiban bersama”. (HR. Bukhari).

Selanjutnya ada namanya barang temuan atau sering kita dengar dengan istilah harta karun, maka hal itu juga ada zakatnya, hal ini dijelaskan Nabi saw: “Apabila engkau menemukannya di dalam suatu kampung yang berpenghuni, atau pada bekas jalan, maka engkau harus mengumumkannya kepada khalayak. Jika engkau menemukannya di dalam bekas perkampungan jahiliah, atau di suatu perkampungan yang tidak berpenghuni, maka padanya dan pada rikaz (emas, perak, dan lainya yang terbenam di bawah lapisan tanah) 1/5 atau 20% zakatnya”. (HR. Ibenu Majah).

Hadist ini bermakna kalau menemukan harta atau uang atau emas di daerah perkampungan yang ada penghuninya atau ada penduduknya, maka diumumkan apa yang didapatkan tersebut kepada masyarakat, jika tidak ada yang memilikinya, zakatnya 20 %, sama halnya kalau temuan tersebut dikampung yang tidak berpenghuni alias kampong mati, maka tidak perlu di umumkan, tapi langsung keluarkan zakatnya 20 %.

Hal ini dikuatkan dengan hadis Rasul saw: “Binatang itu, tidak ada pertanggung  jawabannya, dan ma’adin itu tidak ada pertanggung jawabannya, dan zakat rikaz itu 1/5 (20%)”. (HR. Buhari).

Dizaman modern ini ada tambahan lagi yang sering didengar istilah zakat propesi, yang di qiaskan (persamakan) dengan zakat perkebunan atau tanaman saat panen, sedangkan nisabnya dengan nisab emas, yaitu 90 gram emas (nilai uang emas), selkanjutnya dikeluarkan zakatnya seperti zakat emas, yiatu 2,5 % dari hasil (gaji) propesi tersebut.

Cara menunaikanya bisa setiap bulan sewaktu menerima gaji, dan boleh diujung tahun dengan mengumpulkannya, namun lebih baik setiap gajian atau bulanya, agar tidak terlalu berat saat mengeluarkannya, sebeb manusia ada kecenderungan kikir dan bakhil.

Adapun akuntansi pahala zakat ialah sebagaimana hadis Rasul saw: “Sesungguhnya di surga terdapat kamar yang luarnya dapat terlihat dari dalamnya dan dalamnya dapat terlihat dari luarnya.” Kemudian ada seorang badui berdiri lantas bertanya, “Kepada siapa (kamar tersebut) wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Bagi orang yang berkata baik, memberi makan (di antaranya lewat zakat, pen), rajin berpuasa, shalat karena Allah di malam hari di saat manusia sedang terlelap tidur”. (HR. Tirmizi).

Hadist lainya: “Setiap orang akan berada di naungan amalan sedekahnya hingga ia mendapatkan keputusan di tengah-tengah manusia”. (HR. Ahmadf).

Juga hadist : “Sedekah (zakat) tidaklah mengurangi harta”. (HR. Muslim).

Pada ayat di atas surah taubah 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka”.

Juga surah az-Zariyat ayat 19: “dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”.

Maksud ayat ini adalah didalam harta kita ada zakat untuk orang miskin dan orang susah dhua’fa yang meminta-minta.

Sebenarnya antara zakat dan shalat itu seperti dua sisi mata uang, hal ini dibuktikan dengan ayat-ayat al-Qur’an yang selalu menyandingkan antara zakat dengan shalat dan shalat dengan zakat, demikian juga hadis-hadis Nabi saw yang cukup banyak tentang hal tersebut.

Ayat yang popular tentang akuntansi zakat ini ada dalam surah al-Baqarah ayat 265: “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai)”.

Juga dalam ayat 261: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah (zakat) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki”.

Tanya Jawab Ramadhan - Tribun Pekanbaru.com / Nasuha Nasution.

(tribun pekanbaru/nasuha nasution)

Penulis: Nasuha Nasution
Editor: Nolpitos Hendri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved